#Living At Japan

Saya pernah bikin hastag #LivingAtJapan di twitter. Isinya tentang sharing kebiasaan-kebiasaan hidup di Jepang. Tapi, cuma beberapa, dan sekarang enggak diterusin. Saya enggak telaten main twitter. Batas karakternya mengganggu saya. Hehe. Tapi yang mau liat, sok atuh follow twitter saya, @Kartika2606. Hahaha. *modus*

Anyway, postingan kali ini terinspirasi dari sebuah artikel di kaskus yang di-share teman saya di FB. Judulnya: 60 Kebiasaan Yang Terbentuk Ketika Kamu Hidup di Jepang, Tapi Tidak Akan Berlaku di Indonesia. Wow! Judulnya aja udah provokatif banget yak. Rajin bener tuh ngumpulin sampe 60 poin.πŸ˜›

Saya baca poin-poin pertama manggut-manggut, makin lama makin lama jadi pegel bacanya. Beberapa agak berlebihan sih, walaupun banyak juga betulnya.πŸ˜› Dan baca komen-komennya makin wow! Pro kontra itu biasa sih, tapi ya sedih juga ya kalo sampe dibilang enggak cinta tanah air, sampe ada yang ngusir si penulis dari Indonesia loh! Ouch! >_<

Baiklah, saya bahas beberapa aja ya. Kalau bahas semua, males ah. Lagian ntar pembaca juga pada kabur lagi saking ngantuknya.πŸ˜€

Poin no (1): 1. Lupa cara untuk mengunci pintu. Bahkan ketika kalian ingat, kalian tidak akan peduli.Emm… ini bener juga, dan terjadi pada saya. Jendela beranda apato rumah saya enggak pernah dikunci, walaupun kami sedang pergi. Pintu pun kadang enggak dikunci, dan kami bisa tidur di dalamnya dengan tenang sampai pagi.πŸ˜› *jangan ditiru yah*

Jepang memang relatif aman, tapi bukan berarti enggak ada kriminalitas. Beberapa bulan lalu, ada keluarga Indonesia di Nagoya yang tertimpa musibah. Apatonya dimasuki orang tak dikenal (entah mau merampok atau apa), padahal saat itu ada orangnya (ibu dan anak-anak). Si bapak kebetulan sedang tak ada di rumah. Alhamdulillah masih dilindungi Allah, dan si penjahat berhasil kabur. Kejadiannya lumayan bikin heboh newsfeed FB saya. Sejak itu saya mulai hati-hati soal kunci mengunci pintu ini.

Poin (4): 4. Tidak pernah mengunci sepeda ketika berhenti di suatu tempat untuk suatu keperluan. Tidak ada yang pernah dicuri meskipun meninggalkan barang bawaan di sepeda. Di Indonesia? Kalian harus siap beli sepeda baru.Ini juga kadang-kadang saya lupa kunci sepeda, dengan kunci sepeda masih nyantol di tempatnya. Bukan hanya sepeda, saya pun pernah lupa kunci motor!! Tu kunci masih nyantol, saya asyik melenggang ke supermarket. >_< Ini kalo ketauan papa Nisa, wuaah bisa diomelin saya. Hahaha.

Tapi bukan berarti enggak ada pencurian sepeda di Jepang. Banyak malah. Saya yang tinggal di kampung aja, ada kok kasus pencurian sepeda. Contohnya teman saya sendiri, ia kehilangan sepeda di KAMPUS!! Kampus sodara sodara! Laaahh, kok bisa? Ya bisa aja, wong sepedanya enggak dikunci. Hehe. Mana itu sepeda pinjeman dari kampus lagi. Oh! >_<

Poin (7):7. Membungkukkan badan ke semua orang termasuk ke orang asing. Di Jepang, sangat umum untuk membungkukkan badan.Ya, budaya ojigi atau membungkuk memang khas Jepang. Saat memperkenalkan diri, menyambut tamu, mengucapkan terima kasih, minta tolong, maaf, dll, semua membungkuk. Dalamnya bungkukan juga berpengaruh pada kedudukan orang tersebut, atau seberapa serius permintaanmu.

Misalnya waktu minta tolong, biasanya bilang onegaishimasu disertai dengan membungkuk. Kalau benar benaaaaarr minta tolong, bisa bungkuk sampe rukuk (90 derajat). Minta maaf juga gitu, kalo sampe benar benaaaaarr minta maaf, bukan rukuk lagi tapi bisa sampe sujud dah tuh.πŸ˜›

Poin ini nyambung ke poin (52) nih, 52. Merasa wajar ketika menerima bungkukan badan di tempat pelayanan umum.Kalau masuk ke pertokoan, restoran, atau tempat lainnya dan mendapati pelayannya atau petugasnya membungkuk pada kita, itu namanya pelayanan. Orang Jepang bangga dengan sistem pelayanan mereka yang begitu menghormati customer. Mereka menyebutnya omotenashi. Pidato tentang omotenashi ini pula yang kemudian membawa Jepang menjadi tuan rumah Olimpiade 2020 mendatang.πŸ™‚

Poin (20): *langsung loncat yaaaa* 20. “Sumimasen” jadi kata-kata yang umum diucapkan.Sumimasen itu bisa berarti minta maaf, permisi, terima kasih (atas bantuannya). Tuh, macem-macem kan. Ini termasuk kata yang wajib dihapal setelah arigatou dan konnichiwa. Hehe.

Orang Jepang paling enggak enak kalau merepotkan orang lain. Makanya setelah menerima kebaikan orang lain, kata ini sering diucap. Maknanya lebih dalam dari arigatou. Karena sumimasen bisa berarti terima kasih (telah merepotkan anda).

Kata gomen nasai yang berarti maaf juga sering diucap. Tapi ini agak informal sih (formalnya ya itu, sumimasen), atau cukup gomen ne. Kata gomen diucap bukan hanya saat kita bersalah. Tapi juga saat telah merepotkan orang lain, saat membuat orang lain menunggu, saat membuat orang lain tidak nyaman, dsb.

Btw, saya jadi terbiasa mengucap kata gomen ini ke Nisa juga. Saat memaksa Nisa mandi, gomen ne. Saat tidak bisa memenuhi keinginan Nisa, gomen ne. Bahkan saat berdesakan di kereta dan Nisa terjepit di dalamnya, gomen ne! Teman saya pernah menegur saya, “kenapa minta maaf, Tika? Kamu kan ga salah?”. DEG! Kalau dipikir, iya juga ya. Tapi maksud saya adalah bukan maaf karena saya salah, tapi maaf telah menempatkan Nisa pada posisi tidak nyaman (jadi sabar ya). Mudah-mudahan bisa dimengerti ya.πŸ™‚

Postingan tentang ‘maaf’ ini pernah saya tulis sebelumnya di sini.πŸ™‚

Poin (22):22. Tidak perlu membawa kertas tissue ketika pergi. Setiap toilet umum mempunyai kertas toilet.Ya, enggak usah bawa lah yaaa. Tapi biasanya saya bawa tisu basah. Toilet di Jepang itu kering. Bagi yang enggak terbiasa pasti enggak nyaman abis pipis cuma ‘dilap’ doang. Hehe. Saya mengakali dengan tisu basah. ^_^

Daaan sebagai catatan ya, kertas tissu toilet di Jepang itu enggak perlu dibuang di tempat sampah. Cukup buang cemplungin aja di toiletnya trus byurrr siram dengan air. Tissu ini akan hancur, jadi enggak bakal bikin toilet mampet. Ingat ya! Ting!πŸ˜‰

Udah ah, segitu aja. Yang lainnya baca sendiri ya. Sebagian besar yang ditulis di sana emang bener kok. Cuma cara penyampaiannya aja kali ya yang provokatif. Di Jepang bla bla bla, kalo di Indonesia bla bla bla. Bikin yang baca gondok pengen ngasah golok. Hahahaha. *piss*πŸ˜€

Jangan pada marah dong ah, *colek pipi*. Diambil positifnya aja, ditiru yang baik-baik. Jangan menghujat si penulisnya, bilang enggak nasionalis lah, ini lah itu lah. Hey, kadang orang-orang yang tinggal di LN itu malah lebih nasionalis loh. *piss lagi* *takut ditimpuk*

Kok di Jepang yang bagus-bagusnya aja sih, Jepang kan juga banyak jeleknya. Betul banget. Tapi, ketutup kali ya sama yang baik-baiknya. Lagipula media di sini jarang juga memberitakan yang jelek-jelek. Kalau di Indonesia? Ah sudahlah. *takut diusir saya dari Indonesia, hahaha*πŸ˜€

Baiklah, lain kali saya ceritain yaaaa. Sekarang sampai sini dulu. Udah pegel kan bacanya. Hihihi.

 

 

28 thoughts on “#Living At Japan

  1. Hehehe aku juga nggak bisa maen twitter mba. Wah ternyata di jepang banyak kehilangan sepeda yaa.. kalau di indo kehilangan sepeda bermesin hihihi

    1. Iya mbak syifna, suka senewen saya kalo pas ngetik di twitter trus karakternya ga cukup. hihihi.πŸ˜›
      Di Indo banyak curanmor ya.πŸ˜€ Kalo di Jepang, sepeda lebih populer dibanding motor mbak. ^_^

    1. Hihihi. Memang tinggal di kota besar di mana aja tuh tetep kudu waspada! Untung saya tinggal di kampung. Tapi tingkat kepekaan saya jadi tumpul nih. hiks.😦

  2. Seru deh baca tulisannya Mama Nisa… Cara penyampaiannya kayak saya lagi berhadapan ngobrol langsung hehe… Budaya di luar yang baik2 perlu kita tiru, kalo yang kurang baik ya disaring aja. Temen2 saya banyak juga yang tinggal di Jepang, yang sekolah lagi, yang nikah sama orang sana, yang kerja di sana, dll. Saya banyak sharing karna saya tertarik sama pola pikir, kebiasaan, kedisiplinan, sama pola hidup orang Jepang. Jaman dulu sama udah tertarik dari mulai anime, musik, dorama, sampe belajar (baru sedikit) bahasanya tapi *hiks! saya belum berkesempatan berkunjung ke negeri Sakura. Doain ya mak biar bisa liburan ke sana hehe…

  3. saya pernah bikin postingan ttg ikut seminar parenting Pak Arif Rachman. Pak Arif yang katanya punya banyak teman orang Jepang yang masih tinggal di negaranya, mengatakan kalau Jepang juga bukan negara sempurna. Sama lah kayak Indonesia dan negara lainnya, ada kekurangannya.

    Cuma bedanya, Jepang itu menutupi kekurangan. Mereka selalu memuji negaranya. Beberapa negara lain juga begitu. Kekurangan cukuplah mereka yang tau, sementara kelebihan biar seluruh dunia tau.

    Itu yang disayangkan dari Indonesia. Menurut Pak Arif, banyak dari kita termasuk media yang lebih sibuk menjelekkan negara sendiri. Sementara kelebihannya lupa di ekspose. Untuk hal ini kita belajar dari Jepang, yaπŸ™‚

    1. Iya bener kata mama nisa n mak myra, tiap negara pasti ada baik dan buruknya bedanya ya mana yang lebih suka kita ekspos.
      Thanks for sharing ya mak, bisa dipraktekkan nih kalo ntar saya ke Jepang, etapi kalo sepeda n apartemen seaman apapun tetep harus dikunci ya *kalo inget hehehe

  4. teman sya ada yg pernah magang di jepang.ada yg kerja di jepang n merit dgn wanita jepang.ada yg iktu suami ke jepang…dengar cerita mereka sy jd ingin ke jepang….semoga nti bisa kesampaian….biar bisa lihat segala kebiasaan org jepang hehehe..mana tau bsa ketemu mak dsana hehehe.. #ngayal

  5. Sayaaa suka banget sama Jejepangan, dan ngerasa pola hidup mereka yang teratur, rapi dan minimalis itu bagus banget. Iya sih agak susah membiasakan kebiasaan tertentu di Indonesia. hahaha. Yang pasti yg baik-baik diambil, yang negatif dibuang. Bener ka mbak ?.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s