#Living At Japan (2)

Saya udah janji kan ya, mau cerita lagi soal #LivingAtJapan. Daripada kelamaan dan ide di kepala keburu menguap, ya saya tuliskan aja sekarang.

Kok Jepang kayaknya bagus-bagus melulu yah, emang enggak ada jeleknya? Hmm… ada sih, ada lah. Segala sesuatu itu pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Tapi buruk bagi kita orang Indonesia, belum tentu buruk bagi orang Jepang. Dan sebaliknya. Tergantung perspektif masing-masing.πŸ™‚

Oke, enggak usah banyak basa basi, saya langsung aja ya.

index
credit

(1). Ijime (bullying). Pasti udah pada tau kan yah soal ijime ini. Yang sering baca komik atau nonton film dorama pasti ngerti nih. Hehe.

Ya memang masalah ijime ini udah jadi masalah sosial yang serius di Jepang. Korban ijime sampe meninggal atau bunuh diri banyak. Kadang guru dan orangtua enggak bisa berkutik. *anak-anak bisa sangat menakutkan* Hiiii…

Kedudukan senior-junior di Jepang sangat kentara. Ini juga bisa jadi pemicu ijime. Bahkan kadang pelakunya bukan dari siswa, tapi guru pun juga ada yang meng-ijime muridnya. *ini parah sih*

Bentuk ijime macam-macam. Kekerasan fisik, ejekan, dikucilkan, dll. Orang Jepang adalah masyarakat homogen. Mereka terbiasa sama satu sama lain, sehingga takut menjadi ‘berbeda’. Dan ini mulai dari anak-anak. Makanya sering juga anak-anak asing yang dapat perlakuan ijime, hanya karena ia berbeda dari teman-temannya.😦

Perlakuan ijime pun bukan hanya terjadi di lingkungan sekolah, di tempat kerja juga ada. Tapi mungkin presentasenya sedikit ya, karena mereka sudah dewasa, cenderung bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

(2). Pornografi. Di Jepang, pornografi itu legal, tapi prostitusi ilegal. Bisa bedain kan ya? Makanya di sini mah biasa aja jualan buku-buku dewasa dengan gambar yang ‘buka-bukaan’.

Tapi Jepang ketat banget soal batasan umur. Yang boleh baca buku-buku dewasa itu yang usianya diatas 18 tahun. Kalau masuk ke toko dan di dalamnya menjual buku/game ‘gituan’, biasanya ada ruangan khusus berpintu (atau bersekat) yang bertuliskan 18+.

Dan orang Jepang patuh loh. Kalau ada anak-anak yang berani masuk situ, mungkin diusir yah. Tapi saya yakin enggak akan ada yang berani masuk, karena mereka malu sih kayaknya.

Tapiii, yang bikin saya risih, komik-komik dewasa dipajang bebas di konbini (minimarket). Enggak pake sekat lagi. Semua konbini pasti ada, bercampur dengan majalah-majalah lain. Covernya asli bikin saya mual. Kalah deh sampul majalah playboy. *kayak pernah tau aja sampul majalah playboy kayak apa*πŸ˜›

Kalau saya masuk konbini, saya pasti menghindari corner majalah. Eh, tapi ada tuh bapak-bapak yang asik aja baca komik-komik syurr itu sambil berdiri. Kadang juga pake jas rapi. Kalau anak-anak sih saya enggak pernah liat.

Artis-artis Jepang berseliweran pake bikini di tv mah biasa. Kadang ada liputan tentang onsen ato pas adegan berenang di pantai, trus host-nya becandaan sampe celana melorot. *laki-laki tapi, dan biasanya komedian* *dan tentu saja disensor (di-blur) bagian ‘itu’ nya*. Biasa aja buat hahahihi penonton.

Patung-patung gambar cewek telanjang juga banyak. Di jalan, di taman, di kampus juga ada (at least kampus saya).πŸ˜›

Pijat ‘plus-plus’? Banyak. Di kota saya ada tuh, deket eki (stasiun). Pub pub yang menyediakan fasilitas ‘gembira’ juga banyak. Suami saya pernah tuh, tiap jalan keluar eki dan ngelewatin jalan itu kadang dipanggil-panggil disuruh masuk. ‘oniichan, oniichan, oide…’ (mas, mas, sini…). Hahaha. Menurut pengakuannya sih. *saya ga liat langsung*πŸ˜€

Loh, katanya prostitusi dilarang? Memang. Pijat ‘plus-plus’ itu bukan termasuk prostitusi kayaknya, mereka menyediakan wanita, bukan seks. Maksudnya? Ya wanita itu untuk menghibur aja, tapi dilarang melakukan seks. Kalau di luar itu mereka janjian dan chek-in ke hotel sih, lain soal. *ups, ngomongin apaan sih ini? anak-anak ga boleh baca yaaaa!*

Next!

credit
credit

(3). Stalker (penguntit). Berita tentang stalker ini serem di Jepang. Pernah saya nonton berita tentang artis yang dikuntit sampai ke dalam rumahnya!

Yang bikin heboh karena si artis ini meninggal karena dibunuh kalo ga salah. Lupa, udah lama banget sih nontonnya, waktu masih punya tipi. Hehe, sekarang tipinya almarhum, jadi ga update soal berita Jepang.😦

Tapi stalker ini bukan hanya menguntit artis-artis aja, orang biasa juga ada. Yah, namanya orang jahat. Bisa juga menimpa anak-anak, banyak juga kasus anak-anak yang diculik dan pulang-pulang tinggal nama. Hiks.

Makanya kalau ada orang yang mencurigakan di lingkungan sekitar, bisa lapor polisi. Kalau ada laporan tentang ini, biasanya sekolah-sekolah langsung waspada (SD dan TK). Biasanya akan ada selebaran dari pihak sekolah untuk orangtua murid yang meminta untuk berhati-hati dan selalu awasi anak-anak jika bermain di taman.

credit
credit

(4). Chikan (sexual-pervert). Biasanya di kereta-kereta yang penuh. Hati-hati akan tangan ‘jahil’ yang suka grepe grepe. Bisa juga di tempat-tempat sepi.

Saya pernah menemukan papan peringatan ‘chikan ni chuui’ (hati-hati chikan!) di jalan setapak menuju taman. Kalau sampai ada papan peringatan begitu kan berarti pernah ada si chikan di situ yak.πŸ˜›

 

credit
credit

(5). Mabuk. Sake dan alkohol legal ya di Jepang, jadi biasa dong nemu orang mabuk ini. Biasanya kalau naik kereta malam nih pasti sering ketemu orang mabuk, atau nyium bau alkohol dari mulut mereka. Ya, minum alkohol enggak boleh mengemudi di Jepang (walaupun belum sampai mabuk). Jadi, biasanya orang-orang Jepang yang abis minum minum pulangnya pasti naik kereta atau taksi.

Ternyata kalau kita ke kampus pagi-pagi banget, juga bakal nemu nih mahasiswa-mahasiswa mabuk. Mereka pada geletakan gitu di tangga-tangga kampus. *ini menurut sumber teman saya*. Ckckckck.

Kalau saya belum pernah ketemu langsung sama pemabuk. Pernah sih ikut acara minum minum (nomikai) bareng temen kampus. *saya minum ocha loh ocha!*πŸ˜› Tapi enggak pernah liat teman saya minum sampai mabuk.

credit
credit

(6). Dekichatta kekkon (married by accident). Seks bebas di Jepang itu biasa. Bahkan dilakukan anak sekolah sekalipun. Asalkan suka sama suka, itu bukan kejahatan. Mungkin hanya kenakalan remaja, dan itu menjadi tanggung jawab orangtua masing-masing, bukan tanggung jawab sosial. Tapi, kalau ada unsur pemaksaan yang mengarah pada perkosaan baru bisa dipidanakan.

Dan dekichatta kekkon ini sepertinya mulai banyak di Jepang. Mereka menikah setelah hamil. Bulan desember tahun lalu, salah satu teman saya di tempat baito (udah ibu-ibu sih) menikahkan anak laki-lakinya yang baru berusia 21 tahun. Dekichatta katanya, alias si pacar hamil duluan. Dan sekarang sedang menunggu kelahiran cucu pertamanya.

Waktu saya hamil dulu, di RS banyak ibu-ibu Jepang muda yang hamil juga. Saya taksir usianya paling masih 20~25-an (ga jauh beda sama saya, aih). Enggak sulit mengenali ibu muda ini, biasanya sih dari dandanannya. Check-up hamil dengan dandanan imut-imut ala lolita gitu juga ada. Hihihi. Kadang suaminya enggak kalah muda, ya bisa dilihat dari dandanannya juga sih.πŸ˜›

(7). Penipuan. Berita kriminal di TV Jepang juga ada loh, tapi enggak banyak kayak di Indo. Dulu saya pernah nonton tentang penipuan yang lagi marak. Penipuan lewat telepon. Korbannya biasanya orang tua – orang tua.

Si penipu mengaku teman anaknya atau bahkan mengaku sebagai anaknya dan sedang dalam kesulitan. Mereka meminta orangtua tersebut untuk mentransfer sejumlah uang. Padahal si anak baik-baik aja. Yah, modusnya mirip-mirip kayak yang pernah terjadi di Indonesia ya.

Ada juga penipuan tentang jasa pengiriman barang. Jadi si penipu berpura-pura sebagai kurir suatu jasa pengiriman, dan mengantar paket ke rumah korban. Si korban membayar sejumlah uang pembelian+ongkos kirim. Pas paket dibuka ternyata isinya hoax (bisa batu, bisa kertas-kertas koran, atau apa aja).

Saya setelah nonton itu jadi agak parno. Walaupun kecil kemungkinan menimpa saya sebagai orang asing. Penipuan lewat telepon, cukup bilang aja “nihongo wa tabemasen!” (saya ga ‘makan’ bahasa Jepang!). hahahaha. Eror kan?πŸ˜€

(8). Pencuri pakaian dalam. Hahaha. Saya enggak tau sih ini bener apa enggak. *belum pernah ngalamin* *knock wood*πŸ˜› Tapi, di komik-komik sering kan yah cerita tentang pencuri pakaian dalam ini. Dan saya juga pernah dapat peringatan dari teman saya, soal jemur underwear di luar. Jadi, kesimpulannya….?πŸ˜€

(9). Gokiburi alias kecoa! Yah, saya mengaku, rumah saya banyak kecoanya. Huhuhu. *bilang saya jorok* Tapi asli ini bukan karena saya malas bersih-bersih. (eemm… mungkin juga sih)πŸ˜›

Dan untuk memberantas si kecoa ini susah banget! Perlu diketahui, kecoa Jepang sama kecoa Indonesia beda. Kecoa Indonesia kan gede tuh yah, biasanya kalo ada di rumah paling satu dua, tinggal semprot, mati, udah beres! Tapi enggak begitu dengan kecoa Jepang.

Kecoa Jepang jenisnya beda. Kecil-kecil, dan buanyaaaakk! Kalau kamu nemu satu kecoa di rumahmu, hampir bisa dipastikan pasti ada temen-temennya, anaknya, cucunya, cicitnya, ibunya, bapaknya, mbahnya, tetangganya, banyaaak deh pokoknya. Huhuhu.

Semprot biasa enggak ngaruh. Berbagai semprot kecoa udah saya coba, obat-obat anti kecoa, semuanya, tapi hanya bersifat sementara, abis itu pasti datang lagi.πŸ˜₯ *setres*

Sebenarnya ini kecoa asalnya pindahan dari apato lama. Jadi, waktu papanya nisa masih single, dia tinggal di apato kecil. Yah, namanya juga bujangan, kerja dari pagi sampe malem, enggak sempet bersih-bersih, tempat sampah di dalem. Tau kan kalau sampah di Jepang itu enggak tiap hari dibuang? Ada jadwal hari-hari tertentu. Jadi ya, mungkiiin si kecoa pertama kali lahir ya dari situ. Sampai beranak-pinak. *jorok yak papa nisa*πŸ˜›

Setelah nikah sama saya dan saya tinggal di situ, saya rajin bersih-bersih. Tapi si kecoa ini susah dibasmi. Sampai akhirnya kami pindah apato.

Kesalahan fatal kami adalah kami membawa barang-barang lama dari apato lama ke apato baru. Barang-barang seperti kulkas dan mesin cuci, ini sudah terkontaminasi sama kecoa-kecoa tadi. Harusnya sih, teorinya, kalau mau pindahan, barang-barang yang kiranya sudah terkontaminasi kecoa dibuang aja! Atau cuci bersih dan JEMUR di terik matahari selama 2~3 harian, sampai telur-telur yang mungkin masih ada di sana mati dan hilang.

Nah, kami enggak melakukan itu. Cuma cuci bersih aja. *maklum waktu itu lagi puasa, dan persiapan melahirkan, jadi enggak kepikiran*. Tapi ternyata cuci aja enggak cukup, kudu dijemur katanya. Huhuhu. Jadilah apato baru saya juga ber-kecoa, ikut pindahan dari apato lama. Ouch! >_<

Untung saya orangnya cuek. Enggak geli-an sama kecoa, jadi ya biasa aja. Hahahaha. Kalo ketemu kecoa paling saya ambil tisu langsung ‘bungkus’ dan buang ato saya tendang menjauh. Hahahaha.πŸ˜€

Si Nisa nih yang takut. Hadeeuuh. Bisa heboh jejeritan dia kalo liat kecoa. “Gokiburi! Gokiburi!” sambil narik-narik saya minta gendong. *modus banget kan*πŸ˜€ Si papa Nisa berusaha memberikan afirmasi positif, “Gokiburi? Daijoubu. Kawaii deshou?”Β (Kecoa? Ga papa, lucu kan?). *halah*

(10) Hoomuresu (Homeless -gelandangan-) dan Yakuza (preman). Di Jepang juga ada loh gelandangan. Mereka beneran enggak punya rumah, dan tidur di mana aja. Di taman, di stasiun, di kolong jembatan. Jadi jangan heran kalau di taman atau kolong jembatan tiba-tiba nemuin tenda yang disampingnya biasanya ada jemuran baju, dan barang-barang lainnya. Itu adalah tempat tinggal non-permanen si homeless ini.

Konon katanya di kota-kota besar jumlah homeless ini banyak sekali. Ciri-ciri orang homeless pun cukup gampang dikenali. Penampilan kucel karena jarang mandi, sepatu kotor, membawa bungkusan besar yang entah apa isinya, dan biasanya suka ngomong sendiri (walau ga semua).

Enggak berbahaya sih, cuma kadang cukup mengganggu. Mengganggu pemandangan. Hihihi. ^_^; Homeless di Jepang ini benar-benar enggak ada kerjaan. Sebagian besar kerjanya cuma minum (sake) dan merokok. Ada juga yang kerjanya ke pachinko (judi) tiap hari.

Lah, trus mereka dapat uang dari mana? Kalau usianya sudah lanjut, kayaknya mereka dapat tunjangan dari pemerintah (semacam uang pensiun gitu kayaknya, enggak tau juga sih). :p

Kalau yakuza (preman), kayaknya udah pernah tau ya. Di komik-komik atau dorama pasti juga pernah cerita tentang yakuza. Saya sendiri enggak terlalu paham sih tentang ini. Dan belum pernah ketemu langsung *jangan sampe*.

Tapi, di kota saya yang sering saya temui adalah berandalan yang suka ngebut di jalanan dengan mengendarai motor dengan suara knalpot yang brmm brrrmm gitu (kayak bunyi motor kalo lagi kampanye di Indonesia).πŸ˜›

Apalagi ya? Udah panas kepala nih, mikir 10 poin aja udah kayak mikir skripsi *lebay*. Atau ada yang mau nambahin? Silakan komen di kolom komentar. Hehe. Udah pada pegel kan bacanya? Apalagi saya yang nulis eh ngetik. ^_^;

Tuh, saya adil kan nulis juga soal negatifnya Jepang. Sama lah, tinggal di mana pun pasti ada kelebihan dan kekurangan. Tergantung bagaimana kita menyikapinya. Tiru yang baik-baik aja, yang jeleknya jangan. Setuju, yes?πŸ˜‰

***

33 thoughts on “#Living At Japan (2)

      1. iya ampuh banget. cuman ditaruh di pojok2 rumah. dan efektif selama 6 – 12 bulan. udah ndak pernah jumpa gokiburi sekarang.πŸ˜€

  1. lanjutkan, ya. saya menyimak. ^_^ bahas muslim jepang juga, ya. dan beberapa islamic center di jepang.

      1. mama nisa, maaf kalau saya orang asing.. perkenalkan nama saya tiyas…
        sebenarnya saya kirim email ke aku_tika2606@yahoo.com..
        apa mama nisa jarang cek email?
        saya ada kemgknan ikut suami ke jepang…
        dan ada bbrp pertanyaan.. bisa bantu saya?

      2. Maaf Mbak Tyas, email yahoo saya memang ga pernah dibuka, lupa password. udah minta password baru, eh, ada question dari yahoo yg ga bisa saya jawab, jadi ya wassalam, ga bisa dibuka deh. hehe. Kalau Mbak Tyas mau kirim lagi, ke email gmail saya aja: karu2606@gmail.com. InsyaAllah yg ini aktif. Atau bisa lewat DM Twitter saya, @Kartika2606. Atau lewat FB juga bisa, di sidebar blog ini ada FB saya kan ya? Klik aja, nanti bisa inbox. :)Maaf ya Mbak.

  2. Ya ampyuuunn aku langsung keinget film kartun jman dulu,Ranma,inget ga?ada kakek2 yg hobby nya nyolong celana dalem cewek..ternyata byk ya disana….
    Nisa chan….tante jg gilo ma kecoa n blg ma papa ya,kecoa tu ga lucu blas :p

    1. iya, si kakeknya Ranma ya, suka nyuri pakaian dalam. ^_^;
      Hahahaha… iya tante nanti disampein ke papa nisa. tapi kecoa Jepang emang kecil imut imut tante. Hihihi.πŸ˜€

  3. Buatku yang kurang menyenangkan dari Jepang itu pajaknya yang tinggi! Mau potongan gaji kek, pajak penghasilan kek, pajak barang kek, semua tinggi ya. Hiks.

    1. hi, grace! jadi malu nih dikunjungi tetangga kariya. hehe. Ya, Jepang lagi butuh duit sih buat pembangunan (apalagi mau jadi tuan rumah Olimpic 2020), membiayai para lansia, jaminan sosial warganya, dll, sampai alokasi dana bantuan buat negara-negara berkembang termasuk Indonesia. *ini analisis pribadi yg ngasal, jangan percaya*πŸ˜›
      *pukpuk Grace* Harus irit duit belanja nih. Hihihi.

  4. Ada tau… pencuri pakaian dalam. Pernah banget ngalamin! Hehehe… jamannya sekolah & baito sampe di 2 tempat, kalau jemur pakaian bisa berhari-hari, lupa diangkat. Sadar2 udah ga ada pakaian dalem lagi di lemari. Trus pernah ketemu juga sama chikan. Malah sampe dikejar-kejar. Waktu itu malem, lagi asik pilih2 baju di tempat second hand sama temen cewek, ada cowok (masih muda) ngedeketin kita terus sambil mainin punya dia. Pas kita kabur keluar, dia ngejar pake mobil dong… Heeeuuu… kebut2an lah naek sepeda nya, untung nemu gang sempit. Selamat deh kita. Salahnya tempat belanja barang bekas nya sebelahan sama “Man Paradise” heeuuu, abis main dari situ kayaknya dia ya :p

    1. Salam kenal mbak afuria. makasih udah mampir dan meninggalkan jejak. Pengalamannya seru banget. ^_^ aduh, saya jg suka ninggal jemuran berhari-hari di luar, tapi untungnya ga ada yg ilang sih. :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s