Lupa Bilang “Maaf”

Saya, dan mungkin sebagian besar orang lain, mengucapkan kata maaf hanya pada saat melakukan kesalahan. Mengakui kesalahan dengan bilang maaf. Tidak ada yang salah dalam hal ini, justru adalah kebiasaan baik.

credit
credit

Tapi, setelah tinggal di Jepang, saya belajar mengucapkan kata maaf tidak hanya pada saat saya salah. Kata ajaib ini sama berartinya dengan kata terima kasih. Orang Jepang sering mengucapkan kata maaf saat membuat orang lain menunggu, saat membuat orang lain terganggu, saat membuat orang lain tidak nyaman, dll.

Ah, itu sih biasa. Memang seharusnya seperti itu, kan? Bukan cuma orang Jepang aja kok. Tapi, bagaimana jika kata ini diucapkan pada anak kecil, atau bahkan pada bayi yang baru lahir? Jawaban saya adalah luar biasa.

Meminta maaf pada orang lain, pada orang yang lebih tua, pada orang yang lebih tinggi jabatannya, rekan sekerja, teman, dll, memang biasa. Namun saya belajar mengucapkan kata itu pada Nisa. Bocah usia 1 tahun yang mungkin belum mengerti arti kata maaf.

Berawal dari saat Nisa baru lahir. Saat suster di RS mengganti popok Nisa, ia meminta maaf terlebih dulu. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali, walaupun hanya dijawab Nisa dengan tangisan. Nisa umur beberapa bulan, saat diajak jalan-jalan keluar dan bertemu orang Jepang, Nisa selalu menangis. Orang Jepang itu lalu meminta maaf pada Nisa. Maaf ya, membuatmu takut. Waktu Nisa sakit dan dibawa ke dokter, sebelum memeriksa, dokter selalu bilang maaf. Maaf ya, membuatmu tidak nyaman, ini hanya sebentar, bertahan ya. Dan masih banyak lagi.

Saya jadi tertegun. Saya sebagai ibunya justru jarang meminta maaf pada Nisa. Saat Nisa nangis minta peluk sedangkan saya sibuk, saya hanya bilang, iya sebentar ya, sabar ya, nanti dulu. Tidak ada kata maaf dari bibir saya.

Saat Nisa habis mandi dan kedinginan waktu dipakaikan baju, saya juga lupa bilang maaf. Saat Nisa sakit demam tinggi dan rewel, waktu saya kasih obat penurun panas lewat duburnya, saya hanya bilang, sabar ya sayang, tahan ya, lagi-lagi tidak ada kata maaf.

Bahkan saya pernah kelepasan memarahi Nisa, tapi setelahnya saya lupa meminta maaf! Ibu macam apa saya ini?😦

Maaf ya, Nak. Mama sering lupa kalau kamu juga manusia yang harus dihargai. Walaupun masih bayi, bukan berarti Mama bisa melakukan apa saja terhadapmu seenaknya tanpa memperhatikan kenyamananmu. Maaf ya, sayang. Mama masih belajar. Tolong ingatkan Mama, ya.

 

 

12 thoughts on “Lupa Bilang “Maaf”

  1. Kalau kami dah dibiasakan sama almh. mamak dulu baik sama orang gede atau anak kecil ttp minta maaf. skrg jd kebawa, sama suami sndiri pun kalau mau minta tolong ambil apa, pasti minta maaf dulu. “abang maaf ya, boleh tolong ambil ini. makasih”. sampe tetangga selalu nertawai klo dengar. ntah apa yang mereka tertawakan. mungkin bagi mereka hal itu aneh ya scara mereka sudah terbiasa tak minta maaf, ucap berterima kasih atau berkata tolong.πŸ˜€

  2. bahasannya menarik mama nisaπŸ™‚
    saya sendri juga sangat tertarik dengan budaya jepang saya pun sangat menikmati film2 jepang karena sangat begitu menarik dengan keunikannya dan cerita yang keren.. gomenπŸ™‚

  3. Maaf ya nisa, tante juga gitu. Terkadang ketika tante marah-marah sama Faiz, karena melakukan hal tidak baik, setelah itu tante pingin Faiz, bilang maaf ke tante. Nah, ketika tiba-tiba tante enggak bisa kasih apa yang Faiz ingin beli, tante cuma bilang “belum bisa dibeli, nabung dulu ya Nak”. Nah postingan mama nisa kali ini, tante jadi berpikir, kenapa enggak bilang “maaf ya, Nak….”ouuuughhh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s