cerita mama

Mengajarkan Anak Berislam di Jepang

Haiii….. apa kabaaar? Maaf yaaa. Berasa lama banget nggak nulis blog. Tapi saya tetep update kok. Bagi yang follow saya di Instagram, pasti tau saya updatenya di sana. Hihihi. Emang akhir-akhir ini lagi males nulis panjang panjang. Dan si laptop lagi dikuasai si kakak buat nonton yutub, jadi lah malasnya semakin menjadi-jadi. Halah. Kalau di IG kan bisa update dari hp n nggak perlu nulis caption panjang panjang. Hahaha. Kalau yang belom follow, boleh banget looh follow —> @kartika2606  (*modus) 😁

Sekarang cerita apa ya? Ini aja deh. Beberapa waktu lalu saya dapat inbox dari teman. Baru kenal. Beliau bilang katanya mau pindah ke Jepang ikut suaminya yang kerja di sini.

Sebenernya saya sering dapat inbox seperti ini. Tanya tanya seputar hidup di Jepang, dan lain sebagainya. Tapi si mbaknya ini galau soal pendidikan anaknya nanti. Bukan, bukan meragukan Jepang dalam hal pendidikan. Tapi lebih ke khawatir nggak bisa memenuhi pendidikan rohani anaknya. Takut si anak nggak bisa ngaji, dan nggak dapat lingkungan yang islami.

Wajar yaaa. Namanya juga mau pindah ke negara mayoritas non muslim, pasti banyak yang dikhawatirin. Soal makanan halalnya, soal bagaimana penduduk lokal memandang muslim, sampai soal lingkungan yang nggak islami. Kita yang dari kecil sudah biasa menjadi mayoritas, nggak ngerti rasanya jadi minoritas. Bagaimana harus adaptasi, dll.

Kebetulan materi kajian beberapa waktu lalu juga membahas tentang mendidik anak secara islami di negara minoritas muslim. Saat sesi diskusi kita sibuk membahas tentang sistem sekolah islam di Indonesia, bla bla bla, sampai ustadzahnya bilang ngapain kita ngebahas itu, semuanya nggak ada di sini! Jleb!! Hahaha… 😂

Ada sih, di Tokyo sana sekolah islam internasional. Tapi ya kan nggak mungkin kita nyekolahin anak jauh bener di Tokyo, tinggal misah sama bapaknya yang kerja di kota berbeda?

Jadi, gimana solusinya dengan kondisi kita sekarang yang nggak ada sekolah islami dan lingkungan pun tidak ‘islami’? Mau nggak mau orangtua harus memberdayakan diri!

Di Indonesia, kita terbiasa ‘mengirim’ anak belajar ngaji di TPA, ke para ustadz/ah, belajar islam ke sekolah sekolah islam. Begitu merantau ke tempat jauh, apalagi tempatnya di sana jauh dari masjid, ga ada ulama, dan lain sebagainya, kita bingung. Siapa yang akan ngajarin anakku nanti?

Saya pernah baca notes-nya bu Sarra Risman. Tau dooong siapa beliau. Beliau sejak kecil hidup berpindah-pindah kota dan negara. Bagaimana cara orangtuanya mendidik mereka menyesuaikan diri dengan lingkungan tanpa harus lebur dengan budaya setempat? Jawabnya, “orang tua saya memutuskan untuk membesarkan kami agar dapat hidup benar secara agama, sehingga di manapun kami dibawa oleh angin kehidupan, fisiknya saja yang ada di sana, imannya tetep intact dalam jiwa. Tidak perduli saya berteman dan bersekolah di mana, di cemplung dalam lingkungan seperti apa, Allah saya tetap ada bersama saya di manapun saya berada.” —> penggalan yang saya kutip dari notes beliau.

Tapi gimana kalau sayanya begini? Mamah muda (ciee muda) yang nggak pinter ngaji, ilmu agama pas-pasan, kadang (sok) sibuk sama urusan sendiri. Boro boro menjadikan anak sholeh/ah, men-sholehah-kan diri sendiri aja susah. 😭

Itu tadi, saya sebut di atas. Mari berdayakan diri. Nggak ada kata terlambat untuk belajar. Di Jepang ini, ada banyak perkumpulan orang-orang Indonesia yang peduli. Mereka membentuk kelompok kelompok belajar (pengajian) untuk ibu ibu atau bapak bapak. Tak lain dan tak bukan supaya para orangtua bisa mendidik sendiri anaknya.

Saya simpulkan ya poin poin yang bisa dilakukan orangtua. Ini berdasarkan sharing sharing pengalaman para senior di Jepang. Semoga bisa ditiru.

  1. Pertama tentu saja ciptakan suasana islami di rumah, seperti ajak anak sholat berjamaah, doa sehari hari, adab adab islam, dll. Anak adalah peniru ulung, jadi pengajaran terbaik adalah dengan memberi contoh yang baik.
  2. Ajak anak ke masjid atau kajian kajian islam. Walaupun kajiannya untuk orangtuanya, paling enggak, si anak terbiasa kumpul dengan sesama anak muslim lainnya. Selain itu, di masjid biasanya ada program mengaji untuk anak2 (biasanya tiap weekend). Gurunya bisa imam masjidnya sendiri. Bahkan kata teman saya, masjid di dekat rumahnya ada program tahfidz untuk anak. Untuk tahfidz qur’an dilakukan tiap hari sepulang sekolah (sore hari). Kalau yang hanya bisa datang weekend saja, hanya hapalan doa doa saja. Keren kan. Tapi kalau misalnya mau mengajari sendiri anaknya di rumah juga silakan.
  3. Selalu ajak ngobrol dan diskusi anak tentang agama. Tentang makanan halal misalnya. Ada saat dimana anak nggak bisa makan makanan yang dipengenin. Kasih tau aja alasan kenapa nggak boleh makan, ada bahan haramnya, dalam islam nggak boleh makan ini itu. Ada kalanya anak ngambek, cemberut, nangis. Tapi lama kelamaan dia akan ngerti dan terbiasa. Tentang kewajiban puasa, menutup aurat, dll.
  4. Persiapkan mental anak untuk menjadi berbeda. Karena anak kita memang beda. Dan munculkan sesuatu yang dikuasai anak. Kalau kata anaknya guru saya, “dilihat dari mana pun saya ini beda dari anak jepang. Warna kulit beda, mata beda, wajah beda. Makanya saya ingin munculkan sesuatu yang lebih dari mereka. Saya belajar keras supaya bisa lebih pintar dari mereka.” 😍 MasyaAllah ya.
  5. Selalu konsultasikan kondisi anak kita dengan pihak sekolah. Misalnya minta ijin membawa bekal makan siang sendiri karena nggak bisa makan menu sekolah, minta ijin memakai jilbab untuk anak perempuan, ijin menggunakan ruangan kosong untuk sholat, dll. Pihak sekolah tidak akan melarang insyaAllah.
  6. Terakhir adalah doa. Selalu lah berdoa untuk anak anak kita. Semoga menjadi anak sholih/ah dan istiqomah. Kita hanya bisa berusaha, Allah lah yang memberi hidayah, Allah lah yang memberi pertolongan. Semoga dimudahkan.

Mengutip lagi dari kalimat Ibu Sarra Risman, “anak yang memiliki pijakan kokoh dan jelas, akan tampak (dan merasa) berbeda dengan yang lain di lingkungannya, seperti hadits ‘ghuraba’ yang banyak kita dengar itu, karena memang mereka seperti orang aneh dan asing. Tapi tujuannya bukan saja membuat anak berani menjadi asing, tapi bertahan dan bangga dengan ke’asing’annya yang benar. Targetnya adalah bukan hanya anak yang sanggup memegang ‘bara api’, tapi nyaman dengan ‘bara’ yang di pegangnya.”

Dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah bersabda, “Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali terasing seperti semula, maka beruntunglah orang-orang yang terasing”
“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Ya Allah… Ya Rahman… mampukanlah kami dalam mendidik anak-anak kami (titipanMu) sesuai fitrah Mu.

 

***

img_2876

Mama : Nisa, kalau masuk SD nanti mau pake jilbab?

Nisa : Boleh. Tapi kalau lagi lari boleh dibuka ya. 😂😂😂

 

“Alloohumma Laasahla Illaa Maaja’altahu Sahlaa, Wa Anta Taj’alul Hazna, Idzaa Syi’ta Sahlaa.”

“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali sesuatu yang Engkau buat mudah. Dan segala kesedihan dan kesulitan, bila Engkau kehendaki, pasti akan menjadi lebih mudah.”

 

***

Kariya, 10 Mei 2017

Advertisements

2 thoughts on “Mengajarkan Anak Berislam di Jepang

  1. Pas bgt baca ini lg galau soal masalah ini.. iya memang kitanya sendiri sebagai orang tua yg harus lbh berusaha dan lbh baik lagi terutama dlm hal beragama islam di negara Jepang ini.. semoga kita selalu bs istiqomah menjalankan kewajiban kita untuk bisa mengajarkan anak agama Islam yg baik dan benar untuk anak2 kita.. aamiinnn allahumma aamiinnn..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s