cerita mama

Sekolah di LN dengan beasiswa atau biaya sendiri, mana yang lebih hebat?

A : wah, mbak, di Jepang kuliah pake beasiswa apa?

B : biaya sendiri.

A : eh? kenapa kuliah di sini pake biaya sendiri? Saya sih ga mau kuliah di sini pake uang sendiri. Cari beasiswa lah.

B : karena saya orang kaya!

Hahahahaha. Sebenarnya, percakapan di atas adalah cerita teman saya. Ia mahasiswi S2 di Jepang. Dan saya tahu betul ia bukan orang yang berlimpah harta. Hanya ingin membungkam mulut usil temannya.

Jadi begini duduk permasalahannya. Bagi orang Indonesia, bisa sekolah di luar negeri dengan beasiswa itu keren ya? Betul? Ada prestige tersendiri menyandang gelar penerima beasiswa anu, beasiswa inu, atau beasiswa ono. Orangnya pasti pinter banget. Karena berhasil mengalahkan ratusan atau bahkan ribuan pelamar lain beasiswa tersebut. πŸ˜‰
Nggak salah. Memang pinter kok. Dia adalah orang pintar yang mendapat kesempatan emas menimba ilmu di negeri orang. Tapi, bagaimana nasib ribuan orang lainnya yang tersingkir? Mereka mempunyai cita cita yang sama, apa nggak boleh dapat kesempatan yang sama?

Boleh banget. Gimana caranya? Ada yang bukan berasal dari keluarga yang tajir melintir. Bisa saja, asal mau kerja keras. Memang awalnya membutuhkan modal yang besar. Jangan tanya gimana caranya dapat modal yang besar itu. Pikirin sendiri ya. Hihihi. πŸ˜€

Kuliah dengan biaya sendiri bukan berarti bodoh. Lah, kan sama sama pake ujian masuk. Kalau bisa lulus, berarti pinter doong. πŸ˜€ Pihak universitas sih nggak peduli mau beasiswa atau biaya sendiri, yang penting bisa bayar kuliah. πŸ˜›

Kuliah dengan beasiswa, ia nggak pusing soal biaya hidup dan biaya kuliah. Tugasnya hanya fokus belajar. Tapi tentu saja ia harus memberi kontribusi pada si pemberi beasiswa. Kuliah dengan biaya sendiri lebih bebas, karena ia nggak bertanggung jawab pada siapa pun atau instansi apa pun. Tapi ia harus kerja keras untuk mendapat pemasukan untuk biaya hidup dan biaya kuliah. Pikiran, waktu, dan tenaganya harus terbagi antara belajar dan bekerja. Tapi, ia mendapat pengalaman berharga. Dunia kerja tentu saja beda dengan dunia kampus. Dari situ ia bisa merasakan langsung budaya setempat.

Emang penerima beasiswa nggak boleh kerja? Boleh. Eh tergantung kebijakan perusahaan yang ngasih beasiswa sih. Ada loh yang nggak memperbolehkan kerja tambahan.

Yah, detilnya saya nggak tau sih karena saya bukan mahasiswi, cuma ibu rumah tangga biasa yang pernah dicurhatin sama mahasiswi beneran. πŸ˜‚

Jadi, mau sekolah di luar negeri dengan beasiswa? Silakan. Atau dengan biaya sendiri sambil bekerja? Nggak ada salahnya. Atau dibiayai orangtua? Ya monggo…

Semuanya hebat dengan kelebihan dan kekurangannya masing masing tanpa harus nyinyir satu sama lain. Setuju yes?

 

 

Advertisements

7 thoughts on “Sekolah di LN dengan beasiswa atau biaya sendiri, mana yang lebih hebat?

  1. Mba tika, kira kira klo biaya sendiri, kerja sampingan cukup ngga buat biaya harian? Anak Saya pengen banget kuliah di jepang, tapi ngarepin beasiswa sih mustahil lah kemampuannya biasa Saja… Makasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s