cerita mama

Drama Melahirkan yang Kedua

Alhamdulillah putri kedua saya lahir dengan selamat tanggal 27 Desember 2016. Karena proses sesar, satu hari sebelumnya yaitu tanggal 26 Desember sudah disuruh nginep di RS. Semua persiapan sudah disiapkan sebaik-baiknya, termasuk siapa yang jagain Nisa karena papanya masih kerja sampai tanggal 28.

Tanggal 27 pagi, papa nisa sengaja ambil cuti dan datang nemenin ke RS bareng Nisa. Jam 9 pagi saya masuk ruang operasi sambil diantar anak dan suami, sempat dadah-dadah juga. ๐Ÿ˜€ Satu jam kemudian, anak saya lahir dan selesai.

Trus di mana dramanya? :p

Sebenarnya drama sudah dimulai beberapa hari sebelum operasi. Tepatnya tanggal 23 Desember saat kontrol hamil terakhir, dan di USG, berat janin saya kecil sekali. Hanya 2200 sekian gram. Penambahannya sedikit sekali dari berat dua minggu sebelumnya. Padahal saya sendiri sudah naik 2 kilo dari dua minggu itu. Sengaja memperbanyak makan karena tau janin saya kecil. Tapi entah kenapa hasilnya malah ke emak semua, anaknya nggak kebagian. >_<

Pulang dari kontrol hamil itu saya sudah galau. Karena saya sudah tau resikonya melahirkan bayi berat rendah. Karena Nisa pun dulu begitu. Ya Allaaah, kenapa Kau berikan lagi cobaan yang sama pada hamba? Saya sempat ngomel sama suami. Lahh, kalau dipikir emang suami salah apa ya. Ya nggak papa lah, namanya juga lagi mellow.

Setelah berdamai dengan hati, saya siapkan lagi mental saya yang sempat down. Saya tau ini akan jadi sepuluh hari yang panjang dan melelahkan. Jadi ibunya harus setrong. Bismillah.

Melahirkan caesar di Jepang

Ini kali kedua saya sesar di Jepang. Bedanya sekarang sudah terjadwal. Sesar yang sudah terjadwal alias bukan yang dadakan, biasanya satu hari sebelumnya sudah harus menginap di RS. Satu hari itu akan dilakukan NST atau periksa denyut jantung janin, tes darah ibu, dan pasang infus. Eh, tapi saya baru dipasang infus esok paginya ding.

Sesar di Jepang itu harus nginep 8~10 hari di RS. Kalau normal 4~5 hari, jadi nggak bisa pulang ‘cantik’ ala Kate Middleton beberapa jam setelah melahirkan itu yaaa. ^^

Sepuluh hari?? Ngapain aja sepuluh hari di RS? Emm… banyak. Pasti si ibu dirawat, dilayani, dan diperhatiin ya sampai bener-bener pulih? Err… nggak seperti yang dibayangkan juga sih.

Sekitar pukul 9 pagi saya masuk ruang operasi. Sendiri aja, suami nggak boleh masuk. 50 menit kemudian, akhirnya bayi saya lahir. Nggak bisa langsung room in karena harus masuk ruang perawatan alias nicu. Pasalnya selain berat bayi rendah yang hanya 2230 gr, denyut jantung bayi juga sempat dibawah 100 (normalnya di atas 100 –> saya nggak tau ini istilahnya apa) jadi sempat diresusitasi. Ini memang salah satu resiko bayi lahir berat rendah (bblr). Untung sebelum dibawa ke nicu, saya sudah sempat towel towel pipinya. Beda dengan kakaknya dulu yang langsung masuk inkubator karena kondisi yang tidak memungkinkan.

Sementara itu, pasca operasi, saya harus bedrest pemulihan obat bius. Uniknya di sini, pasien pasca sesar, dipasang semacam alat ‘pijat’ kaki untuk mempercepat pemulihan. Lumayan, daripada sewa tukang pijet atau nyuruh suster buat mijetin. :p Terbukti dalam waktu kira-kira 12 jam pasca operasi kaki saya sudah bisa bergerak dan saya juga sudah bisa miring kanan kiri (pelan pelan yaa). Tapiiii…. alat ini sungguh bikin saya senewen. Apalagi saya harus pakai alat ini sampai esok paginya, sekitar 18-19 jam. Nggak nyaman bangeeet. Belom sakit di perut bekas jahitan dan normalisasi perut. Rasanya pengen copot sendiri trus melarikan diri. Haha.

Alhamdulillah saya bisa tahan untuk nggak ‘gila’ sampai besok paginya. *lebay* ๐Ÿ˜€ Segera setelah si ‘alat pijat’ dicopot, saya coba duduk. Rasanya luarr biasa lega. Tapi belum boleh makan. Haiyaaa…

Sekitar pukul 10 pagi saya belajar jalan dengan berpegangan tiang infus. Belajar pipis sendiri di toilet, abis itu cuss ke nicu tempat bayi saya dirawat. Beda dengan 5 tahun lalu, jaman Nisa, sekarang ruang nicu ada di lantai 3, sedangkan ruang inap saya di lantai 4 kakaaaa. Awalnya saya disarankan pakai kursi roda saat diantar suster ke sana. Tapi melihat saya yang ‘gigih’ belajar jalan, suster nanya apakah saya mau coba jalan sampai lantai 3? Wooghh… mau mencoba kemampuan emak?

Puji syukur melihat bayi saya sudah keluar inkubator. Tapi masih infus dan selang di hidung. Kecil sekali. Yosh, misi saya selanjutnya adalah menaikkan berat badan si bayi selama 8 hari ke depan (sisa waktu rawat inap saya). Syaratnya berat bayi harus mencapai 2300 gr saat keluar RS.

Tiap 3 jam sekali selama 24 jam saya pergi menyusui. ASI saya alhamdulillah sudah keluar, dan bayi saya mendapat kolostrum yang berharga. Tapi yah karena RS tempat saya inap ini nggak pro pro amat ASI ekslusif, jadi saya disuruh tambah formula. Dan karena formula di RS nggak bisa diminum alias nggak halal, akhirnya saya beli sendiri formula yang bisa diminum bayi saya.

Hari ketiga pasca lahir, alhamdulillah infus sudah dilepas, dan besoknya selang di hidung pun dilepas. Harusnya setelah itu sudah bisa room in bareng saya, tapi kata dokter karena berat bayi yang masih turun, ditunggu sampai naik dulu baru boleh.

Saya sendiri? Alhamdulillah proses pemulihan saya terbilang cepat dibandingkan jaman Nisa dulu. Hari kedua pasca operasi, infus saya sudah dilepas dan saya sudah bisa jalan seperti biasa walaupun masih pelan pelan. Rasa sakit di perut juga sudah jauh berkurang. Entah ini apa karena pengaruh saya yang bolak balik ruangan-nicu terus, jadi lebih banyak bergerak sehingga mempercepat proses pemulihan.

Hari ketiga pasca lahiran, ASI saya mulai banyak. Tiap menyusui saya rutin pompa. Seberapa pun hasilnya saya serahkan ke suster. Hari keempat, kelima, tabungan ASI saya mulai banyak. Sekali perah bisa dapat 20-30ml, dikali 8 kali saya pergi menyusui, jadi dalam sehari saya bisa nabung 160-240ml ASIP). Jadi nggak perlu tambahan formula lagi kata suster, alhamdulillah…

Sebenarnya saya sudah optimis berat bayi akan naik cepat melihat ASI saya melimpah. Tapi nyatanya malah turun padahal sudah hari keenam pasca lahiran, dan tinggal 2 hari lagi jatah inap saya. Jelas saya panik. Saya nggak mau keluar RS sendirian sedangkan bayi saya tidak. Setengah memaksa, saya minta suster untuk bilang ke dokter agar membolehkan bayi room in dengan saya. Saya bilang, saya sudah ‘berpengalaman’ dengan Nisa dulu. Nisa dulu bisa room in di hari keempat kalau nggak salah, dan berhasil menaikkan berat badan sampai lebih dari 2300 gr saat keluar RS.

Akhirnya dokter kasih lampu hijau. Baby bisa room in. Tapi waktu saya tinggal 2 hari, dan saya harus menaikkan berat bayi kurang lebih 130 gr. Di situ saya merasa hopeless. Tapi saya nggak boleh putus asa. Saya setting lagi hati saya supaya lebih ikhlas. Saya ikhlas bayi saya dirawat lebih lama jika nantinya usaha saya yang sudah maksimal ternyata nggak berhasil. Saya bersyukur bayi saya sehat. Itu dulu. Abis itu minta doa. Dari orangtua, kerabat, dan sahabat. Saya percaya kekuatan doa bisa menciptakan keajaiban.

Selanjutnya saya ubah pola menyusui saya. Yang tadinya terjadwal tiap 3 jam, sekarang dimepetkan jadi tiap 2 jam sekali atau semau bayi. Saya susui bayi saya satu payudara sampai ‘kosong’ supaya dapat hindmilk (yang mengandung banyak lemak) baru pindah ke PD satunya. Atau kalau bayi terlihat ngantuk, saya perah dulu ASI foremilk baru saya susukan supaya bayi dapat hindmilknya walau hanya menyusu sebentar. Saya bersyukur pengetahuan ini saya dapat dari hasil baca baca seputar ASI dulu jaman Nisa dan masih melekat.

Melahirkan normal ataupun sesar, ibu-ibu di sini tetap harus menyusui bayi di ruang menyusui dan dicatat tiap kali penambahan berat badan bayi di selembar kertas yang sudah dikasih suster dan dikumpulkan tiap pagi. Jadi, tiap akan menyusui bayi ditimbang dulu, setelah menyusui bayi ditimbang lagi dan dicatat berapa gram bertambahnya. Menyusui di kamar sendiri nggak boleh apa? Boleh, tapi karena di kamar nggak ada timbangan, ya mau nggak mau harus ke ruang menyusui kalau mau nimbang.

Dan ruangan menyusui ini bisa jadi tempat sosialisasi sesama ibu-ibu yang dirawat, karena di kamar dibatasi tirai-tirai jadi sulit ngobrol.

Ibu-ibu di sini mandiri, atau ‘dipaksa’ mandiri karena memang sistemnya di sini ‘melayani diri sendiri’. Untuk kamar yang bukan vip, biasanya satu kamar terdiri dari 4 bed yang masing-masing disekat tirai tinggi, jadi cukup menjaga privasi. Keluarga tidak boleh menginap (kecuali kamar vip –> ini pun tergantung RS). Jadi selama 10 hari di RS saya tidur sendiri. Kebetulan orangtua juga nggak bisa datang dari Indonesia. Alhamdulillah-nya lahiran kali ini pas sama libur tahun baru. Jadi suami libur, bisa jagain Nisa selama di rumah.

Makan 3 x sehari dan diantar ke kamar masing-masing. Tapi setelahnya, kita sendiri yang beresin bekas makan kita dan taruh di tempat kotor yang sudah disediakan di kantin. Ini nggak wajib sih, tapi kesadaran aja. Karena semua ibu-ibu sini ngelakuin sendiri, otomatis saya juga jadi ‘ngikut’. Kamar mandi ada dua (shower dan ofuro ) dan digunakan bersama sama. Kalau mau mandi harus ngisi daftar antrian dulu berdasarkan jam. Mesin cuci juga disediakan bagi yang ingin mencuci baju kotor. Mesin cucinya pake koin. Sekali cuci 100 yen, langsung kering. Praktis.

Kelas kelas seputar mengurus bayi juga dilakukan selama satu minggu ini. Seperti kelas cara memandikan bayi, kelas menyusui (sekalian promosi susu formula –> iyes, RS ini juga ada kerjasama sama produk sufor), kelas penjelasan saat sudah keluar RS, dll.

Begitulah kegiatan selama 5 atau 10 hari di RS. Cukup ‘sibuk’ ya?

Oke, balik lagi ke bayi saya. Keputusan bayi saya bisa pulang bareng dengan saya atau tidak, diputuskan hari H saat kepulangan saya, tanggal 4 Januari lalu. Qadarullah, berkat kekuatan doa, berat bayi saya naik sampai 2292 gr dari yang tadinya 2178 gr dua hari sebelumnya. Walaupun belum mencapai 2300 seperti yang disyaratkan, tapi dokter membolehkan pulang dengan pertimbangan kenaikan yang begitu pesat. Alhamdulillah…

Yang lucu lagi, pas pulang, karena RS masih liburan, jadi administrasi juga masih libur. Kita disuruh pulang dulu, nanti tagihan RS dikirim ke rumah. Kalau di Indonesia mana bisa begini yak, pulang tanpa harus ninggal KTP. Hehe…

So, welcome home anak mama yang cantik, Annasya Bia Setiawan. Sholihah dan sehat selalu ya sayang. ๐Ÿ™‚

dsc_0031

Advertisements

9 thoughts on “Drama Melahirkan yang Kedua

  1. wihhh 2 anak lahir jepang semua,…hehheeee selamat mba tika,..sehat2 selalu bia chan,eehh nisa chan nya seneng banget deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s