Kakek Zabon dan Pohon Kesemek

1Saya selalu kagum dengan cerita anak. Ceritanya sederhana, tapi kenapa bisa menarik ya? Kalau baca, ahh begini doang, giliran coba buat sendiri susahnyaaaa. Hahaha. Makanya angkat topi deh buat para penulis cerita anak.๐Ÿ˜‰

Bacaan saya waktu kecil dulu adalah cerita anak bergambar seri dongeng dunia. Macam Cinderella, Putri Salju, Peterpan, Gadis penjual korek api, dll. Selain ceritanya, tentu saja saya tertarik sama gambarnya. Hehe.

Nah, bacaan Nisa sekarang, buku buku bergambar bahasa Jepang. Bukan dongeng Jepang sih, tapi lebih ke cerita sehari-hari.

Ini salah satu cerita favorit saya dan Nisa. Sudah sekitar satu bulan ini saya bacain buku ini menjelang tidur. Nisa sekarang kalau dibacain buku udah bisa menyimak, anteng dengerin saya. Kalau dulu, Nisa suka nggak sabaran, belum selesai dibacain satu halaman udah loncat minta balik ke halaman selanjutnya, sambil terus ditanya tanya, “ini apa? Ini apa?”. Hadeeh, bubar jalan deh dongengnya. Hihihi.๐Ÿ˜€

Saya coba terjemahin ya. Silakan buat bahan dongeng anak-anak menjelang tidur. Judul aslinya: Zabon jiisan no kaki no ki (ใ–ใผใ‚“ใ˜ใ„ใ•ใ‚“ใฎใ‹ใใฎใ๏ผ‰. Ditulis oleh Satou Asae sensei. Dan ilustrator: Orio Kyoko sensei.

***

2-horzPohon kesemek milik kakek Zabon sangat manis.

Tetapi, kakek Zabon selalu memakannya sendiri.

Kakek Zabon makan dengan lahap di depan anak anak sambil berkata, “aa… buah kesemek yang manis. Pohon kesemekku yang berharga. Siapa yang berani mengambilnya?”

Anak anak hanya bisa melihat sambil gigit jari.

4Suatu hari, seorang nenek pindah ke sebelah rumah kakek Zabon. Nenek Maa namanya.

Nenek Maa pergi ke rumah kakek Zabon untuk memberi salam. “Halo. Perkenalkan saya Maa, baru saja pindah. Aaa, sepertinya enak sekali buah kesemek itu.”

Kakek Zabon tertawa. “Ini lihat, kelopak buah kesemek. Silakan ambil satu,” kata kakek Zabon sambil memberikan kelopak buah kesemek pada nenek Maa.

“Ah, kelopak yang indah. Saya belum pernah melihat kelopak yang seperti ini sebelumnya. Terima kasih.”

Nenek Maa pulang dengan riang setelah menerima kelopak buah kesemek.

Kakek Zabon bingung, “mengapa begitu gembira, padahal cuma kelopak?”

7

Esoknya, terdengar ribut ribut di rumah nenek Maa. Kakek Zabon penasaran dan mencoba mengintip. Terlihat nenek Maa sedang bermain gasing bersama anak anak. Eh, gasing kelopak?

“Gasing nenek Maa, hebat ya.”

“Lihat, masih berputar.”

“Hebat, kan? Ini kelopak buah kesemek kakek Zabon.”

“Waa… aku juga mau kelopak buah kesemek!”

Kakek Zabon yang mendengar itu langsung pergi.

8“Ini tidak bisa dibiarkan. Anak anak itu pasti datang ke sini untuk meminta kelopak. Yang benar saja, ini pohon kesemekku yang berharga. Ada yang berani?”

Kakek Zabon cepat cepat memetik semua buah kesemek yang ada di pohon. Dan menyembunyikannya di dalam rumah.

“Fiuh.”

Sementara itu, nenek Maa dan anak anak datang berkunjung.

“Kakek Zabon, kami ingin meminta kelo…. pa aaa….aa.”

Pohon kesemek, tidak ada buah satu pun. Nenek Maa dan anak anak terkejut, kemudian kecewa.

Kakek Zabon tertawa. “Sayang sekali ya. Kalau begitu ini, mau?” kata kakek Zabon sambil mengambil daun yang berserakan bekas memetik buah tadi, dan menyerahkannya pada nenek Maa.

“Waah, kali ini daun ya. Dengan senang hati. Terima kasih.”

11-horzNenek Maa dan anak anak pulang sambil membawa banyak sekali daun.

Lagi lagi kakek Zabon bingung. “Mengapa begitu senang, padahal cuma daun?”

Keesokan harinya, kakek Zabon kembali mengintip.

Terlihat banyak anak anak berkumpul, lebih banyak dari kemarin. Mereka sedang bermain daun.

“Aku mau buat satu lagi kalung dari daun.”

“Aku juga, buatkan boneka dari daun dong.”

“Iya, iya. Daun kesemek kakek Zabon ini begitu berkilau, sangat cantik. Ah, sudah mau habis.”

Kakek Zabon yang mendengar itu langsung pergi.

“Ini tidak bisa dibiarkan. Anak anak itu lagi lagi pasti datang ke sini meminta daun. Ini daun kesemekku yang berharga. Ada yang berani?”

Kakek Zabon cepat cepat memangkas semua daun yang ada di pohon kesemek, dan menyembunyikannya.

“Fiuh.”

Sementara itu, nenek Maa dan anak anak datang berkunjung.

“Kakek Zabon, kami ingin meminta sedikit daun…. aaa aa…”

Pohon kesemek, tidak ada daun satu pun. Nenek Maa dan anak anak terkejut, kemudian kecewa.

Kakek Zabon tertawa. “Sayang sekali ya. Ini, mau?” kata kakek Zabon sambil mengambil ranting bekas memangkas daun tadi, dan menyerahkannya pada nenek Maa.

“Waah, kali ini ranting ya. Dengan senang hati. Terima kasih.”

18-horzNenek Maa dan anak anak pulang sambil membawa banyak ranting.

Kakek Zabon bingung lagi. “Mengapa begitu gembira, padahal cuma ranting?”

Esoknya, dari rumah sebelah tercium bau harum. Kakek Zabon mencoba mengintip.

Terlihat anak anak berkumpul, lebih banyak lagi dari kemarin. Mereka sedang memanggang roti menggunakan ranting kesemek, dan makan dengan lahapnya.

“Hmm… kelihatannya enak. Eh, tidak tidak. Ini tidak boleh dibiarkan. Anak anak itu pasti datang ke sini untuk meminta ranting lagi.”

21

Kakek Zabon cepat cepat memotong batang ranting pohon kesemek.

Nenek Maa dan anak anak yang datang berkunjung untuk memberikan sepotong roti pada kakek Zabon, terkejut.

“Kakek Zabon, kenapa memotong pohon kesemek?”

“Eh, siapa yang memotong?”

Kakek Zabon terkejut melihat pohon di hadapannya sudah terpotong potong.

“A… a… apa yang sebenarnya sudah kulakukan? Pohon kesemekku yang berharga…. huhu….” Kakek Zabon menangis tersedu sedu.

Nenek Maa menghela napas panjang. “Kalau saja masih ada buah kesemek. Bijinya bisa ditanam kembali.”

22“Oh iya! Biji! Ada! Nenek Maa, ada! Ada banyak sekali. Anak anak, ayo bantu!”

Anak anak membantu mengambil buah kesemek dari dalam rumah.

“Ayo anak anak, makan sepuasnya! Setelah itu, bijinya sebar di sana sini,” kata kakek Zabon.

“Siaaap!”

Akhirnya, anak anak pun bisa makan buah kesemek kakek Zabon yang manis. Kemudian, bijinya ditanam di sana sini.

Biji buah kesemek milik kakek Zabon…

Gung gung cepatlah besar!

Jadilah buah kesemek yang maaa~niiiss…!

Selesai.๐Ÿ™‚

***

22 thoughts on “Kakek Zabon dan Pohon Kesemek

  1. Bagus ya gambarnya krayon. Saya dulu bermimpi juga buat bisa bikin buku cerita anak2. Saya dulu mengidolakan Hans Christian Andersen. Banyak cerita yang saya baca๐Ÿ˜€

    Semoga ndak di scan semua biar ndak dimarahin penerbit. (Jepang agak rewel masalah beginian sepertinya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s