Periksa Rutin 3 Tahun

Hari jum’at kemarin Nisa periksa rutin 3 tahun di dinas kesehatan kota Kariya. Sebenarnya Nisa sudah dapat undangannya satu bulan yang lalu dan dijadwal tanggal 12 September. Tapi karena tanggal 12 Nisa nggak bisa, makanya diundur hari jum’at kemarin.

Hari itu berkumpul para ibu yang memiliki anak-anak usia 3 tahun. Semacam posyandu gitu lah. Jadi diukur tinggi berat badan, gigi, dan semua perkembangan anak.

写真(2)
suasana sambil nunggu dipanggil. ada sensei yang lagi dongeng, jadi anak2 ga bosen. ^^

Kita datang ke posyandu ini nggak dengan tangan kosong, loh. Di surat undangan yang udah disebar satu bulan sebelumnya itu ada beberapa angket yang harus diisi, dan ada pemeriksaan urin, jadi kita disuruh bawa urin anak kita pada hari H.

Angket yang harus diisi adalah angket health check-up meliputi biodata anak, imunisasi yang sudah diberikan, riwayat perkembangan anak dari bayi (sejak kapan anak mulai tengkurap, duduk, merangkak, jalan, dsb), riwayat penyakit anak, pola makan anak, kemampuan berbahasa, kemampuan sosialisasi, dll, dll.

Angket yang kedua adalah angket tentang kesehatan gigi. Meliputi pertanyaan seputar berapa kali anak makan cemilan, apakah anak rajin menyikat giginya, dll.

Angket ketiga adalah tes pendengaran. Jadi diharapkan di rumah orangtua mempraktekkan tes pendengaran kecil pada anak. Yang pertama dengan menjentikkan jari di dekat telinga anak, apakah anak menoleh ke arah sumber suara. Kemudian tes dengan suara bisik bisik. Terakhir dikasih lembaran berisi gambar gambar, anak menunjuk gambar yang kita perintahkan dengan suara berbisik dari jarak yang agak jauh. Apakah anak mampu mengerjakan perintah? Kira-kira seperti itu, nanti hasilnya tinggal ditulis di angket.

Angket keempat adalah tes visual. Ini juga sama. Kita disuruh melakukan tes visual sederhana ke anak. Dikasih gambar, besar dan kecil. Orangtua dan anak pegang masing-masing. Kemudian orangtua membolak balikkan gambar, apakah anak mengikuti dengan mencocokkan gambar yang sama dengan orangtua? Kemudian tes dengan ditutup salah satu mata. Bergantian kanan dan kiri. Hasilnya tinggal ditulis di angket.

Begitulah. Keempat angket itu nanti dikumpulkan saat pemeriksaan di posyandu. Oya, ditambah urin Nisa yang sudah dimasukkan ke dalam tabung kecil yang sudah disediakan.

Cerita ngambil urin ini penuh perjuangan. Jadi ceritanya Nisa ini belum lulus toilet training. Kalau pup udah, tapi kalo pipis susaaaah banget disuruh pipis di toilet. Selalu bilangnya pas udah ngompol. Hadeh.

Sampai saya taruh gelas kertas di potty nya, disolatip gitu biar ga pegel megangin kalo Nisa mau pipis. Percobaan dua hari gagal terus. Akhirnya karena waktu mepet, besok udah mau dikumpulin, saya suruh Nisa nongkrong di toilet. Saya tungguiiiin sampe satu jam.

写真(3)
kurva BB dan TB Nisa.

Sebelumnya Nisa saya suruh minum yang banyak, kasih jus, susu, apa aja yang bisa bikin pipis. Hampir satu jam saya nungguin Nisa pipis. Sambil nyanyi-nyanyi di toilet. Akhirnya Nisa bukannya pipis malah pengen pup. Hahaha. Tapi saya seneng, horeee. Kalo pup berarti sama pipis juga kan?😛

Hari H. Sebenernya saya agak galau nih. Pertama periksa berat badan dan tinggi badan. BB Nisa turun karena kemarin abis sakit. Hasilnya TB: 91,2 BB: 11,3 kg. Nggak masalah, masih di kurva normal. Selanjutnya ke bagian dokter umum. Dicek pakai stetoskop dadanya, perut, mulut, mata. Semua oke.

写真
hasil health check up Nisa

Berikutnya periksa gigi dan sikat gigi. Alhamdulillah sehat semua ga ada yang bolong.🙂

Terakhir. Ini nih yang bikin galau. Di sesi terakhir ini kita didatangi petugas kesehatan satu satu. Di situ dilihat bersama sama perkembangan anak. Semacam dites sederhana, apakah anak mampu menyebutkan namanya, umurnya, mampu membedakan mana benda besar dan kecil, mampu menyebutkan warna, dll.

And you know what, Nisa nggak mampu melakukan semuanya!! Doeng!! Emak langsung galau. *krik krik* Sesi ini terasa menyebalkan bagi saya. Rasanya seperti anak yang ga lulus ujian masuk SD karena belum bisa baca tulis hitung disaat semua anak lain pada bisa. *sakitnya tuh di siniiii*😛

Okey, Nisa memang mengalami masalah bahasa. Saya rasa ia mengalami speech delay karena bingung bahasa (bilingual). Nisa baru mulai bisa bicara dengan bahasa yang bisa dimengerti saat usianya 2,5 tahun. Itupun hanya beberapa kata. Sebelumnya ia hanya ber-ah-ugh-ooh aja kalo nunjuk nunjuk.

Jadi semuanya memang terlambat. Di saat anak usia 3 tahun lain sudah masuk ke tahap pertanyaan “kenapa begini/begitu?”, Nisa masih berkutat di pertanyaan “ini apa?”. Ia masih berusaha mengenal kosakata semua benda.

Untuk masalah warna dan ukuran benda. Saya sudah berkali-kali berusaha mengenalkan Nisa. Tapi memang anaknya belum tertarik dengan warna. Sesekali ia seakan mengerti “kore aka, kore ao” (ini merah, ini biru), tapi kemudian lupa lagi.😛 Saya nggak pernah memaksa. Saya biarkan aja Nisa main tanpa harus mempedulikan ini merah atau biru.

Yang jadi masalah berikutnya adalah Nisa nggak bisa diajak berdialog. Umumnya, saat anak ditanya maka ia akan menjawab. Contoh sederhana, saat ditanya namanya sendiri. Lah, si Nisa waktu ditanya, “namanya siapa?”, kemudian hening. *krik krik* Nisa diem aja dong! Mending cuma diem, ini pandangannya kesana kemari, kayak nggak fokus gitu diajak ngomong.

Berkali kali dicoba diajak ngomong, Nisa nggak respon. Oh, ayolah Nak, jangan bikin malu mama deh. Hahaha. *emaknya dipentung*😀

Memang sih, Nisa itu anaknya cuek banget. Kalo diajak ngomong, kayak denger ga denger. Bikin kitanya kadang sebel. Ini sama kayak waktu saya ngajarin Nisa ngomong waktu usia 2 tahun. Umumnya anak usia segitu kalo diajak ngomong, ia akan ikut nge-beo kan ya. Nisa mah enggak. Saya udah ngomong berkali kali sampe berbusa busa, eh malah ditinggal pergi. Ouch! Tapi pas dia udah bisa ngomong waktu 2,5 tahun, omongan saya ternyata nyangkut tuh.

Saya bilang, Nisa itu kalau di rumah, cerewet banget. Tapi kalo di depan orang, diem. Ini masalah kepribadian. Nisa itu introvert banget. Persis emak! >_<

Dan yeah, Nisa ada sedikit bermasalah dengan sosialisasi. Ia lebih suka bermain sendiri dibanding sama temen. Ia nggak suka bermain sama sesama anak kecil, ia sukanya bermain sama orang dewasa. *sok gede* Makanya Nisa ‘agak’ galak sama anak kecil. >_<

Melihat itu semua, akhirnya saya direkomendasikan menjanani konsultasi khusus! Saya diisolasi ke sebuah ruangan, ditanya-tanya seputar masalah Nisa. Oh, I hate this!! *cubit emak*

Akhirnya, saya dikasih saran kalau saya sebaiknya menggunakan satu bahasa saja, yaitu bahasa Jepang. Nisa harus dilatih bahasa. Tapi gimana ya, namanya bukan bahasa ibu, tetep aje eike kalo komunikasi sama bapake kan pake bahasa Indonesia. >_<

Dan sering-sering bawa Nisa sosialisasi. Sebenernya Nisa tiap hari udah masuk daycare sih. Jadi, tiap hari ia sosialisasi. Cuman ya mau gimana lagi udah karakter ternyata. >_<

Sampai di rumah, saya sampai googling tentang ciri anak autis. Sempat takut sih, Nisa autis. Nih ya, menurut sumber dari cirianakautis.com,

Gejala anak autis yang biasanya sering terlihat adalah mereka lebih cenderung terlambat bicara, menggunakan bahasa yang tidak biasanya digunakan oleh orang normal, dan tidak bisa berkomunikasi verbal dengan cara yang baik serta lain sebagainya. Ciri lainnya adalah interaksi sosial, mereka tidak eksresif, tidak menatap mata saat berbicara dengan lawan bicaranya, dan tidak bisa terlibat secara emosional dengan teman seumuran, tidak spontan, dan tidak empati. Selain itu dari segi perilaku, mereka lebih suka menyendiri, mempunyai rutinitas aneh dan juga terjadwal serta berlebihan. Mereka akan melakukan gerakan gerakan yang aneh dan berulang, dan mereka menyukai bagian benda tertentu dan lain sebagainya.

Yang dicetak tebal, itu ciri-ciri Nisa. Nggak semua ciri ada sih. Nisa masih bisa diajak komunikasi, walaupun kadang nggak mau natap mata lawan bicara, dan kadang cuek antara denger ga denger. Tapi kadang nyambung kalo diajak ngomong, tergantung mood-nya si Nisa aja. Trus Nisa so far nggak ada kebiasaan aneh, atau aktif luar biasa, semua normal aja. So, saya sih menyimpulkan Nisa bukan autis. Hanya karakternya yang introvert.

DSC_0316
Nisa chan 3 tahun ^^

Saya sih mikirnya Nisa itu baru bulan kemarin 3 tahun, masih ada waktu kurang lebih 11 bulan lagi untuk mencapai milestone yang lain untuk tahapan usia anak 3 tahun kan? So, everything is gonna be BERES!

Ganbarimashou, Nisa chan!! ^_^

 

49 thoughts on “Periksa Rutin 3 Tahun

  1. pernah ada yang cerita..speech delay karena di rumahnya ada multi bahasa, ayah dan ibu orang jawa, tapi tinggal di ambon, ada juga yang pakai bahasa inggris
    eh ngomongnya “beta mau”..
    memang harus konsisten ngajarin pakai 1 bahasa ya..diajak ngomong terus..dibacakan dongeng..moge berhasil

  2. Sering aku ajak cerita bertatap muka dan mendengarkan apa yang dia omongkan dengan seksama. Kadang kalau dia mulai bicara tidak melihat saya, mukanya biasanya saya pegang dan saya hadapkan ke muka saya. Kadang kalau intonasinya nggak jelas suka saya ingatkan kalau apa yang dia sampaikan susah dipahami orang lain. Butuh proses lama dan kesabaran. Tapi Alhamdulillah sekarang dia mulai mau cerita banyak hal. Kebetulan kemampuan berkomunikasi bener2 diperhatikan di sekolah anakku. Soalnya selain kecintaan pada ilmu pengetahuan dan riset, kemampuan berkomunikasi juga ditekankan di sekolah anakku.

  3. dulu murid PGTK ku juga gitu mbk,umur 3 tahun masih ah eh oh,kalau diajak ngomong selalu yg keluar kayak gini “waca waca waca waca”. kebetulan papanya pakai bhs inggris orng Singapore,mamanya pakai bhs indonesia (org jawa,sering pakai bahasa jawa kl sama susternya), neneknya pakai bahsa mandarin. Tuh,kan 3 bahasa,bingung hehe. Saya beberapa kali sudah sarankan ortunya untuk ke psikolog dan terapi wicara, tapi yah..kembali lagi ke ortunya,didiemin aja gitu,sedih tapi gimana lagi,saya kan cuma guru dan psikolog sekolah saja ^^.

    1. Duh, nisa cuma 2 bahasa kok Mak walopun bapake wong jowo. suer deh. hehe.
      Sebenernya Nisa mulai banyak perkembangan di bahasa sih, dia udah mampu ngomong 3 suku kata. Udah mulai ngikutin kalau saya ngomong (nge-beo). Tapi tetep aja ya kalo dibandingin sama anak lain Nisa kalah jauh. Saya sih ga mau ngebandingin Nisa sama yang lain. Menurut saya Nisa udah banyak kemajuannya.

      Cuma yaa untuk masalah milestone yang lain seperti pengenalan warna, dll, entah kenapa Nisa juga lambat, sampai sekarang sepertinya masih belum tertarik. Saya dan papanya udah berusaha ngasih Nisa mainan berwarna sambil dikenalin ini merah biru, dll. Di kamar mandinya juga saya masih mainan berwarna. Yaa kembali lagi ke anak kan ya. Kemarin saya sedih aja karena cuma Nisa yang ga bisa mengerjakan semua perintah dari nakesnya. Hiks.😥

  4. anak saya 4th saat ini masih cedal mak..
    cerita dr ibu mertua sy, anak pertamanya bisa jalan umur 2 thn, anak bungsunya bisa bicara umur 3thn, tapi setelah besar mereka tumbuh normal dan cerdas. memang anak punya karakter sendiri2 mak, yg pengin kita beri stimulasi positif, diajarkan yg baik2 pd saat nya nanti, akan keluar apa yg sdh kita ajarkan padanya.

  5. Agak mirip anakku, mbak. Oliq sekarag 3th 3bulan, lbh senang main sendiri drpd sama anak2 lain. Udah sekolah tp masih ditungguin dan sering mogok. Punya kesulitan sosialisasi di sekolah selain krn clingy sama simboknya juga kndala bahasa. Bhs Indonesia Oliq lancar banget bisa ngomong 1-2 paragraf sekali napas, sementara temen2nya bhs melayu. Bhs Inggris Oliq msh kurang bgt. Pusing aku mau ngajarin yg mana. Tiap ngajarin bhs Inggris bapaknya pulang dimentahin lagi pake bhs jawa halus.
    Ga terlalu kupaksa sekolah, tapi ya diajar di rumah juga.

      1. Emang anak beda2 ya. Lemah di satu sisi tapi unggul di bidang lain. Entar juga Nisa bisa kok mak. Yg ada emaknya jgn bandingin sama anak lain. Tapi urusan itu aku juga masih sangat berjuang hiks :((

  6. Nisa-chan pinter kok, pasti bentar lagi juga udah cerewet. Semangat ya mama Nisa! Sini sering2 ngobrol sama aku biar makin cerewet…(yang ada aku dicuekin kali ya hahaha)

    1. Kalau cerewet sih, sekarang juga udah cerewet, grace. Tapi yang dimasalahin si nakesnya itu nisa ga mampu berkomunikasi dua arah. Ya kan, tante grace kalo ngomong dicuekin terus kan? hahaha.

  7. wahh.. maaf saya tidak bisa memberi saran, karena saya belum punya anak. Tapi setau saya, mengajak anak untuk terus berkomunikasi dan bertatapan mata saat berkomunikasi itu ampuh untuk kecepatan berbicaranya. keponakan saya juga baru usia 3 tahun ini bicaranya jelas Mak.
    Tetep semangat ya Mak..🙂

  8. Saya salut banget dengan tentengan angketnya ke posyandu. Jadi, secara tidak langsung kita selalu punya rekam jejak perkembangan anak. Ga hanya sekedar berat dan tinggi badan. Terima kasih sharingnya, Mak

  9. ah, nisa persis kaya arya untuk masalah sosialisasi. Arya juga lebih suka bermain sendiri daripada sama teman-temannya. main sih main, hanya saja nggak bisa ekspresif, jadinya ya.. temannya sering nggak ngajak dia. hahaha.. saya mah cuek aja. yang penting arya dah mau mein keluar, bergaul sama teman-temannya.

    kalau ditanya sama pihak keluarga macam-macam seperti nama lengkap, alamat, jenis kelamin, arya mau itu jawab. tapi kalau yang nanya orang lain, ohmigosh!!! langsung berlagak cuek. kalau orang jawa bilang, gak seneng ditanggep kaya wayang😀

    tapi sejauh ini, saya merasa baik-baik aja kok, mak. yang penting arya perkembangannya gak terhambat. yah, meskipun harus berusaha lebih keras lagi untuk masalah sosialisasi sih. semangat ya mak!!

  10. kalau penyebab “gagal” tes nisa karena pengaruh bahasa, memang bisa aja, Mak. Saya sih belom pernah ngalamin. Cuma beberapa tahun lalu pernah nemenin anak saya ke kantor psikolog utk ikut tes susulan psikotest masuk SD. Pas saya nunggu, ada orang tua yang lagi konsultasi. Dan, saya agak nguping gitu hehe

    Ceritanya ibu itu bingung karena anaknya kayak gak bersosialisasi di sekolah. Kalau ditanya lebih sering gak menjawab. Padahal kalau di rumah anaknya aktif dan selalu berkomunikasi. Ternyata, setelah di wawancara kesimpulan sementara adalah anaknya terkena speech delay. Karena di rumahnya terbiasa berbahasa inggris. Sedangkan di sekolah, pake bahasa Indonesia semua. Si anak jadi merasa gak bisa berkomunikasi.

    Dan, untuk kasus yang sama, beberapa teman anak saya juga ada yang mengalami kejadian seperti itu. Yang menghambatsosialisasi itu karena bahasa. Tapi, pelan2 saya rasa Nisa bisa mengatasi

  11. Tenang aja mak, Nisa gak autis. Betul bgt, dia hanya agak introvert. Introvert bukan karakter yg negatif kok, selama diarahkan pada hal yg baik. Biarin Nisa enjoy dgn karakternya, support n arahkan supaya Nisa bs lebih nyaman dgn dirinya dan orang lain di sekitarnya 😉

  12. Wah,lengkap ya pemeriksaan di sana..
    Kalo masalah Nisa,aku rasa selain bahasa ya soal karakter ngaruh banget. Anakku dua dan karakternya berlawanan. Cara sosialisasipun beda..tenang aja mak.pelan-pelan Nisa bisa kok.. Semangat ya ..🙂

  13. halo mama nisa, salam kenal. Silent reader nongol, nih. Suka cari cerita2 soal jepang dan akhirnya ketemu blog ini.

    Btw, sekedar mau sharing aja di sini boleh ya. Mau kasih studi banding dari sini ceritanya.

    Di sini (Finlandia) kayanya standar untuk anak2 umur 3 tahun lebih rendah dibanding negara lain. Misalnya waktu itu anakku masih belum bisa nyebut warna tapi udah bisa bedain warna (nyortir mainan merah semua, biru semua, kuning semua, dll tapi gak bisa nyebut kalo itu namanya merah, biru atau kuning) dan sama posyandu di sini dibilang normal. Kebetulan anakku termasuk yang secara bahasa perkembangannya cepet banget jadi gak ada masalah di bidang ini, tapi anak temen umur tiga tahun ngomongnya masih sedikit, asalkan ngertinya banyak dan koordinasi mata/ facial expressionnya bagus dianggap normal juga di sini.

    Anyway, pas liburan ke Indonesia waktu umur anakku 3,5thn kebetulan kita harus ke dokter dan sama dokternya iseng2 di tes warna dan jumlah. Anakku gak lulus dan bu dokter lantas bilang anakku agak tertinggal dari peer group seusianya. Sakitnya tuh disiniiiiiiiiiii.

    Waktu itu sempet sedih dan kebakaran jenggot banget tapi pas balik ke sini kita tanya2 lagi ke daycare dan ke bidan….sekali lagi dibilang semuanya normal jadi hati tenang kembali. Labil memang ini ibunya.

    Oh ya, satu lagi…kalo menurut pendapatku sih, bilingualisme dan multilingualisme bukan penyebab speech delay. Katanya ini salah satu mitos yang paling banyak tersebar tentang bilingualisme. Kalo pun kadang anak dicurigai speech delay karena bingung bahasa biasanya terjadi karena masalah gak PD. Harus cari akal buat bikin anak jadi lebih PD ngomong (dikasih reward, dipuji, dll) tapi dua bahasa (atau lebih) jalan terus karena in the long run will be beneficial for the kid.

    Di sini dokter, posyandu dan daycare berkali-kali mengingatkan orang asing untuk mengajarkan anak bahasa ibu, bahasa lokalnya belajar dari sekolah (atau daycare). Katanya profisiensi anak dalam mengakuisisi dua bahasa atau lebih baru sempurna di umur lima tahun, jadi kalo sebelumnya keliatan kaya bingung2 gak masalah.

    Ini aku sekedar studi banding aja, ya, bahwa ada praktek lain dan pendapat berbeda tentang kemampuan anak, termasuk tentang kemampuan berbahasanya. Soalnya kebetulan nih, aku pendukung OPOL dan MLAH garis keras. Hihihihihihihi. Mohon maaf kalo penyampaianku salah atau gak enak dibaca.

    Eh, tapi kalo sendiri sebenernya aku tipe yang nurut banget sama dokter. Apa pun yang disarankan dokter atau bidan pasti aku turuti. Kalo anakku dianggap bermasalah dan kemudian disuruh satu bahasa saja kemungkinan akan kuturuti juga saran dokternya.

    salam sayang buat Nisa. Nisa pasti bisa!

    *maap komennya kaya cerpen saking panjangnya*

  14. Toss dulu Mak, sama2 introvert, hehe. Sekedar sharing aja Mak. Sy sama suami memang bukan orang yg seneng ngobrol banyak kalau gak perlu2 amat, makanya selain karena merantau (kurang sosialisasi sama tetangga dan teman sebaya), di rumah pun sy sama ayahnya jarang banget kasih input stimulasi ke Alma, makanya Alma kena speech delay waktu umurnya 2 taun. Sy sama ayahnya dulu mikir, “Anak kecil mana ngerti kalau diajak ngobrol?” TETOOT 😣 Salah besar ya, Mak. Sampai akhirnya sempet saya bawa pulang dulu ke Bandung buat terapi wicara di klinik tumbuh kembang. Alhamdulillah sekarang di umurnya yg ke-3 taun udah banyak progress. Sampai saya rangkum juga cara2 stimulasinya buat dokumentasi kalau2 ‘lupa’ nanti pas punya anak lagi, hehe. Bisa banget dilakuin di rumah, Mak 😊 semoga manfaat:

    https://andinaseptiarani.wordpress.com/2014/04/30/tips-melatih-anak-berbicara-dan-berkomunikasi/

    Oh iya, soal kemampuan membedakan warna dan berdialog/komunikasi, berdasarkan pengalaman sama Alma sih, akan berprogress sendiri seiring kemampuan bicaranya meningkat. Tetep semangat, Nisa dan Mama 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s