Kapok Transit di China #Mudik2014

Hai, saya kembali lagi setelah mudik satu bulan di Indonesia! Satu bulan itu cepet banget ya. Kuraaaang booo. Saya lupa kalau satu bulan itu cuma punya 4 weekend. Dan karena bukan musim liburan, hari biasa kebanyakan pada kerja dong ya.

Maaf ya buat temen-temen yang nggak sempet ketemuan. *tsah, berasa artis deh* Soalnya weekend saya udah dibooking keluarga pastinya. Hehe. Dan di hari biasa, saya hanya free siang hari, kalau malam saya nggak mau keluyuran. ^_^;

Banyak cerita yang mau saya tulis. Mulai dari mana dulu yaaa? Baiklah, dari awal aja. Saya berangkat dari bandara Chubu Nagoya naik salah satu maskapai china (sebutin ga yaaaa namanya :p ).

Oya, mudik saya kali ini masih dengan formasi saya dan Nisa. Yup, berdua ajah. Papanya nyusul besoknya, sendirian. Ini bukan kali pertama Nisa naik pesawat. Dulu pernah waktu usia 10 bulan, berdua saya juga. Udah lama banget. Sekarang udah 3 tahun, saya agak deg-degan juga liat reaksinya nanti.

Jadi ceritanya saya transit di Guangzhou, China. Waktu transit saya hanya 60 menit saja. Saya sih nggak masalah, malah senang karena nggak perlu nunggu terlalu lama.

Tapiii, saya mulai ragu ketika pas check-in di Nagoya, petugasnya bilang saya jangan sampai lupa ambil bagasi di Guangzhou. What?? Jadi bagasi turun gitu? OMG! Langsung saya deg-degan. Bagasi 2 koper yang masing-masing beratnya 20 dan 10 kilo, harus saya ambil di Guangzhou, dan harus check-in (drop bagasi) lagi di sana, dengan waktu hanya 60 menit sampai pesawat berikutnya boarding?? Cukup kahhh?? :O

Gimana kalo pesawatnya telat? Gimana kalo pas ambil bagasi, kopernya keluarnya lama? Gimana kalo pas mau check-in lagi, antriannya panjang? Arrggh…

Bismillah aja deh. Nisaaaaa… bantu mama yaaa! Pak suami mewanti-wanti supaya saya sms kalo ada apa-apa.πŸ˜€

Alhamdulillah, pesawat berangkat tepat waktu dari bandara Chubu Nagoya. Saya juga mendapat prioritas untuk masuk pesawat lebih dulu, karena bawa anak kecil.

Di dalam pesawat Nisa mulai crancky. Ia takut duduk di kursinya, minta turun. Hadeeh. Akhirnya saya peluk terus sampai pesawat take off.

Okey, ini soal pelayanan. Penumpang ibu-ibu yang membawa bayi atau balita, biasanya akan mendapat perhatian lebih dari pramugari dan pramugara. Biasanya begitu kan ya? Tapi, dari awal saya naik pesawat ini sampai turun lagi, mbak-mbak pramugari cuek aja tuh.

Melihat saya duduk sambil meluk Nisa, harusnya sih saya dapat sabuk pengaman kecil untuk tandem ke sabuk saya. Tapi ternyata tidak. Memang sih, Nisa sudah dapat kursi sendiri. Tapi waktu itu Nisa lagi nggak mau duduk sendiri, jadi saya pangku. Akhirnya saya pasang sabuk pengaman berdua sampai ke badan Nisa. Dan si pramugari nggak protes tuh. Okey, mungkin ini bukan pakem.

Sepanjang perjalanan saya terus mikirin tentang bagaimana nanti transit. Saya dikasih selembar catatan kecil sih tentang tata cara transit, lengkap dengan gambar-gambarnya. Tapi kok saya nggak nemu tempat ambil bagasi ya? Saya telusuri lagi baik-baik gambar dan tulisan ‘melungker’ di hadapan saya.

Akhirnya saya menyerah. Mau tanya pramugari, tapi dari tadi pamugari sibuk mondar mandir aja. Akhirnya saya tanya penumpang sebelah saya. Kali aja tujuan kita sama. Hehe.

Untunglah sebelah saya orang Jepang, lebih gampang komunikasinya. Dari dia, akhirnya saya tahu kalau pesawat yang kami naiki ini nggak langsung ke Guangzhou, tapi turun dulu di Shanghai! Hah? Ooo… jadi tulisan yang ini tuh (上桷), bacanya Shanghai? Meneketehe. *Makanya belajar!*πŸ˜€

Tunggu, tunggu, maksudnya turun di Shanghai? Itu gimana ceritanya? Kan saya transit di Guangzhou? Katanya, dari Shanghai baru nerusin ke Guangzhou. Di Shanghai, bagasi nggak turun. Turunnya di Guangzhou.

Dari penumpang sebelah juga, saya dikasih form imigrasi yang harus diisi nanti di Shanghai. Duh, makin nggak mudeng saya. Imigrasi?? Ya udah lah, saya isi aja.

Sampai di Shanghai, kami langsung disambut petugas yang mengelompokkan kami yang akan meneruskan perjalanan ke Guangzhou. Syukurlah, saya banyak temennya. Jalannya agak jauh sih, dan harus cepet-cepet, jadi Nisa saya gendong.

Akhirnya saya sampai ke antrian imigrasi. Ini nih yang saya nggak mudeng. Kok bisa saya digiring ke imigrasi? Bukannya kalo transit itu nggak lewat imigrasi ya? Biasanya sih langsung masuk ruang tunggu. Imigrasi itu kan kalo mau keluar.

Tibalah giliran saya. Paspor, tiket, dan form imigrasi yang sudah saya tulis diperiksa petugas imigrasi. Tunggu satu menit, dua menit, tiga menit…. tiba-tiba si petugas tanya, “visa anda mana?”. JRENG JRENG! Visa? Visa apa ya? Visa China? Ya nggak ada lah!

Langsung deh petugas tadi menutup antrian di belakang saya, disuruh pindah ke antrian lain. Oh yeah, saya ditahan di imigrasi, pemirsa!

Saya protes dong! “Mbak, saya cuma transit di sini, nggak perlu visa kan?”. Trus saya ditanya, tujuan anda ke mana? Ya elah, kan udah tertera di tiketnya. Jakarta, Mbak, Jakarta! Indonesia!!

Petugasnya langsung koordinasi ke petugas lain, bicara dengan bahasa yang saya nggak ngerti. Sampe petugas tadi yang bertanggung jawab atas transit saya dan penumpang lain ke Guangzhou juga ikut campur.

Akhirnya saya ‘diloloskan’. Fiuh, sampe pegel berdiri, mana sambil gendong Nisa lagi. >_< Saya lihat di paspor, saya dan Nisa dapat visa China yang berlaku satu hari. Siapa juga yang mau keluar China. Saya mau pulang kampuuuung! Dan satu lagi, no smile! *kenapa petugas imigrasi disetting kudu ‘sangar sangar’ ya?*

Oya, Nisa juga sempat dicurigai karena foto paspor Nisa adalah foto bayi, sedangkan Nisa sekarang kan udah gede. Si Mbak imigrasi nanya ke Nisa sambil liatin foto paspornya, “is that you?”. Ya elah, Mbak… *menurut lo?*

Dan sampailah saya di ruang tunggu. Menunggu pesawat ke Guangzhou. Untuk meredam rasa cemas saya, saya mencoba tanya lagi ke petugas bandara tentang mekanisme transit saya di Guangzhou.

Saya cuma ingin memastikan aja bahwa waktu 60 menit itu cukup untuk saya antri ambil bagasi dan check-in ulang, sekaligus saya minta jaminan kalo saya nggak akan ditinggal pesawat seandainya nanti saya terlambat. Coba tebak apa reaksi mereka? Geleng-geleng kepala! Hah? They didn’t know what i’m saying!!! *emosi tingkat dewa* >_<

Bandara internasional, petugasnya nggak bisa bahasa inggris? Trus saya harus pake bahasa apa dong?? *sok expert inggris* *penumpang rese*πŸ˜›

Okey, akhirnya saya mengalah. Saya positif thinking aja deh, sambil duduk tenang. Untungnya pesawat berangkat tepat waktu, walaupun saya nggak dapat prioritas untuk masuk duluan ke dalam pesawat sih. And you know what, saya dan penumpang lain, menaiki pesawat yang sama dan duduk di kursi yang sama, dengan pilot dan awak kabin yang sama, dengan penerbangan sebelumnya. Jadi, fungsinya kami disuruh turun di Shanghai itu apa coba? Setor muka doang ke imigrasi. Duh, duh, duh.

Itu tadi di Shanghai. Akhirnya tiba juga saya di Guangzhou. Waktu menunjukkan pukul 15:15, dan pesawat selanjutnya boarding pukul 16:20. Saya harus bergegas.

Syukurlah, ambil bagasi lancar. Koper-koper saya keluar duluan, jadi nggak perlu antri lama. Saya langsung menuju ke terminal keberangkatan internasional, yang itu berarti saya harus keluar bandara kan? Hmm… mungkin ini kali ya gunanya visa saya tadi.

Alhamdulillah Nisa cukup kooperatif. Nggak rewel sama sekali atau minta gendong. Tangan mungilnya menggamit baju saya sementara kedua tangan saya mendorong trolli tempat koper-koper saya.

Keluar bandara menuju terminal keberangkatan internasional sempat membuat saya takut. Bandaranya ramai dengan orang lokal. Banyak penjemput dan mereka saling berteriak. Hauuu…

Akhirnya sampai juga dengan selamat di terminal keberangkatan internasional. Lumayan, bandaranya luas dan bersih.saat check in syukurlah nggak ada antrian. Bisa dibilang lancar jaya. Tapi yang bikin saya terkikik adalah nisa pup di celana! *pake popok sih*

Salah saya sih, sebenarnya Nisa udah bilang mau pup sejak dari bandara shanghai. “Mama, unchi!” Tapi karena waktu itu lagi ngantri di imigrasi, saya bilang nanti ya. Abis itu lupa deh. Trus pas udah di dalam pesawat bilang lagi, “mama, unchi!”. Duh, pesawat lagi mau take off ga mungkin dong ngacir ke toilet. Saya bilang lagi, sabar ya nak, nanti kalau udah terbang. Eh, di atas nisa malah tidur. Lupa lagi deh. :p Puncaknya pas di bandara Guangzhou, pas lagi check in, Nisa udah nggak pake bilang lagi, langsung ngeden! Hahaha. Duh, maapin mama ya nak. Langsung deh ngacir ke toilet. :p

Selesai hajat, langsung pergi ke ruang tunggu, karena waktu boarding sebentar lagi. Daaan, ternyata pesawatnya delay sodara sodara. Hauuu, langsung nyesel deh udah deg2an. *eh, bersyukur ding*πŸ˜€

Okey, singkat cerita pesawat saya delay satu jam. Dan satu pesawat itu isinya kebanyakan orang china-indonesia yang sering ditemuin di glodok. Rameee bener. Penumpang depan saya ngobrol sama penumpang belakang saya dengan suara keras. Bahasa campur campur indonesia mandarin. Seru ye.

Begitulah, pengalaman pertama saya naik maskapai china dan transit di china. Untungnya pas balik saya nggak naik itu lagi. Tapi naik vietnam airlines dan transit Ho chi minh city. Yihaa! Peristiwa apa lagi yang menunggu kami?πŸ˜‰

***

Ps: Pengalaman pak suami naik maskapai yang sama dan jam yang sama pula, waktu berangkat ke jakarta, lebih “seru”! Berangkat dari bandara chubu nagoya delay! Otomatis molor semua penerbangan berikutnya. Turun di shanghai, sempat tertahan juga di imigrasi dengan masalah yang sama, visa mana visa! :p

Transit di Guangzhou, nggak sempat ambil bagasi, langsung lari karena pesawat sudah boarding! Untung sudah diurus sama pihak maskapai. Dan sampai dengan selamat sampai bandara soekarno-hatta. Fiuh, nggak kebayang kalo itu saya. Harus lari lari ditambah gembolan tas ransel di belakang, belum lagi kalo sambil gendong nisa. -_-;

Oya, lupa kasih tau, di dalam pesawat Nisa nggak dapet makan doong!! Parah ya? Harusnya dapet ya, orang saya bayar kok. Tapi udah males protes saya. Lagian nisa di pesawat tidur aja, trus karena khawatir mubazir kalau makan sendiri, jadi nisa makan berdua saya aja biar habis. Satu lagi, *banyak bener* saya nggak dapet selimut. Jadi, selimut cuma dikasih terbatas. Yaaa, walopun saya nggak minta, harusnya liat anak kecil lagi bobok ngeringkuk cuma diselimutin jaket ala kadarnya, harusnya dikasih dong ya. Ihik.

Sekian.

28 thoughts on “Kapok Transit di China #Mudik2014

  1. Waahhh… seru bin rempong ya, hehehe. Mama Nisa, mau tanya dong… amannya bawa bayi terbang ke Jepang umur berapa bulan ya? Ada rencana kesana berdua aja sama bayi, nengokin papa nya. Mesti konsultasi sama DSA nya dulu kah?

  2. Sama nih dgn @aufaria. Sy udah ngebet bgt mau ke jepang liburan, tp anak masih baby.. kurang dr 1th. Aman ga ya? Trus klo transit2 gtu kayaknya horor bgt ya.. apalg klo ga ngerti bahasanya, harusnya semua petugas di bandara di hire pake test bhs inggris ya..

    1. InshaaAllah aman. Kalo yang ga pake transit, pake Garuda aja. Langsung Jepang, cuma perjalanan di atas jadi lama 8 jam. Kalo transit kan bisa ‘istirahat’ di bawah, paling ga di atas kita cuma 4 jam-an tergantung transit di mana. Hehehe.

      Sebenarnya transit itu gampang kok. Biasanya begitu turun dari pesawat, langsung menuju counter transit, udah, langsung masuk ruang tunggu. Ini aja nih transit di Guangzhou yang pake ribet.πŸ˜›

  3. hiyaaa aku juga kapok pake maskapai china, dulu pake tiket pp fukuoka jakarta, ceritanya lebih ‘nyebelin’ daripada yang mamanisa tulis, udah gitu gegara bawa 2 anak paspor jepang dituduh ‘menculik’ anak hahahah anak gueeeee tauuuuuuuuuuuuuuu^^; mou zettai noranai waaaa^^; kondo kara wa JAL de(hahah ngimpi) hihihihihi, anyway welkam bek yaa… nisa chan udah ok?

      1. ihhh mana ada akte lahir dibawa pulang hiihhi alhamdulillah masih pada kecil jadi tanda tangan di paspornya kan ada namaku jadi dia percaya, cuman pas heboh dituduh nyulik gitu si Aimee mimisan hiyaaaa simbok KDRT banget deh hahahaha ada ada aja yaa

  4. ya ampun, untung aku ga pernah kepikir ambil maskapai cina, pikirku sih kurang aman dan nyaman, taunya ditambah begini jadi tambah emoh..heu.
    Aku mau nunggu cerita lanjutannya yaaa..

  5. hoalah mama nisa, kejadiannya persis kayak suamiku waktu pulang ke Indo pas mudik juga, deg2an bgt yah pasti ^ ^..bulan oktober nanti aku mau naik pesawat ke jepang juga niy berdua sama baby..smoga bisa kayak mama nisa n nisa..doakan saya hehehe

    1. wah, naik maskapai cina itu juga ya? hihihi.
      mama rasya mau ke jepangnya mana? kalo nagoya, deket tempatku. ^^ semoga lancar yaaa. baby nya anteng ga rewel, manis nurut sama emaknya. aamiin.πŸ™‚

  6. iyaa maskapai cina juga tapi transit di taiwan ^^. iya mama nisa aku yang waktu itu cerita mau pindah ke kasugaiπŸ˜€ ntar boleh ya aku main2 ke tempat mu hihihi *ngarep..amiiiiin amiiiiiin hehehe maaciy mama nisa

  7. Salam kenal mama nisa, kalo dibaca dari tulisan ini kayaknya pake maskapai china nggak recommended ya.. Hihihi jadi takut banget soalnya ada kemungkinan saya akan pergi ke fukuoka dan kudu transit di shanghai (sendirian lagiπŸ˜€ ). Apa perlu ya saya bikin visa transit *padahal nggak nyampe 12 jam*?

    1. halo salam kenal. sebenernya gpp sih pake maskapai china, asal ga transit di china aja, hihi. ada juga soalnya yg transit hongkong. hongkong setau saya ga ribet kayak di china. emm… visa transit perlu ga ya? ga tau juga, coba tanyain agen masnya atau pihak maskapai. semoga lancar perjalanan. ^_^

  8. Salam kenal…Wah aku rencana pergi ke toronto tp ada transit di guangzhou pas liat soalnya emg hrgnya bener2 stengah hrg dr airlines lain. Itu perlu visa ngga ya pas transit?org transitnya 19jam pula..aku sambil mules bayangin hrs ke wc umum..katanya daerah cina ya gitu deh.
    Boleh tau ga airlines nya apa..?heheheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s