Aman Berkendara di Jepang (2)

Ada yang bilang, karakter suatu bangsa bisa dilihat dari jalan raya. Artinya bagaimana mereka berlalu lintas di jalan raya. Yah, kalau teori ini benar, melihat kondisi jalan raya di Jakarta, sebagai salah satu cerminan negara Indonesia, berarti karakter bangsa Indonesia apa dong? Semrawut gitu ya? Haduuuhh….๐Ÿ˜ก

Dulu saya percaya slogan “mulai dari diri sendiri”. Memang betul, sampai kini pun saya masih percaya. Tapiiii, kalau menyangkut kehidupan organisasi bahkan bernegara, saya mulai sedikit pesimis dengan slogan ini. Iya kalau masing-masing individu punya pemikiran sama. Kalau 10 juta lebih penduduk Jakarta punya pemikiran berbeda, gimana jadinya?

Makanya sekarang saya mencoba membalik pikiran saya. “Mulai dari Pemerintah!”. Mulai dari yang paling atas, maka yang paling bawah akan mengikuti. Mulai dari pemimpin, maka bawahan akan tunduk. Ini cara paling efektif.

Perbaiki karakter bangsa mulai dari memperbaiki peraturan jalan raya. Sudah dibuat kok aturannya, orang-orangnya aja yang masih pada bandel, melanggar terus. Lalu, bagaimana caranya supaya tidak ada yang melanggar?

Biasanya sih kalau ada polisi yang jaga pada enggak berani melanggar, asalkan benar-benar peraturan ditegakkan. Yang melanggar benar didenda atau diberi hukuman. Dan ini harus konsisten, terus menerus, setiap hari, sampai masyarakat terbiasa dan angka pelanggaran kecil. Kalau perlu, turunkan semua polantas ke jalan raya untuk berjaga. Jangan cuma di jalan protokol, tapi di semua jalan raya! *ekstrim*. Untuk patuh, memang kadang butuh dipaksa.๐Ÿ˜

Pesimis? Saya pernah nonton film Indonesia, judulnya “Ketika”. Film lama, dibintangi oleh Deddy Mizwar. Ada yang udah pernah nonton? Film itu mengisahkan negeri (ga tau Indonesia apa bukan, hehe :p) yang hukumnya benar-benar ditegakkan. Ah, bagus deh. Ceritanya simple (walaupun agak lebay), tapi inilah negeri yang saya impikan. Kalau ada waktu, coba cari filmnya di youtube.๐Ÿ™‚

Yaaa, enggak boleh pesimis dooong! Kan bentar lagi PEMILU. Selalu ada kesempatan untuk memperbaiki. Jangan hanya bisa berdoa atau bermimpi Indonesia akan menjadi negara maju seperti Jepang. Jangan cuma bisa nyinyir dengan pemerintah sekarang. Tapi buktikan dengan langkah nyata. Intinya sih, ayo PILIH! Jangan pada golput, ye!!. B-)

***

Nah, nah, udah cukup pesan sponsornya! Hehe. Sekarang mari kita lanjutkan postingan saya sebelumnya, tentang aman berkendara di Jepang. Bukan maksud untuk membandingkan Indonesia dengan Jepang. Jauuuuh. Hahaha. Tapi hanya sharing informasi. Semoga pembaca blog ini menjadi tercerahkan dan sadar akan keamanan berlalu lintas.๐Ÿ™‚

1. Semua kendaraan di Jepang patuh dan tertib di jalan. Yaelah, umum banget sih. Ehm, gimana ya bahasanya. Abis, emang tertib sih. Saya jarang lihat mobil salip menyalip di jalan.

Sampai saya pernah nyeletuk ke suami, ini orang Jepang enggak pernah merasa buru-buru apa ya? Kalau jalan enggak pernah nyalip, kecepatan dalam kota paling cuma 40~60 km/jam aja. Kata suami, bukannya enggak pernah buru-buru, tapi mereka sudah memperhitungkan waktu. Kalau sudah tahu jalanan bakal macet, ya mereka berangkat lebih pagi dong. Dan orang Jepang biasanya sudah spare waktu, bukan on time, tapi in time. Kalo on time kan tepat waktu, tapi in time itu datang sebelum waktu, jadi ada spare waktunya. Hmmm…. *manggut manggut*. Yah, walopun enggak semua sih, tapi sebagian besar lah.๐Ÿ™‚

c02
Setertib ini lah kalau macet di Jepang, semua mobil antri, tidak ada saling mendahului.

Jadi, saya jarang banget lihat orang yang nyupirnya buru-buru, grasak grusuk, ugal-ugalan kayak dikejar setoran. Hehe. Semua terlihat santaiii, sopan, dan aman! Jalan dalam kota loh yah. Kalau tol beda lagi.๐Ÿ˜€

2. Jika melewati perlintasan kereta api, semua pengemudi WAJIB mengerem kendaraannya sejenak untuk tengok kanan dan kiri, kalau sudah ‘aman’, silakan melintas. Ingat dulu pelajaran di SD kalau mau menyeberang jalan? Tengok kanan dan kiri dulu kan? Nah, di sini bukan cuma mau nyeberang jalan doang yang kudu tengok kanan kiri, nyeberang di perlintasan kereta api juga tengok kanan kiri dulu. Walaupun saat itu kereta sedang tidak melintas.

001ec94a25c50e71154519
sekedar ilustrasi diambil dari sini.

Ini standar di Jepang. Dan orang Jepang tidak pernah menyepelekan peraturan sekecil apapun! Semua patuh. Padahal kalau dipikir, “ya ampun cuman tinggal nyeberang doang, kereta lagi ga lewat noh, pintu palang juga lagi ga turun kan, jalanan di depan kosong, ngapain sih tengak tengok segala, ga ada apa-apaan juga!”๐Ÿ˜›

Itu kan menurut lu. Di Indonesia berapa nyawa tuh yang udah melayang di perlintasan kereta api? Yah, jangan cuma bisa nyalahin, itu pintu palangnya yang rusak, bla bla bla. Kalau emang pintu palang rusak, kenapa itu kereta segede gaban enggak keliatan? Pasti enggak tengok kanan kiri dulu, kan?๐Ÿ˜›

3. Bagi yang punya bayi, mobil wajib punya car seat untuk bayi. Dan silakan pasang stiker “baby in car” di bagian belakang mobil (optional). Untuk keamanan.

0524ff58
“Akachan notte imasu!” (baby in car)

Dan, dilarang duduk di depan sambil memangku bayi. Bayi punya kursi sendiri, dan si ibu pun duduk sendiri. Kalaupun ingin dipangku, pangkulah di kursi belakang, jangan di depan. Bahaya! Duduk di belakang sopir bisa mengurangi resiko. Walaupun tidak dianjurkan juga duduk tanpa sabuk pengaman. Eh, penumpang di belakang juga harus pake sabuk loh.

Jadi, pemandangan mobil layaknya ‘taksi’, maksudnya si papa jadi sopir di depan, mama dan anak duduk di belakang, lazim di Jepang. Kalau di Indonesia, si papa bakal protes nih, “emang gue sopir?”. Laaahh, emang situ tugasnya nyetir kan. Jangan protes dong, keselamatan penumpang nomor satu kan? Hihihi. ^_^

nyomot dari sini.
nyomot dari sini.

4. Dahulukan ambulans dan mobil pemadam kebakaran. Saya lupa urutannya yang mana duluan. Tapi dua mobil itu berhak dapat prioritas, dan juga mobil patroli polisi kalau sirinenya bunyi. Kalau terdengar sirine ambulans dari kejauhan, mobil-mobil serentak memelankan lajunya dan minggir. Kalau ambulan sudah dekat, mobil akan berhenti dan memberi jalan. Pemandangan yang sudah jarang saya lihat di ibukota Indonesia. Hiks.๐Ÿ˜ฆ

Kan lagi macet, susah juga kalee lewatnya, trus ngasih jalannya gimana? Ya, ya, ya, semoga bukan cuma alasan ya. Ah, sudahlah. Next!

5. Bagi pejalan kaki, apabila berjalan di malam hari, dianjurkan membawa lampu senter kecil atau pakai baju atau atribut dengan warna yang agak mencolok supaya terlihat oleh pengendara jalan. Dan bagi pengendara sepeda, wajib memasang lampu saat malam hari. Tuh kan, pengendara sepeda dan pejalan kaki pun tak luput dari peraturan lalu lintas. Semua demi keamanan dan kenyamanan bersama.

Di komplek perumahan, kadang ada yang penerangannya minim. Maka bagi pejalan kaki (biasanya orang Jepang ada yang telat bawa anjing mereka jalan-jalan) dianjurkan membawa lampu senter kecil. Selain untuk penerangan sendiri, juga supaya mudah terlihat oleh pengendara mobil atau motor.

hansyazai
credit

6. Koutsuu Anzen (ไบค้€šๅฎ‰ๅ…จ), Aman Berlalu-lintas, slogan yang selalu gencar disosialisasikan ke seluruh Jepang. Slogan ini diajarkan mulai dari balita sampai kakek-nenek. Dan terus rutin disosialisasikan. Dari sekolah-sekolah sampai perusahaan. Anak-anak biasanya diajarkan cara menyeberang jalan yang aman, cara bersepeda yang aman, hal-hal yang tidak boleh dilakukan di jalan raya, dll.

Dan saya sering menemui relawan-relawan membawa spanduk kecil bertuliskan “koutsuu anzen” di jalan-jalan. Biasanya mereka stand-by di pagi hari saat anak-anak berangkat sekolah dan orang-orang berangkat kerja, atau sore hari saat anak-anak pulang.

Seperti ini ilustrasinya.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
credit

***

Oke, sekian dulu ya pelajaran lalu-lintasnya. ^_^ Semoga bisa ditiru yang baik-baiknya. Semoga setelah membaca ini, kita bisa berkontribusi meminimalkan angka kecelakaan lalu-lintas di Indonesia. Aamiin.

Oya, berita terbaru yang saya baca masih ada kaitannya dengan siswi SMA Depok kemarin. Ternyata yang mengendarai motor adalah adiknya yang masih kelas 3 SMP. Dan kini adiknya telah dijadikan tersangka karena dianggap lalai dan menyebabkan kematian sang kakaknya sendiri. Selengkapnya baca di sini.

Ah, sedih dan miris hati ini Maaakk. Bagaimana perasaan orangtuanya? Yah, lebih tepatnya adalah bagaimana nanti pertanggung jawaban orangtuanya? Di dunia maupun di akhirat. Karena dua-duanya masih di bawah umur dan masih tanggung jawab orangtuanya saya kira.

Yah, penyesalan memang datangnya selalu di akhir. Saya tidak akan menyalahkan siapa-siapa. Siapa lah saya ini? Polisi bukan, Tuhan pun bukan. Jadi, mari kita sama-sama perbaiki diri. Mari bersama-sama perbaiki karakter bangsa ini. Sudah terlalu banyak contoh yang bisa dijadikan pelajaran kan?

Salam dari Jepang.๐Ÿ™‚

7 thoughts on “Aman Berkendara di Jepang (2)

  1. Duh, saya penasaran dengan film “Ketika”-nya bang Jack. Saya belum pernah dengar. ntar cari ah…

    Soal kisah tragedi Depok itu semoga menjadi pelajaran bagi kita semua. Tetanggaku juga baru saya mengalami musibah, minggu lalu kecelakaan. Hampir mirip, mereka SMP (adik kakak), kelas 2 dan 3, mereka naik motor dan kecelakaan di jalan raya, dan akhirnya dua-duanya meninggal dunia setelah mengalami koma beberapa hari di RS.

    Di Jepang, jangankan di jalan raya, saya naik eskalator aja (saat di subway station) melihat pemandangan unik, yaitu mereka rapiiii sekali berdiri di sisi kiri, untuk memberikan kesempatan bagi yang melangkah cepat bagi mereka yang di sebelah kanan. Sudah menjadi budaya yang baik.

    1. Saya dulu nonton film Ketika di dvd, Pak. Ga tau juga sempet masuk bioskop apa ga, ga ada beritanya kayaknya. Hihihi. Ga populer ya, padahal yang main lumayan loh, ada Deddy Mizwar, Dewi Yull, Lidya Kandau, siapa lagi ya. Lupa. Hehe. Cari aja di youtube, Pak. Ada kok.๐Ÿ™‚

      Turut berduka buat tetangganya ya, Pak. Sudah terlalu banyak contoh di negeri ini, mau sampai berapa lagi korban yang harus jatuh supaya masyarakat sadar. Hiks. Terutama Pemerintah sih, harus bisa memberikan sanksi yang tegas dan berat. Sebelum lebih banyak lagi korban yang jatuh.๐Ÿ˜ฅ *mewek*
      Eh, maap Pak malah saya curhat. Hihihi.

      Iya, iriiii sama Jepang soal kesadaran masyarakatnya.๐Ÿ™‚

  2. duh seneng deh, dapat informasi banyak seputar Jepang. mungkin Indonesia memang banyak yang perlu diperbaiki. terutama ego pribadi. kadang ada juga orang yang tidak mau memberikan halan bagi ambulan. Haduuh…

    Untungnya di kotaku gak pernah macet mbak, cuma jam sekolah dan pulang yang agak ramai dan padat. Tapi belum macet. Bahkan masih bisa kok nunggu jalanan sepi baru menyebrang. hehehe.

    Kalaupun macet pasti ada kecelakaan atau perbaikan jalan, atau di sekitar pom bensin kalau pas banyak truk/bus yang antri.

    untuk segala macam kecelakaan, semoga tidak terulang lagi. memang benar ada faktor-faktor di luar kemampuan manusia. namun dengan mematuhi peraturan bisa meminimalisir terjadinya kecelakaan. Betul kan mbak?

    *kok jadi kayak artikel?๐Ÿ˜€

    1. Betul banget, peraturan dibuat tentunya untuk mengurangi kecelakaan. Kalau di Jepang, untuk bisa turun ke jalan itu, MULAI dari SIM! “SIM itu adalah nyawamu.” begitu katanya.๐Ÿ™‚

  3. Kalau orang Indonesia, mungkin saking banyak nya atau gimana ya, udah ada aturan juga ya susaahhhh banget diaturnya. Nyawa ga begitu penting kayaknya disini. Heu… mau jalan ke tempat bis jemputan karyawan di pagi hari juga kalau ga di trotoar, takut keserempet truk, angkot, mobil gede, motor, dsb. Bukan cuma siap-siap sama polusi asapnya, tapi juga harus ngurut dada diklaksonin. Hiks…
    Saya pulang dari Jepang sempet stres loh. Jadinya sering ngeluh & marah-marah sendiri kalau kemana-mana. Padahal waktu itu di jepangnya cuma 2 taun, butuh kurang lebih 2 taunan juga buat adaptasi & menerima kenyataan hidup disini lagi, hehehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s