Aman Berkendara di Jepang (1)

Duh, duh, sedih, sedih, baca berita ini. 😦 Siswi SMA Depok tewas terlindas truk. Motor yang ia kendarai jatuh saat akan menyalip kendaraan di depan. Dan lebih mengejutkan lagi setelah baca ini. Semoga amal ibadah beliau diterima Allah Subhanahu wa ta’ala. Aamiin.

***

Ketika masih tinggal di Indonesia, saya merasa biasa saja kalo mobil yang saya tumpangi memacu kecepatannya dan berusaha menyalip kendaraan di depan. Apalagi jika lalu lintas agak tersendat, mobil dan motor berusaha mencari celah untuk menjadi yang terdepan. Bahkan bis yang bodinya segede gaban itu juga kadang enggak mau kalah. Semua mau jadi yang tercepat. Semua orang seolah-olah sedang diburu waktu.

Tapi setelah datang ke Jepang, saya jadi belajar bagaimana berkendara yang aman. Bagaimana mematuhi peraturan lalu lintas. Yang ternyata bukan cuma mengandalkan kesadaran individu, tapi sistem dan perangkat yang ada juga dibuat untuk mendukung keamanan dan kenyamanan berlalu lintas.

Ngemeng apaan sih? -_- Hehe. Baiklah, daripada berputar-putar mari saya paparkan fakta fakta yang saya temukan di sini.

driver
credit

1. Di Jepang batas usia minimal mendapat SIM adalah 18 tahun. Lebih lama satu tahun dibanding Indonesia. Dan untuk mendapat SIM ini tidak mudah. Ada serangkaian tes yang harus dilalui. Baik tulis maupun praktik.

Bukan cuma itu, sebelum mengikuti ujian SIM, diwajibkan mengikuti kursus/sekolah menyetir terlebih dahulu. Lamanya sekitar 1~2 bulan. Dan ini tidak murah. Biayanya sekitar 250.000~300.000 yen (25~30 juta rupiah). :v

Makanya anak SMA di Jepang, walaupun sudah memenuhi syarat umur, jarang yang ikut ujian SIM. Kebanyakan karena tidak punya waktu untuk ikut kursus dan belajar. Mereka sudah sibuk belajar di sekolah untuk menghadapi ujian masuk universitas, dll.

Biasanya mereka baru ikut kursus menyetir setelah lulus SMA atau setelah berhasil masuk universitas. Sekolah-sekolah menyetir biasanya sudah bekerja sama dengan beberapa kampus, dan mahasiswanya tentu saja akan dapat diskon khusus.πŸ™‚

Itu hal yang paling crusial dalam berkendara. Dulu saya sering mengabaikan ini. Cuek naik motor tanpa SIM. Walaupun dulu baru bisa naik motor pas kuliah semester 7 sih. Dan baru resmi bikin SIM motor waktu udah kerja. Hehe. Kalau nyetir mobil masih belum bisa sampe sekarang. Huhu. Dulu pernah belajar, udah 2~3 kali turun ke jalan tentunya didampingi pendamping. Tapi ya hanya sebatas itu, masih belum berani buat SIM karena emang belum mahir.😦

2. SIM motor di Jepang itu ada tiga jenis (Moped, Ordinary Motorcycle dan Heavy Motorcycle). Moped (gentsuki) adalah motor yang kapasitas mesinnya kurang dari 50 cc. Motor ini kecil, matik, dan cuma muat satu orang alias dilarang boncengan. Motor yang saya kendarai sehari-hari di rumah adalah jenis ini. Dan speedometer motor ini maksimal cuma 60 km/jam. Hah? Enggak bisa ngebut dong! *eh* :p

Ordinary Motorcycle mulai 50 cc sampai 400 cc, biasanya yang saya lihat ini sering dipakai oleh pak pos atau petugas delivery yang lain. Terakhir adalah Heavy Motorcycle yang kapasitas mesinnya lebih dari 400 cc. Motor ini boleh masuk tol loh.πŸ™‚

Oya, di Jepang motor juga wajib menyalakan lampu pada siang hari. Tapi jangan takut lupa nyalain, karena lampu motor disetting otomatis menyala saat kita men-starter motor. Aman deh.πŸ˜€

3. Truk di Jepang memiliki 2~3 kaca spion kiri dan 2 kaca spion kanan. Dan spion ‘digital’ di tengah. Maksudnya digital adalah spion tengah terhubung pada kamera kecil yang dipasang di belakang bodi truk. Ini khusus untuk truk-truk besar yang tidak bisa melihat sisi belakang karena tertutup muatan truk. Sebagai gantinya truk ini dilengkapi kamera kecil di belakang sebagai ganti kaca spion.

Dan truk-truk ini sangat ‘berisik’. Bukan berisik klakson. Tapi tiap truk akan belok, selalu ada peringatan dari truk. Selain lampu sen, truk ini mengeluarkan pengeras suara, “(truk) akan belok kiri/kanan, harap hati-hati!”. Peringatan pengeras suara ini juga ada di bus dan diulang berkali-kali sampai truk/bus belok. Tentu ini berguna bagi kendaraan kecil yang ada di samping truk yang tidak melihat lampu sen.

4. Semua kendaraan di Jepang, tiga kaca di bagian depan (depan, samping kanan dan kiri sopir) tidak boleh digelapkan. Alias harus bening tidak boleh pake kaca riben yang gelap. Kaca penumpang dan belakang baru boleh digelapkan. Alasannya saya tidak tahu, tapi yang pasti sih untuk keamanan.

Mungkin supaya sopir bisa melihat jelas keadaan lalu lintas di luar. Begitu juga sebaliknya orang lain atau pengendara lain bisa dengan jelas melihat pengemudi dalam mobil itu.

***

Itu tentang keamanan perangkat kendaraan. Sekarang tentang peraturan lalu lintas yang aman di Jepang. Tapi saya capek nulisnya. Bersambung ke postingan berikutnya ya….πŸ™‚

Di sini nih.πŸ™‚

 

 

19 thoughts on “Aman Berkendara di Jepang (1)

    1. Kalau udah punya SIM Indonesia, harus dikonversi ke SIM Jepang, karena Jepang tidak menerima SIM Internasional. Tapi tentu ada keringanan. Bagi yang udah punya SIM boleh tidak ikut kursus menyetir yang biayanya selangit itu, tapi langsung ikut ujian. Ujian tulisnya juga cuma 10 soal (kalau yang bikin baru sampe 100 soal kalo ga salah).
      Tapi ujian praktek mobil juga ga kalah susah, jarang yang bisa lulus sekali ujian. Biasanya sampai berkali-kali ujian baru bisa lulus. :p
      Kalau untuk pengalaman bikin SIM motor, bisa baca pengalaman saya di sini: https://catatanmamanisa.wordpress.com/2013/04/02/ikut-ujian-sim-di-jepang/

  1. sugoiii… Jepang memang keren.πŸ˜€
    kalau di Indonesia malahan jarang sekali nemuin kaca yang tidak dihitamkan, jadinya yang mau nyalip dari belakang jadi kesusahan. Moralitas dan etika di Jepang sangat tinggi yaa..

  2. walah-walah, bener-bener diatur secara terperinci ya mbak, makanya jarang banget liat anak SMA berseliweran naik motor. (di komik atau film jepang) hihihi

    emang sih yak, untuk keamanan dan keselamatan nyawa orang, harus dibikin serinci itu. nah kalo di sini, anak SD aja udah wang weng naik motor. hedeeeh -_-

    1. Iya, selain itu anak sekolah di sini emang dilarang bawa kendaraan sama pihak sekolah selain sepeda.
      Prihatin ya Mbak, lihat kondisi di Indonesia. Dulu jaman saya, minimal anak SMA lah bawa kendaraan. Sekarang usia SD udah pada berani ya.😦

  3. Saya dah setahun di Jepang, tapi masih ga pede buat tes sim mobil, pdhal sudah ada sim A Indo, takut ga lulus, kan mahal. Hahhaa *emak-emakperhitungan
    Ada temennya suami, yg dah jago nyetir waktu di Indo, tp pas tes peralihan SIM di Jepang, sampe 4x tes baru lulusπŸ˜€
    Salut ya sama tertibnya lalu lintas dan kepatuhan berkendara warga Jepun, banyak nenek2 ke pasar bawa mobil sendiri, aman2 aja. Lah coba di Indo? Bisa jantungan tiap mo belok disalip motor anak abegeπŸ˜€

    1. Salam kenal mbak enpitsuuπŸ™‚. Jepangnya mana mbak?
      Wah, enak udah punya SIM A Indo, coba ajaaa mbak. Tapi belajar dulu, minimal kenal perangkatnya, kan di sini mobilnya matik semua. Yah, ga terlalu mahal lah kalo tinggal ujian mah, masih lebih murah dibanding harus ikut kursus nyetir. Hihihi.
      Saya nyesel kenapa dulu ga bikin aja ya SIM A.😦 Sekarang cukup puas aja bisa bawa motor kemana-mana, walopun menggigil pas musim dingin. HahaπŸ˜€

  4. Mama nisa mau tanya. Di jepang sepenting apa ya warganya atau perantauan kaya mama nisa utk punya mobil pribadi di jepang? Soalnya kan transportasi umum disana sdh sangat memadai ketersediannya juga fasilitasnya.
    Makasih

    1. saya tinggal di kota kecil. stasiun kereta tidak menjangkau semua distrik kota. jarak stasiun terdekat ke rumah saya aja berjarak 1,5 km. sedangkan jadwal bis satu jam sekali. jadi bagi saya mobil pribadi sangat diperlukan. apalagi anak saya masih kecil. akan merepotkan kalau saya mau belanja di tempat yg agak jauh (ke toko halal misalnya), harus bawa2 belanjaan banyak dan harus menggendong bayi juga naik kendaraan umum. ^^; kalau tinggal di kota besar mungkin tidak terlalu perlu, karena di sana mungkin parkir mahal dan susah, ditambah macet dan lain sebagainya. jadi lebih praktis naik umum yg jadwalnya lebih banyak dan terjangkau tempat manapun. ^_^ salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s