Hidup Irit di Jepang? Bisa!

Katanya biaya hidup di Jepang tinggi? Apa apa mahal. Gimana bisa irit? Bisa! Setidaknya ini yang bisa saya lakukan di Jepang dalam rangka hidup irit.

credit
credit

1. Apply tinggal di apartemen (apato) milik pemerintah atau yang biasa disebut danchi. Kalau pelajar, bisa tinggal di asrama kampus.

Pengeluaran sewa apato bisa dibilang paling besar tiap bulannya, kurang lebih 40.000~60.000 yen (4~6juta rupiah). Makanya dengan apply danchi atau asrama, biaya bisa ditekan hampir setengahnya, bahkan ada yang lebih murah lagi (ckckck). Walaupun kondisi danchi biasanya termasuk bangunan tua, tapi lumayan lah masih bisa ditinggali kok. Dan jangan khawatir, walaupun tua, semua bangunan di Jepang anti gempa tak terkecuali danchi tua.๐Ÿ™‚

Tapi, untuk apply danchi biasanya memerlukan waktu agak lama sih karena yang apply banyak, jadi antri. Ada juga yang pakai sistem undian. Jadi ya banyak berdoa semoga beruntung. Hehe.

Oya, danchi milik pemerintah ini ada dua jenis. Yang milik pemerintah daerah (ๅธ‚ๅ–ถไฝๅฎ… -shiei juutaku), dan yang milik Kementrian Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang (้›‡็”จไฟƒ้€ฒไฝๅฎ… -koyou sokushin juutaku). Jenis yang kedua ini khusus bagi orang-orang yang bekerja di Jepang dan keluarganya (syarat telah bekerja minimal satu tahun dan telah berkeluarga). Silakan dicari infonya di kota masing-masing.๐Ÿ™‚

2. Membeli barang-barang second berkualitas.

Jepang lagi gencar gencarnya mempromosikan eco life. Jadi, prinsip reduce, reuse, dan recycle benar-benar dicoba diterapkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang. Selain memilah-milah sampah dan membawa kantung sendiri waktu belanja, saya sering menyambangi toko-toko yang menjual barang-barang second. Sejak populer prinsip 3R ini, toko toko second menjamur di Jepang. Harganya bener-bener murah, cyiiin! Hati-hati kalap.๐Ÿ˜€

Apato saya kebanyakan isinya barang-barang second. Muahahaha. Mulai dari kulkas, kompor, oven microwave, meja kotatsu, sampai TV.๐Ÿ˜€ Eh, sampai motor sama mobil juga bekas ding. Kikikikik. Tapi jangan salah, walaupun bekas, tapi lumayan berkualitas lah. Mobil bekas di Jepang juga harus lulus shaken (KIR kalo di Indo) jadi enggak sembarangan. Dan shaken di sini itu terkenal kibishii (ketat). Enggak ada istilah sogok menyogok.

Bukan hanya barang-barang elektronik, baju-baju bekas pun ada, sepatu, tas, aksesoris, mainan, buku, dll. Enggak perlu malu, orang Jepang biasa aja tuh beli baju-baju bekas. Tapi, ya ini musti jeli. Karena namanya bekas, berarti ada cacatnya. Entah itu ada setitik noda yang enggak bisa ilang, ato ada robek sedikit, ato warna sudah memudar, dll. Tapi, kalo dapet yang bagus kayaknya seneng aja gitu, dapet barang bagus sesuai selera tapi enggak bikin kantong jebol, dan enggak dipelototin suami. Hahaha.๐Ÿ˜€

Oya, Nisa juga terkena imbasnya. Mainan Nisa kebanyakan saya beli di toko bekas. Termasuk buku buku cerita bergambarnya. Kan biar enggak sakit hati tuh kalo baru beli langsung dibanting banting en disobek sobek. Kikikik. Bisa mengurangi tingkat stress si emak. :p

Etapi, selain beli barang bekas, toko-toko second ini biasanya juga menerima jual barang bekas. Jadi, kalau ada barang-barang di rumah yang enggak terpakai tapi masih bagus dan layak pakai, jual di sini aja. Lumayan daripada harus dibuang gitu aja. Makanya orang Jepang sangat menjaga barang-barangnya, karena sewaktu-waktu bisa dijual lagi. Tapi ya jangan kaget kalau barang kita dihargai murah banget. Enggak bisa ditawar lagi. Hihihi.

Saya pernah jual baju-baju bayi Nisa. Lumayan banyak, dua kantung plastik (lupa berapa item) dan cuma dihargai 160 yen (?). OMG! Nyesek enggak sih, Lo?? Sebenernya sayang sih mau dijual, tapi kalo disimpen menuh-menuhin lemari dan bikin rumah kecil tambah sumpek aja. Mau nunggu sampe adeknya Nisa lahir, kelamaan enggak tahu kapan. Hihihi. Kalau mau dibuang gitu aja kok ya enggak tega. Aaa~ah, ya udah pasrah aja. Nyerahinnya sambil merem. Hehehe. Lumayan masih bisa buat jajan es krim. :p

3. Manfaatkan 100 yen Shop! (hyaku-en shoppu)

Yup! Namanya juga Toko 100 yen, jadi semua item harganya 100 yen alias kurleb 10.000 rupiah. Ditambah pajak 5 yen jadi total 105 yen untuk semua barang. Toko 100 yen yang terkenal di Jepang adalah Daiso (ใƒ€ใ‚คใ‚ฝ) dan Seria. Cabangnya banyak, tiap kota pasti ada deh (kayaknya sih).

Barang yang dijual macem-macem, mulai dari peralatan rumah tangga (sendok, piring, gelas, perintilan bento, peralatan masak ato bikin kue, dll), sampai perlengkapan alat tulis. Mainan anak-anak juga ada, aksesoris hp juga ada, perlengkapan jahit menjahit, berkebun, aksesoris mobil, wuah lengkap deh! Surganya emak-emak ini mah. Saya aja kadang bisa sampe lama muter muter di sini doang. Mendadak bingung apa yang mau dibeli, karena semuanya mendadak penting.๐Ÿ˜€

Oya, selain barang pernik pernik kecil, juga ada snack makanan ringan yang dijual. Pssstt, kalau mau mudik ke Indo, beli oleh-oleh snack khas Jepang di sini ajah. Iriiiit. Kyahahahaha. *ups #keselek.

Selain dua toko 100 yen di atas, bisa juga datang ke konbini Lawson (mini market). Kadang ada cabang Lawson yang menjual aneka barang 100 yen, termasuk sayur sayuran. Lumayan, kalo kepepet enggak sempat belanja ke supermarket, sementara bisa lari ke konbini Lawson dulu. :p

4. Rajin cek harga makanan.

Ilmu rajin nge-cek harga ini saya dapat dari suami malah. Hihihi. Dia tuh jagonya menghapal harga-harga barang. Dulu waktu masih di Jakarta, saya kalo belanja enggak pernah lihat harga, langsung masukin aja ke keranjang belanja trus melenggang kangkung ke kasir. Di sini harus jeli. Misal harga telur di supermarket A lebih murah dari supermarket B, tapi harga sayurnya supermarket B lebih murah dari A. Trus harga ikan di supermarket C paling murah. Hadeeehh. Awalnya ribet banget sih merhatiin harga sampe segitunya (jiwa emak-emak belum terasah). Hihihi. Tapi lama lama udah biasa. Jadi kadang kami belanja pindah-pindah. Tapi memperhitungkan jarak juga sih, kalo kejauhan ya enggak jadi, malas dan malah boros bensin jadinya.

Selain itu, mari manfaatkan diskon! Biasanya tiap weekend atau pas hari udah sore menjelang malam, petugas supermarketnya suka nempelin stiker potongan harga. Lumayan. Saya pernah tuh sengaja nungguin si petugasnya keluar buat nempelin stiker. Hahaha. Atau biasanya stiker diskon ini ditempel kalau produk udah mendekati tanggal kadaluarsa. Berasa jadi mamanya shin-chan, Sanae.๐Ÿ˜€

Kalau di dekat kampus saya, ada supermarket murah tempat jual hasil sayur mayur dari kebun masyarakat sekitar. Segeerrr langsung dari petaninya. Hehe. Malah kadang si bapak/ibu tani yang nempelin sendiri harga di hasil buminya. ;D

5. Buat kartu member di supermarket yang biasa kita belanja.

Lumayan tiap belanja, kita bisa kumpulin poin. Nanti poinnya kalo udah banyak bisa dapet potongan harga atau hadiah langsung atau apalah tergantung sistem membernya gimana. Temen saya ada tuh yang dapet hadiah mainan buat anaknya. Huaaa, mupeng. Sejak itu saya bertekad untuk mengumpulkan semua kartu member dari supermarket/toko tempat saya belanja. :p

6. Masak sendiri!

Nah, ini salah satu konsep irit. Seribet apapun tetap yang paling irit ya masak sendiri di rumah ketimbang beli makan di luar. Percaya deh.๐Ÿ˜‰

Makan di luar, selain bisa bikin kantong jebol, tempat makan di Jepang enggak ramah muslim alias banyak makanan enggak halal. Hehe. Daripada pusing bolak balik buku menu sambil memicingkan mata menelusuri tulisan-tulisan melungker buat menganalisis menu ini itu halal apa enggak, atau pusing menginterogasi pelayannya, mending masak sendiri. Hehe.

Saya seeeebisa mungkin selalu memasak di rumah. Nisa dan papanya tiap hari saya bikinin bento (bekal). Lumayan irit. Kalau lagi jalan-jalan juga diusahakan bawa bento. Tapi kalau kepepet atau enggak sempet, ya makan di luar. Tapi, tetap harus hati-hati pilih pilih menu.

Makan di restoran halal / restoran Indonesia juga jaraaaang banget. Kalau ini bukan pertimbangan menunya. Menunya sih pasti halal. Tapi kita perhitungkan harganya. Hahaha. Makan di resto halal itu mahal. Bisa dimaklumi karena daging halal itu emang mahal. Hihihi. Tapi ya sesekali kalau ada event khusus boleh lah memanjakan si emak dengan libur satu hari enggak masak, makan di resto halal. ;D

7. Bagi pengguna kereta, bisa membeli kartu langganan.

Bayarnya per bulan. Bagi pemegang kartu pelajar/mahasiswa bisa bayar setengah harga kalau enggak salah. Lumayan kan. Praktis lagi, enggak perlu antri beli tiket di mesin tiket tiap kali mau naik kereta. Hemat waktu dan uang.๐Ÿ˜€

Kalau saya ke mana-mana pake motor (ngampus dan baito), pake sepeda (antar-jemput Nisa ke hoikuen, belanja ke supermarket), dan bis gratis fasilitas kota saya (ke RS, dan tempat-tempat jauh yang dilalui halte bis). Naik kereta kalau ada keperluan ke luar kota itupun jarang karena biasanya diantar suami naik mobil. Hehe.

8. Mau refreshing jalan-jalan di Jepang tapi enggak mau keluar uang? Cari wisata gratis di kota anda.

Biasanya taman-taman kota terbuka untuk umum dan gratis. Dan taman di Jepang ini selalu ramah anak. Ada fasilitas bermain untuk anak-anak, dijamin anak enggak akan bosan. Kalau untuk orangtuanya cukup lah bisa duduk-duduk atau jalan-jalan lihat pemandangan sambil foto-foto. Iya kan? kan?๐Ÿ˜€ Kalau mau jalan ke luar kota, bisa nunggu abis gajian. Hahaha.

Begitulah tips hidup irit di Jepang. Nanti kalau saya nemu lagi cara irit lainnya, saya edit lagi postingan ini. Atau ada yang mau menambahkan?๐Ÿ˜€

***

Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Irit tapi Bukan Pelit yang diadakan oleh Kakaakin

giveaway-irit-tapi-bukan-pelit

70 thoughts on “Hidup Irit di Jepang? Bisa!

  1. uwa keren-keren, tinggal di jepang ya mbak? mupeng…
    jepang emang gitu yak, bahkan pernah denger cerita untuk membuang minyak goreng aja ada prosesnya, untuk buang sampahpun juga ada jadwalnya…
    kece banget deeh..
    sukses buat giveawaynya mbak๐Ÿ™‚

  2. banyak yang bisa diirit yaaa…tapi untuk apartemen, sepertinya peraturan tiap negara memang beda..waktu di Australia dan di Swiss, kita justru ngg boleh tinggal di tempat yang disubsidi Pemerintah, karena htempat-tempat itu disediakan khusus untuk para warga negara or PR. tapi favorit saya berhemat adalah member card dan masak! Asli, hematnya nampol dan berasa bangeet …sukses GAnya maaak…

    1. Wah, gitu ya. Di sini orang asing dapet fasilitas sama kayak orang jepang. enak ya. yah, bayar pajaknya juga sama. Hihihi. Iya, jd rajin masak yak. Padahal kalo di indo, klo lagi males masak tinggal beli nasi padang. Hahaha.๐Ÿ˜€

  3. mak, sungguh tips ini harus diterapkan juga di indonesia. nggak hanya di jepang. secara ya mak, di sini harga juga dah mulai melonjak tinggi.
    ohya, di sini juga mulai banyak yang jual barang second, terutama baju dan alat rumah tangga. aku punya tuh dua jaket yang second :p

  4. Wah panjang bener postingannya mbak, sampai harus berhenti beberapa kali sebelum lanjut๐Ÿ™‚ tapi makasih untuk tipsnya terlebih lagi untuk saya yang agak penasaran dengan jepang. Salam kenal sebelumnya mbak, kunjungan perdana๐Ÿ™‚

  5. Tinggal di apato udah berapa tahun mbak? nampak enak hidup disana , serba teratur ya, hehe. meski barang banyak second tapi tetep ok ya kualitasnya. Malah sampe di export ke Indonesia kali ya, di sini bisa jadi barang mewah๐Ÿ˜€. kereta di Indonesia aja kiriman dari Jepang masih bagus bisa dipake disini. salam kenal mbak๐Ÿ™‚ jadi Ibu emang harus jago irit dimanapun tinggal ya

  6. Waah.. ternyata bisa irit juga ya di Jepang. Rasanya jadi pengen ke toko sepuluh ribuan itu. Pasti barangnya lucu-lucu, dan unik-unik ya๐Ÿ˜€

    Terima kasih sudah ikutan GA Irit tapi Bukan Pelit. Sudah terdaftar sebagai peserta๐Ÿ™‚

  7. Mbak nisa postingan’nya membuka mata dan menggugah hati, jadi bisa belajar banyak dari sini, ^^ terimakasih ya mbak

  8. Halo

    salam,

    saya secara pribadi senang sekali dengan tulisan kategori jepanngnya
    >,< mempesona

    semoga saja saya cepet dapat kerja di studio animasi sana
    aamiin

  9. bermanfaat sekali mba info..tips nya juga berlaku buat anak kost seperti saya, dengan kondisi sedikit berbeda tentunya hahha๐Ÿ˜€

    btw mama nya shinchan bukan sanae mba, tapi misae hehhe

  10. Boleh minta sarannya ngak mbak ?, kalo baito dengan gaji yg banyak๐Ÿ˜ itu jenis baito yg kayak gmna ya ?๐Ÿ˜
    Onegaishimasu๐Ÿ˜
    Saya Pelajar soalnya๐Ÿ˜

    1. tarif per jam itu beda2 tiap daerah. mengikuti standar daerah tersebut, kayak umr aja lah. dan biasanya tarif weekend (hari libur) sama weekdays beda. weekend lebih tinggi tarif per jamnya, begitu juga dengan tarif malam lebih tinggi dari siang.๐Ÿ™‚

  11. Assalamualaikum Mba Nisa
    Saya lagi galau ni mba, dapat tawaran kerja di Jepang, tapi….
    1. Gaji tahun pertama hanya 180-200 rb yen, cukupkah jika bw istri dengan 1 anak (balita)?
    2. Sekolah atau playgroup untuk anak bagaimana mba?
    Kalau ada apakah emaknya harus bisa bahasa Jepang dulu agar komunikasi dengan guru2 nya lancar?
    3. Kebetulan Istri guru bahasa Inggris, mungkinkah Istri untuk mengajar juga di sana?minimal mengajar di
    playgroup

    mohon pencerahan nya mba, galau tingkat dewa ni mba
    Hehe,
    Haturnuhun pisan anyway

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s