Pengobatan Defensif di Jepang

Gara-gara kasus heboh dokter Indonesia, saya jadi belajar banyak tentang dunia kedokteran (halah, bo’ong ding cuma dikit belajarnya). :p Salah satunya dari kasus itu saya jadi penasaran sama istilah defensive medicine. Termejahan Indonesianya jadi ‘pengobatan defensif’.

Katanya menurut yang saya baca dari tulisan-tulisan yang seliweran di internet, akibat dari kasus itu banyak dokter yang memutuskan melakukan pengobatan defensif. Apaan sih pengobatan defensif? Kok kayaknya menakutkan banget.πŸ™‚

Saya coba search artinya di mbah gugel, ini hasilnya. Sumber wikipedia:

Defensive medicine, also called defensive medical decision making, refers to the practice of recommending a diagnostic test or treatment that is not necessarily the best option for the patient, but an option that mainly serves the function to protect the physician against the patient as potential plaintiff.

Artinya (menurut mbah gugel juga :P), pengobatan defensif atau yang disebut juga pengambilan keputusan medis defensif , mengacu pada praktek merekomendasikan tes diagnostik atau pengobatan yang belum tentu penting bagi pasien, tetapi pilihan ini untuk melindungi dokter terhadap tuntutan pasien yang mungkin terjadi setelahnya.

Oooo…. mulut saya membulat. Apa? Emang ngerti? Ngerti laaahh. *toyor* Jadi gini, menurut pemahaman otak saya yang cetek, pengobatan defensif berarti dokter menunda diagnosa atau tidak melakukan tindakan sebelum dilakukan tes yang menunjang. Begitu bukan? Jadi, nantinya misalnya ada pasien yang datang untuk berobat, dokter tidak akan langsung mendiagnosa dan memberi obat, tapi si pasien mungkin disuruh cek lab atau mungkin dirujuk ke bagian lain dulu untuk kemudian kembali lagi dengan hasilnya, baru kemudian dokter melakukan tindakan sesuai dengan hasil tes tersebut. Benar begitu artinya?

ouran-doctor-inpKalau begitu artinya, ini berarti positif atau negatif? Hmm… bisa dua-duanya sih menurut saya. Positif karena pasien akan mendapat penanganan yang tepat. Kalau negatifnya mungkin pada kasus darurat kali ya. Darurat untuk segera dilakukan tindakan tapi harus dirujuk kesana kemari dulu, kasian pasiennya kalo gitu.

Eh tapi, setelah saya pikir-pikir, di Jepang sepertinya juga menganut pengobatan defensif loh. Ini menurut pengalaman saya selama tinggal di sini hampir 2,5 tahun. Pertama kali saya berhubungan sama dokter Jepang, ya sama dokter kandungan. Waktu itu satu minggu sebelum saya operasi caesar (karena tali plasenta pendek), saya kaget karena dokter bilang tali plasenta saya memanjang. Tapi untuk memastikan, dokter merujuk saya untuk periksa MRI. MRI bok! Itu yang kita suruh berbaring trus dimasukkan ke alat super gede. Cuma untuk ngeliat tali plasenta saya beneran cukup panjang apa enggak! Syukurnya hasil MRI menyatakan kalau tali plasenta saya emang cukup panjang untuk lahiran normal. Jadi, dokter memutuskan untuk membatalkan operasi caesar saya. Ini termasuk defensif? Entahlah.πŸ™‚

Trus kalo pengalaman pak suami, ia pernah keseleo di bagian pangkal paha. Mungkin keseleo di tempat kerja. Dan itu sakit banget katanya sampe hampir enggak bisa jalan. ‘Kecetit’ ototnya kalau kata orang Indonesia mah.

Akhirnya pak suami datang ke klinik khusus tulang dan otot. Di klinik itu rameeee banget. Pasiennya kebanyakan para manula. Hihihi. Setelah antri panjang dan periksa yang enggak kalah lama juga, saya tanya. “Kenapa kata dokter, Pa?”. Jawabnya, enggak tau. Hah? Kok bisa enggak tau?

Iya, dokter beneran bilang enggak tau. Padahal suami udah di-rontgen segala loh. Dan katanya hasilnya baik-baik aja, enggak ada kelainan. Lah trus? Enggak ada kelainan kok sakit? Ya enggak tau. Kata dokter sementara ia meresepkan obat penghilang nyeri. Nanti kalau dua-tiga hari masih sakit, silakan kembali lagi dan akan dilakukan pemeriksaan lain.

Abis itu, syukurlah suami sembuh dengan obat penghilang nyerinya sehingga enggak perlu balik lagi. Tapi, setahun kemudian kambuh lagi tuh kecetitnya. Di bagian yang sama. Suami coba pergi lagi ke dokter khusus tulang dan otot, tapi tempatnya berbeda. Tapi, lagi-lagi jawaban dokter ‘enggak tau’! Padahal saat itu juga dilakukan rontgen. Kata dokter enggak ada masalah dengan syaraf, sendi, tulang, dsb. Semua baik-baik saja. “Kalau baik-baik saja kenapa saya sakit, dokteeeerr??” Itu jerit hati suami saya ketika sampai di rumah. Hahahaha.πŸ˜€

Saat itu juga dokter hanya meresepkan obat penghilang nyeri dengan catatan jika dua-tiga hari masih sakit akan dirujuk ke Rumah Sakit Besar.πŸ˜€ Nah, ini dokter defensif banget ya? Bener-bener enggak mau mendiagnosa. Kalo gini solusinya mah bawa ke tukang urut/pijet. Tinggal ‘ketok-magic’ deh. Hahaha.

Pernah lagi pengalaman Nisa. April kemarin, Nisa panas tinggi beberapa hari disertai batuk pilek sedikit. Pertama saya bawa ke klinik anak. Kata dokter sih ‘kaze’ (masuk angin). Dikasih obat kaze sama penurun panas dengan catatan diberikan saat panas mencapai 38,5 derajat ke atas. Sempat turun, tapi kemudian panas lagi sampai 40 derajat. Akhirnya saya bawa ke Rumah Sakit. Oya, selain panas Nisa juga muntah-muntah.

Di Rumah Sakit, dilakukan tes influenza. Setelah menunggu agak lama, ternyata hasilnya negatif. Bukan virus influenza yang menghinggapi Nisa. Lalu apa? Akhirnya, saya hanya diresepkan obat penurun panas dan kaze.

Tapi, panasnya tak kunjung turun. Karena sudah hampir 5 hari naik turun panasnya, saya putuskan bawa lagi ke RS. Waktu dibawa Nisa dalam keadaan panas 40 dercel lebih. *ngik*

Saya lamaaaa sekali menunggu diagnosa dokter. Ini Nisa sakit apa sih? Saya coba analisis sendiri, mungkin tipes (typhus) kali ya.Β  Saya udah bilang dokter, tipes kali dok? Tapi dokter bilang perlu dites lagi urinnya. Hooh, oke.

Hasil tes urin belum keluar, tapi karena sudah malam, akhirnya Nisa disuruh nyuuin (rawat inap) sambil dilakukan pemeriksaan lagi. Ya sudah pasrah deh, akhirnya Nisa rawat inap tanpa saya tau penyebabnya apa. Yang saya tau Nisa demam tinggi. Udah! Pertanyaan dari teman, orangtua, bahkan dari papanya Nisa, “Nisa sakit apa?”, saya jawab “DEMAM!”.πŸ˜€

Empat hari di RS, dua kali tes urin, infus dan menurunkan demamnya, akhirnya dokter hanya menjelaskan hasil tesnya pada saya. Bukan diagnosa penyakit apa. Dari hasil tes, di dalam urin Nisa terdapat bakteri. Nah, jadi selama di RS itu tugasnya membersihkan si bakteri ini. Bahkan satu hari sebelum Nisa dinyatakan boleh pulang, Nisa harus dirujuk ke bagian dalam untuk dilakukan usg perut. Setelah semua clear, dan Nisa udah enggak panas lagi, baru deh boleh pulang. Jadi kesimpulannya, ini juga defensif?

Terdengar over-treatment ya? Hmm, enggak tau juga sih. Tapi saya rasa, ini baik juga kok. Supaya lebih tepat penanganan menurut saya. Cuma ya pinter-pinternya dokter kasih pengertian ke pasien. Komunikasikan yang baik, tenangkan pasien, dsb. Pasien juga harus sabar nunggu diagnosa dokter. Jangan marah kalo ternyata dokter enggak mendiagnosa apa-apa seperti kasus suami saya yang dibilang baik-baik saja, tapi nyatanya sakit banget sampe enggak bisa jalan. Hehe.

Menurut saya, sistem ini juga menuntut pasien untuk menjadi pasien cerdas. Maksudnya, pasien juga turut aktif dalam mencari tau penyebab sakitnya serta solusinya. Dengan ikut mempelajari hasil lab, dan mendengarkan penjelasan dokter, lumayan kan jadi tambah pengetahuan tentang penyakitnya.

Eh, udah cerita panjang lebar gini. Bener kan ya pengertian defensive medicine? Hahaha. Yuk, damai yuk dokter-pasien. Kalian saling membutuhkan loh.πŸ™‚

doctor-anime

***

Disclaimer: Tulisan ini bukan untuk membandingkan dokter Indonesia dengan dokter Jepang ya! Tapi saya penasaran sama istilah defensive medicine. Dan ternyata di Jepang juga menganut sistem ini. Intinya cuma pengen cerita pengalaman pribadi aja sih. :p

15 thoughts on “Pengobatan Defensif di Jepang

  1. Eh jadi inget cerita papa mertua waktu di Jerman, katanya pernah sakit perut akut, stay di RS 1-2hari ga diapa2in blas karna dokternya sibuk ngelab/riset sbenernya apa yg sakit di perut.. Pas si dokter udh yakin, baru diambil tindakan/kasih obat yg bener2 sesuai dgn penyakitnya.. Langsung sembuh deh.. Defensive medicine kah?

  2. hihihi,…mba Tika,…
    sama-sama gak ngerti apa istilah itu,
    sama-sama punya pengalaman yg sama juga,…
    hehehe,…banyak banget kata “sama” nya
    ***ilustrasinya si om dokternya,.kawaiii bangetπŸ™‚
    ijin share ya

    1. sebenernya di sini jg bisa sih dilihat hasilnya antara rentang waktu segitu. tapi dokternya ga kasih lihat, karena hasil lab langsung diberikan dokter. mungkin setelah periksa lain2 lagi dan dokter yakin, baru deh dikasih penjelasan tentang hasil lab nya.

  3. kalau defensive medicine dilakukan, pasien ngga akan mendapatkan penanganan yang cepat mbak, karena dia harus periksa ini itu dulu baru deh kalau udah keluar hasilnya baru dikasih terapi. syukur kalau kita banyak uang untuk periksa ini itu, karena kalau pake asuransi yang disediakan pemerintah ngga ditanggung tuh semuanya. serba salah memang kita sebagai pasien, tapi melihat kasus yang dialami para dokter selama ini, kasian juga dokternya. ketakutan melakukan tindakan pada pasien karena kalau tiba2 ada hal2 yang tidak terduga eh malah di penjara. menurut saya sih, pemerintah sana tuh kaji kembali undang-undang praktik kedokteran. kasian juga dokter2, banyak teman-teman saya yang dokter itu baik-baik, sayang banget sama pasiennya

    1. iya mbak. memang defensive medicine ini kurang efektif dilakukan di Indonesia yang notabene fasilitas kesehatannya masih minim terutama di daerah. dan tidak semua warga ter-cover asuransi kesehatan. kalaupun punya asuransi kesehatan, kadang tidak mencakup keseluruhan hanya penyakit2 tertentu saja yg dicover asuransi itupun kadang cuma di RS tertentu tergantung asuransinya. saya juga berdoa aja deh semoga pemerintah bisa memberikan fasilitas yang lebih baik dan membuat UU yang bisa melindungi semuanya. aamiin, ^_^ tapi bukan berarti defensive medicine ini tidak baik dilakukan, menurut saya loh. untuk kasus darurat yg butuh penanganan cepat memang okelah tidak tepat jika harus defensive. tapi untuk penyakit2 yang memang memerlukan pemeriksaan khusus saya pikir tidak ada salahnya dokter menunda diagnosa untuk melihat hasil tes secara lebih akurat. bukan begitu?πŸ™‚

      Semangat terus untuk dokter Indonesia.πŸ™‚

      1. Iya…ada beberapa penyakit yang memang bisa langsung bisa ditegakkan diagnosanya tanpa pemeriksaan lanjutan, cukup dengan wawancara dan pemeriksaan fisik, tapi tidak sedikit yang perlu pemeriksaan lanjutan. Jadi.devensive medicine ini penting sesuai dengan penyakitnya. Soalnya kalo dikampung2 mana ada coba pemeriksaan lab, usg, dll

  4. awal bulan ini anak saya demam lebih dari 5hr, dan si DSA minta cek darah, tes typhus, tes DBD, cek urine juga.. kalau semua negatif, katanya mesti tes mantoux juga. Sekaligus rawat inap juga tuh… dan semua ini tentunya gak murah, apalagi karena saya pake sistem reimburse. Mesti bayar sendiri dulu kan jadinya.

    hasilnya ternyata infeksi bagian bawah pernapasan. tapi saya pribadi ngerasanya kok kayak yang over treatment.. apa ini maksudnya defensive medicine? diperiksa sampe komplit (dan mahal) trus baru diobatin?? *hidih malah ikutan nanya balik..

    1. Ih, sama kayak Nisa nih. Ya bisa jadi itu defensive medicine. Untungnya di sini biaya pengobatan anak gratis tis tis. Semua udah tercover asuransi sama jaminan kesehatan dari pemerintah. Rawat inap juga gratis, eh saya bayar ding, bayar biaya makan Nisa selama di RS yang ternyata ga dicover asuransi. Halah.

      *puk puk Mak Pipit.* Sekarang gimana si Kunyil? Udah sehat? Semoga sehat terus ya.πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s