Impian Si Phlegmatis

Di dunia ini, ada dua hal yang patut diperjuangkan. Impian dan cinta.

Begitu kata CineUs Book Trailer ini:

Bicara soal impian, sebenarnya sejak dulu saya tidak pernah punya ambisi untuk mengejar impian. Saya ini orangnya mengalir saja. “Kita lihat saja nanti”, begitu kata-kata yang sering saya ucapkan dan di-amin-i beberapa teman saya. Sifat seperti itu jelek? Hmm… tidak juga.

Saya kecil, suka sekali dengan komik. Dari SD sampai kuliah saya koleksi komik. Jumlahnya sudah ratusan. Tapi karena saya ini ‘baik hati’, saya sering lupa kalau ada teman yang pinjam dan enggak dibalikin lagi. Jadinya, koleksi saya sekarang paling tinggal 100-200 komik aja yang ada di rak buku di rumah.😦

Komik yang saya suka itu komik Jepang. Dan kayaknya udah satu paket anak yang suka komik Jepang pasti suka nonton anime juga. Akhirnya jadi suka segala sesuatu yang berbau-bau Jepang. Sampai bercita-cita pergi ke negerinya Doraemon ini. Bisa dibilang, saya itu dulu ‘otaku’ sejati. Apa tuh otaku? Fans Jepang gitu deh.

images
gambar: id-wal.com

Tapi, saya ini juga phlegmatis sejati. Tau kepribadian phlegmatis? Yang sudah baca buku Personality Plus pasti udah tau ya. Katanya sih, phlegmatis itu pembawaannya santai. Mungkin sifat saya yang ‘mengalir’ itu banyak dipengaruhi oleh kepribadian ini.

Trus, apa hubungannya Otaku sama Phlegmatis? Enggak ada. Hahaha. Ups, daripada ditimpuk pembaca, baiklah saya jelaskan.

Sejatinya, seorang fans itu akan melakukan apapun untuk mendekatkan diri dengan yang disukainya, dan menjadikannya sebagai tujuan. Trus, berarti saya menjadikan Jepang sebagai tujuan (cita-cita) saya dong? Tepat.

Nah, tapi, karena saya ini orang phlegmatis, saya enggak ngoyo atau terlalu ambisius. Walaupun saya ini pecinta Jepang, saya enggak bergabung di komunitas-komunitas Jepang gitu dulu. Males. Sering datang ke festival-festival Jepang? Enggak juga. Males. Nonton-nonton konser band beraliran J-Rock/ J-Pop? Enggak pernah malah. Hahaha. Lah, fans macam apa saya ini?Β πŸ˜€

Cuma, saya ini tertarik belajar bahasa Jepang. So, saya masuk jurusan bahasa dan sastra Jepang pas kuliah. Awalnya, pilihan ini ditentang ayah saya. Ngapain masuk sastra? Mau jadi apa nanti? Mau kerja apa?

Ah, males banget kan. Tapi, karena phlegmatis itu orangnya keras kepala sebenernya, saya keukeuh daftar sastra Jepang. Pas lihat IP saya selalu bagus tiap semester, ayah saya mingkem. Hehehe.

Kemudian, saya rajin ikut ujian seleksi beasiswa ke Jepang demi mewujudkan cita-cita saya pergi ke Jepang. Tapi karena saingannya banyak dan pintar-pintar, saya selalu tersingkir (bilang aja enggak lulus ujian). Sejak itu, saya malas ikut lagi (males mulu sih). Saya fokus saja buat lulus tepat waktu. Eh, pas udah lulus, saya berusaha untuk tidak iri pada teman saya yang akhirnya terpilih untuk program pertukaran ke Jepang TANPA SELEKSI. *gigit jari*πŸ˜›

Tapi, siapa sangka akhirnya saya bisa menjejakkan kaki di negeri Doraemon ini. Tanpa seleksi beasiswa, dan tanpa mengeluarkan uang pribadi dan uang orangtua. Bagaimana bisa?

Jawabannya adalah cinta. Hmm… faktor “X” ini mah. Hahaha. Ya, begitulah. Saya ini tidak pernah pacaran, dan tidak pernah punya teman cowok akrab. Ibu saya aja sampai pernah tanya, “Dek, kamu punya pacar ga, sih?” :)))) Jerit hati seorang ibu yang was-was anaknya enggak laku.πŸ˜€

Tapi tiba-tiba ada yang ngajak kenalan, itupun lewat jejaring sosialΒ  (dulu zamannya friendster). Setelah kenalan langsung ngajakin nikah. Hah?? Belum pernah ketemu orangnya secara langsung, udah berani ngajak nikah? Trus jawaban saya apa? IYA! *jeng jeng!!*

Eh, enggak langsung nikah juga kali. Sempat LDR (Long Distance Relationship). Lah emang dia tinggal di mana?Β  JEPANG! Oooo….. jadi itu toh alasannya kenapa diterima lamarannya dulu. Huahahahaha. *Ups*

Singkat cerita, kami menikah di bulan November 2010. Empat bulan kemudian, saya menyusul suami tercinta ke Jepang. It’s like a dream comes true, isn’t it? Akhirnya, Tuhan mengabulkan cita-cita saya sejak kecil. Dapet bonus jodoh lagi. Eh salah, Tuhan beri saya jodoh, bonusnya bisa pergi ke Jepang. Hehe, kebalik ya. Alhamdulillah.πŸ™‚

yokootani289x300
credit

Namun, jika kamu tanya apakah orangtua saya bangga pada saya? Sepertinya iya. Tapi jika kamu tanya apakah saya bangga pada diri saya sendiri? Hmm… jawabnya belum. Saya ini orangnya minderan. Salah satu sifat jelek phlegmatis. Kalau saya lihat teman-teman saya yang lain yang lebih berhasil, langsung minder.

Suatu hari saya ngobrol dengan suami.

“Pa, lihat deh. Ini temen mama waktu kuliah, si A. Dia tinggal di luar negeri sekarang. Sekolah lagi dapet beasiswa. Hebat ya. Trus ini si B, temen SD. Lulusan universitas luar negeri. Sekarang kerjanya keliling dunia. Keren. Ada lagi si C, pintar menulis. Tulisannya tersebar di koran-koran dan majalah. Udah nerbitin buku pula. Trus si D, E, F, ….”

“Mama juga di luar negeri,” kata suami saya santai.

“Ah, mama kan beda. Mama ke sini tanpa perjuangan. Enggak pake mikir, enggak pake kerja keras. Sama aja kayak dapet rejeki nomplok. Apa yang bisa dibanggakan?”

“Sama aja kan?” katanya lagi.

Hhhh, tetep aja rasanya enggak sama. Orangtua boleh bangga pada saya, mungkin orang lain juga banyak yang bilang saya keren (keren apanyaaa?). Tapi kenapa ya saya merasa saya belum boleh berpuas hati pada diri saya. Aduh saya mah belum jadi apa-apa. Belum ada apa-apanya. Belum bisa berguna buat orang lain. Apa yang bisa dibanggakan?

Mengutip lagi isi dari book trailer: Kepuasan itu dari ‘sini’ (nunjuk ke hati -dalam diri-), bukan dari ‘sana’ (nunjuk ke orang lain). Eh, bener enggak sih kalimatnya? Hahaha. :V

Jadi, apa sih arti kebanggaan buat saya? Kebanggaan buat saya adalah ketika saya bisa berguna buat orang lain, ketika saya bisa membahagiakan orang lain, ketika saya bisa menginspirasi orang lain. Lah, saya yang sekarang mah belum jadi siapa-siapa.

Oya satu lagi, kebanggaan buat saya adalah nanti setelah saya jadi dosen bahasa Jepang, setelah saya jadi penerjemah, setelah saya jadi dubber, setelah saya jadi penulis, setelah saya…. Ups, itu sih impian saya yang lain. Hahaha. Aamiin. Kata suami saya, “lulus dulu tuh N1!” *makjleb!*Β  -N1 adalah level tertinggi kemampuan bahasa Jepang-

Kita lihat aja lah nanti. Tetap genggam impian, dan berproses menujunya. Saya yakin ketika kamu menyebutkan apa mimpimu, maka seluruh semesta akan bekerja sama untukmu mewujudkannya.

Saat ini, saya sedang menikmati kebanggaan sebagai seorang ibu. Anak saya, Nisa, walaupun wajahnya sama sekali enggak ada mirip-miripnya sama saya, tapi ternyata sifatnya saya banget. Bakal ada dua orang phlegmatis nih di rumah. Hihihi.

Sifat pemalu dan pendiam serta takut dengan lingkungan asing, sedikit demi sedikit mulai bisa diatasi Nisa. Nisa yang dulu kalau ketemu orang asing langsung “eeeekk” (nangis), sekarang udah enggak lagi bahkan udah mau digendong. Trus kalau berangkat ke daycare juga udah dengan sukacita bilang “bye-bye”. Ibu mana yang tidak bangga lihat perubahan positif itu. Nih foto-fotonya waktu main sama om-om dan tante-tante.πŸ™‚

 

Yang jelas, mau jadi apapun dirimu, percaya deh kamu tetap jadi kebanggaan orangtuamu.πŸ˜‰

 

***

Tulisan ini dipersembahkan untuk Lomba Artikel CineUs Book Trailer Bersama Smartfren dan Noura Books.

New-Andromax-U2-250x250-JPEG

27 thoughts on “Impian Si Phlegmatis

  1. Wah kalo ada keras kepalanya, artinya ada sentuhan melankolis dikit yaπŸ˜€
    Salam kenal mbak… lucu sekali ya jalan hidupnya, kok ya pas ambil sastra jepang, eh pas nikah diboyong ke jepangπŸ™‚

  2. Luar biasa, Mak. Saya suka dengan kalimat “Saya yakin ketika kamu menyebutkan apa mimpimu, maka seluruh semesta akan bekerja sama untukmu mewujudkannya”.
    Good luck Mbak, dan salam kenal ya.πŸ™‚

  3. kata ahli hypnoterapi yang dulu pernah saya datangi (bukan mo belajar hipnotis tapi kepoo sama hipnotis positif-ga ada yg nanya, jawab sendiri_, hehe). Impian itu bisa terwujud karena ada sugesti di alam bawah sadar kita. Secara tidak langsung mempengaruhi pola pikir dan kemudian menjadikan suatu ikhtiar. Katanya nih, kalau pengen sesuatu dan menuliskan di kertas ataupun tempat yang sering kita lihat, biasanya impian itu terwujud.

    Saya pernah sih coba beberapa kali, Alhamdulillah ya impiannya kesampaian. Tapi bukan cuma sugesti aja sih, pastinya ada campur tangan Allah di setiap peristiwa. ^^

    btw, saya envy sama mama nisa. Pengen dong ke Jepang. Hehe

    1. dari sugesti (pikiran) akan menciptakan tindakan (usaha), dan dari tindakan itu akan membuahkan hasil yang diharapkan. begitu bukan, Mak? πŸ™‚
      Aduh jangan cemburu sama saya, pasti Mak Novia punya mimpi yang lebih hebat. Ayo diceritain! ^_^

  4. Senengnya, ya mbak…akhirnya jadi bisa ke JepangπŸ™‚
    Eh, itu Nisa lama2 jadi mirip kayak orang JepangπŸ˜€
    Salam kenal… semoga sukses untuk Mama Nisa sekeluarga di sana ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s