Nisa dan Hoikuen -belajar mandiri dari anak Jepang-

Apa itu hoikuen? Hoikuen adalah tempat penitipan anak (balita) di Jepang. Ini untuk anak-anak usia pra-sekolah yang orangtuanya (terutama ibunya) bekerja, sekolah, sakit sampai dirawat di RS, akan melahirkan, dll.

Selain alasan di atas, misal si ibu masih di rumah, anak tidak bisa dititipkan. Untuk beberapa hoikuen pemerintah bahkan mensyaratkan jam minimal yang harus dipenuhi bila ibu bekerja, misal ibu bekerja harus di atas 4 jam per hari, dan ibu sekolah harus diatas 22 jam per minggu. Jika kurang dari itu, anak akan ditolak masuk hoikuen.

Nisa mulai saya masukkan hoikuen usia 19 bulan (1,5 tahun). Alasannya saya mulai sekolah lagi. Awalnya saya khawatir sekali. Nisa dari bayi tidak pernah lepas dari saya. Bahkan pergi berdua sama papanya tidak pernah sampai lama.

Sensei (guru) di hoikuen Nisa sangat mengerti hal ini dan berusaha menenangkan saya bahwa semua akan baik-baik saja. Semua anak-anak yang ditinggal ibunya pertama kali pasti menangis. Begitu juga Nisa.

Tapi, aturan di hoikuen, ibu tidak boleh menunggui anaknya, meskipun hanya sementara. Begitu anak diserahkan pada pihak sekolah, maka anak menjadi tanggung jawab sekolah. Ibu tidak perlu khawatir. Setiap ada masalah, pihak sekolah akan menanganinya kecuali bila anak sakit maka sekolah akan menghubungi ibu dan meminta untuk dijemput.

Walaupun anak menangis menjerit-jerit saat ditinggal, apa boleh buat. Ibu hanya bisa mengelus dada dan berdoa semoga anaknya bisa segera beradaptasi. Saya kadang ikut menangis sepanjang jalan pulang.๐Ÿ˜›

Enam bulan berlalu, Nisa mulai bisa menikmati kehidupan hoikuen. Walau masih suka menangis jika ditinggal, tapi saat dijemput wajah Nisa berseri-seri. Sekarang juga ia mulai suka menggendong tas sekolahnya sendiri. Bahkan bilang “bye-bye” ke saya saat berangkat sekolah. Syukurlah.

Foto-foto di atas saya dapat dari sensei hoikuen sebagai laporan kegiatan Nisa selama di sekolah. Syukurlah, sepertinya tak ada masalah.๐Ÿ™‚

***

 

Belajar mandiri anak-anak Jepang memang sudah dimulai sejak dini. Contoh simple yang saya perhatikan, sejak bayi, jika bepergian dengan mobil, bayi Jepang akan ditempatkan di tempat duduk sendiri (car seat), tidak dipangku orangtua. Selain faktor keamanan, ini merupakan bentuk kemandirian sendiri.

Kemudian saat beranjak besar, sekitar dua tahun ke atas, jika bepergian saat hari hujan, saya perhatikan anak Jepang tidak berbagi payung dengan orangtuanya. Mereka mengenakan jas hujan sendiri atau pegang payung sendiri lengkap dengan sepatu boot-nya. Saya pikir ini mengajarkan anak bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri agar tidak terkena air hujan. Simple tapi mengena.

Dan contoh masuk hoikuenย atau yochien (TK), anak-anak tidak ditunggui orangtuanya. Sekeras apapun mereka menangis dan merengek atau merajuk, ibunya tidak akan datang menolongnya. Yang ada hanya guru-gurunya dan teman-temannya yang mungkin asing baginya. Mereka baru akan bertemu lagi dengan ibunya jika waktunya sudah tiba (waktu pulang). Di sini, anak belajar mengatasi emosinya. Belajar beradaptasi, dan menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa bantuan orangtuanya di usia dini. Juga belajar disiplin mengenai waktu, tidak ada istilah pulang duluan kecuali bila sakit atau ada keperluan.

Menjelang masuk SD, anak-anak Jepang sudah tidak diantar-jemput lagi oleh orangtuanya. Mereka berangkat sendiri ke sekolah bersama teman-temannya. Tiap kelurahan ada pos-pos keberangkatan sekolah anak SD. Anak-anak yang bersekolah di sekolah yang sama dan rumahnya berdekatan, akan berangkat sama-sama tiap pagi dan sore saat pulang.

Ini sudah terkoordinasi dengan pihak sekolah dan para orangtua. Pagi-pagi anak-anak akan berkumpul di tempat yang ditentukan pada jam yang ditentukan, dan berbaris rapi jalan kaki menuju sekolah. Barisan ini biasanya dipimpin oleh anak usia besar (biasanya kelas 5 atau 6). Tiap anak besar mendampingi anak yang lebih kecil. Jadi orangtua bisa tenang. Lagi-lagi ini belajar kemandirian.

Oya, meskipun jarak sekolah dekat, dan misalnya si anak sebenarnya bisa berangkat sendiri ke sekolah, tetap tidak diperbolehkan. Artinya mereka tetap harus berangkat bersama-sama dengan rombongan kakak-kakak kelasnya dan melewati rute yang sudah ditentukan (tidak boleh menciptakan rute sendiri). Anak kecil bahaya jika bepergian sendiri, tapi jika ber”gerombol” seperti ini akan lebih aman. Kegiatan berangkat sekolah sama-sama ini selain faktor keamanan, juga untuk belajar disiplin tentang waktu, dan kerjasama, juga tanggung jawab untuk menjaga keselamatan diri dan temannya. Jika anak yang lebih besar, mereka bertanggung jawab menjaga keselamatan diri dan adik-adik kelasnya. Luar biasa bukan?

Saya sukaaaa sekali lihat pemandangan tiap pagi, anak-anak SD bertopi kuning dan tas ransel berbaris rapi 2-2 jalan kaki menuju sekolah. Di apato saya ada pos keberangkatannya. Jadi tiap pagi berisik suara anak-anak ngobrol menunggu teman-temannya kumpul berangkat sekolah.

Tapi ini berlaku untuk anak SD aja. Jika sudah SMP, silakan berangkat sekolah sendiri. Karena anak SMP dianggap sudah bisa bertanggung jawab penuh terhadap dirinya sendiri.

***

 

Balik lagi ke Nisa dan hoikuennya. Saya tidak tahu apakah akan menyekolahkan Nisa sampai SD di sini. Saat ini belum terpikirkan. Tapi saya berandai, alangkah bagusnya jika anak-anak Indonesia diajarkan konsep mandiri dan disiplin seperti ini.

 

 

37 thoughts on “Nisa dan Hoikuen -belajar mandiri dari anak Jepang-

  1. catatanmamanisa said:
    Saya sukaaaa sekali lihat pemandangan tiap pagi, anak-anak SD bertopi kuning dan tas ransel berbaris rapi 2-2 jalan kaki menuju sekolah. Di apato saya ada pos keberangkatannya. Jadi tiap pagi berisik suara anak-anak ngobrol menunggu teman-temannya kumpul berangkat sekolah.

    Saya jadi kangen dengan suasana seperti di atas, sementara di jalan-jalan juga bisa disaksikan mereka dengan kemeja dan jas hitam yang begitu bersemangat bersepeda ria menuju ke tempat kerja.

    *terkenang semasa masih di Shonan, Chigasaki*

    Betul, pendidikan kemandirian memang sudah harus ditularkan ke negeri ini. Masih sering saya jumpai, para ibu mendampingi anak-anak pra-TK nya di sekolah-sekolah.

    1. chigasaki itu di kanagawa ken ya pak?
      iya, anak2 kalau ada ibunya di dekatnya biasanya lebih manja. dan si ibu biasanya ga tega melihat anaknya nangis terus. mungkin pihak sekolah yg harus tegas ya ‘ngusirin’ ibu-ibu nya. hehehe.๐Ÿ˜€

      makasih sudah mampir dan meninggalkan jejak pak Iwan.๐Ÿ™‚

    1. iya, harus tega Mak. kadang emaknya yang sering ga tega-an. saya dan nisa butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa saling ikhlas melepaskan. hehe. mungkin dicoba konsisten Mak. lama-lama anak akan terbiasa. Semangaaat Mak!

    1. metode yang mana mbak? metode anak SD berangkat sendiri kah? Sebenarnya berangkat sekolah beramai-ramai untuk anak SD ini, mereka enggak benar2 dilepas sendiri mbak. Ada petugas patroli yang berjaga tiap beberapa meter (sekitar radius 100-300 m) -terutama di zebra cross saat menyebrang- di tiap rute perjalanan. petugas patroli ini dipilih secara bergilir dari pihak orangtua murid dan pihak sekolah, tugasnya untuk mengamankan dan memastikan anak-anak sampai di sekolahnya dengan selamat. Di gerbang pintu sekolah juga ada guru piket yang bertugas menyambut mereka.

      Sebenarnya bisa saja ini diterapkan di Indonesia, andai semua pihak mau bekerja sama. tapi mungkin yang saya pikirkan adalah di Indonesia banyak anak2 yang sekolahnya (SD) jauh dari rumah. enggak bisa ditempuh dengan jalan kaki, harus naik angkot, ojek, dll. jadi agak sulit menerapkan konsep ini.๐Ÿ˜ฆ

      kalau metode anak2 TK yang tidak ditunggui ibunya, seharusnya memang begitu kan? kadang ibunya yang tidak tega meninggalkan, sehingga saat anak nangis berlebihan si ibu langsung turun tangan menenangkan. hal ini bukannya enggak boleh, tapi hal itu hanya akan menambah lama proses adaptasi anak. menurut saya sih. hehe.

      1. iya yg SD itu. aku sering liat di dorama2 emang mereka berangkat sendiri dgn teman2 atau malah sudah berkereta sendiri. saya dulu guru SD. dan memang mendapati banyak orang tua yg seolah ga tega meninggalkan anaknya di kelas. bahkan karena anaknya terus memaksa ibunya ikutan duduk di kelas.

        ga semua guru tegas menyikapi hal ini. dan terkadang ada ibu yg malahan membela anaknya, karena tidak mau diminta keluar oleh gurunya, malah anaknya diajak pulang๐Ÿ˜ฆ

        memang mereka cuma butuh watu paling lama seminggu sampe akhirnya bisa kenal dengan guru dan teman2ya. setelah itu mereka biasa aja deh ke sekolah..

        salam buat Nisa ya. pasti jago deh bahasa jepangnya. hehehe..

  2. Hi mbak Nisa, 6 bulan yaa?lama sekaliii.mada sekarang 15 bulan dan saya lagi struggling karena kayaknya mada ngga nyaman dengan daycare nya.baru 2 minggu sih dia di daycare. oh iya,kami tinggal di brisbane. Disini juga anak2 diajarkan untuk mandiri sejak dini. Cuma emang dasar saya ngga tega liat mada jerit2 pas ditinggal, saya jadi sedih. Apalagi mada masih breastfeed. Susahnya double. Dia terbiasa menyusu kapan pun dia mau. Ternyata memang anak butuh waktu ya buat adaptasi. Semoga mada bisa dan saya juga kuat liat mada berproses.aamiin. Thanks for shares your story mbaa..

    1. iya mbak. sama saya jg ga tega, sempat hampir menyerah, karena nisa jd sakit2an. puncaknya sempat dirawat karena infeksi bakteri. huhu. nisa jg masih nenen mba sampe sekarang. tp ga tau gimana caranya dia bisa tuh tidur siang di hoikuen tanpa nenen, hehe. saya berkali-kali ikut nangis waktu pulang habis ngantar nisa. tapi alhamdulillah skrg udah mulai terbiasa, nisa mulai menikmati.

      semoga Mada bisa segera beradaptasi ya mbak. anak2 memang ada tipe yang lama adaptasi kayak Nisa. semoga Mada lebih cepet ya adaptasinya. aamiin. semangaaat mbak.๐Ÿ™‚

  3. hai mba,,tinggal di jepang ya,,wah kyknya di sana emang udah maju bgt ya,,fasilitasnya jg kyknya mendukung bgt,,indonesia mang msh jauh kalo dibanding jepang,,tp anakku di playgrup jg udah diajar mandiri kok,,anakku blm genap 3 thn tp udah ampir bisa mengerjakan pekerjaan untuk dirinya sendiri,,mulai lepas pakai sepatu,,mandi,,gosok gigi,,pakai krudung atau mukena,,lepas pakai baju ampe milih baju sndiri jg alhamdulillah bisa,,seringnya ngga mau dibantuin,,alhamdulillah jg ketemu dg playgrup yg emang mengajarkan kemandirian pd anak,,krn mandiri itu bekal penting bwt anak,,postingan yg bagus mba๐Ÿ™‚

    1. iya mb. wah, pinter ya anaknya. kiss dulu ah. hehe.
      tp menurut saya mandiri bukan sebatas bisa mengerjakan sesuatu sendiri loh mba, tapi juga berani tampil sendiri saat memang situasinya mengharuskan ia untuk sendiri tanpa didampingi orangtua, seperti sekolah tidak ditunggui, atau saat tampil di depan kelas, dll.๐Ÿ™‚

  4. rupanya kedisiplinan dan ketekunan warga Jepang emang dari dini ya, Mbak. Moga Indonesia bisa kayak gini juga. Miris lihat para pelajar yang bingung kalau ga boleh bawa motor ke sekolah, terkait banyak razia pasca kejadian AQZ itu. Kalau ada kayak di Jepang ini kan bagus banget ya. Ga pusing lagi deh…

  5. mbaaaaa…..saya jadi ingat mengantarkan Bo, anak laki-laki pertama saya ke Jardin d’enfants di Jenewa, Swiss…awalnya tidak tega, tapi secara bertahap Bo bisa menyesuaikan dan menikmati masa-masa sekolah di usia yang terbilang dini, 2.5 tahun….saya senagn sekali dengan sistem mereka mba, tidak pernah terlalu ribet, tapi semua kemampuan dasar, termasuk disiplin dan sopan santun diajarkan sesuai dengan porsinya…hasilnya, anak jadi mandiri, PD, dan fun!…semoga Annisa bisa selalu menikmati masa-masa indahnya di jepang ya …salam kenal dari kami sekeluarga :D…

    1. haloooo mbak indah. iyaaa pre-school itu memang tempat bermain main main! sama tempat bersosialisasi ya mbak. nah, selama bersosialisasi itu anak belajar ngantri, berbagi, simpati, sopan santun, disiplin. bukan begitu?๐Ÿ˜‰ salam jugaaa buat Bo chan.๐Ÿ˜€

  6. Salam kenal Mba, saya mau tanya kalau sekolah TK di Tokyo katanya gratis, apa benar? mohon informasinya mba. bia berkenan saya mohon dijawab ke email amalia_eri@yahoo.co.id. karena ada saya mau tanya banyak ke Mba yang sudah pengalaman nih di Jepang. Terima kasih sebelumnya. -Eri-

  7. Salam kenal mba.. Kebetulan bulan depan ini saya mau memasukkan anak saja juga ke hoikuen, lagi deg2 an juga mudah2 an lancar2 saja ya. Oiya klo annisa pendidikan agama nya gimana mba? Sya agak khawatir krena anak akan lebih banyak di hoikuen dengn kebiasan2 mereka. Terima kasih mba…๐Ÿ™‚

    1. salam kenal mbak Lelly. Untuk pendidikan agama islam, memang hanya bisa didapat di lingkungan rumah saja. apa boleh buat mbak. di hoikuen kita hanya bisa tanamkan kebiasaan disiplin dan kebiasaan baik lain, tapi masalah akidah tergantung orangtua masing2 bagaimana mendidiknya.

      Bisa diajak tiap weekend ke masjid, ikut kegiatan2 komunitas muslim yang ada di dekat tempat tinggal. Perkenalkan si kecil dengan islam. ajak ia konsisten, misal ikut rutin mengikuti sholat ibunya, memakan makanan yang halal, kasih pengertian mengapa ada makanan tertentu yang ga bisa dimakan, dll.

      Semangat Mbak.๐Ÿ™‚

  8. suka baca artikelnya. gara-gara baca komik Miiko, jadi kepikiran dan bercita2 punya Tempat Penitipan Anak. Which is di Indo belum banyak, mahal pula. Dilema buat teman2 yang ingin ttp kerja.

  9. ใ“ใ‚Œใ‚’ใฟใฆใ€ใ™ใ”ใ„ๆ„Ÿใ˜ใŒใ—ใพใ™ใ€‚
    ๆ—ฅๆœฌไบบใฏๅญไพ›ใซ่‚ฒๅ…ใ™ใ‚‹ใ“ใจใฏใŸใ„ใธใ‚“ใงใ™ใญใ€‚
    ใใ‚“ใชใ“ใจใ‚ˆใ‚Šใ€ใ“ใฎๅ–ใ‚ŒใŸๅ†™็œŸใฏใƒ‹ใ‚ตใกใ‚ƒใ‚“ใฏใ‹ใ‚ใ„ใ„ใงใ™ใญใ€‚ใ€‚ใ€‚ไปŠใ„ใใคใงใ™ใ‹๏ผŸ

    1. ใ‚ใ‚ŠใŒใจใ†ใ”ใ–ใ„ใพใ™ใ€‚ไปŠ๏ผ“ๆญณๅŠใงใ™ใ‘ใฉใ€‚๏ผพ๏ผฟ๏ผพ

      1. ใˆใˆใ€๏ผ“ๆญณๅŠใ‹๏ผŸใพใ ไฟ่‚ฒๅœ’ใซๅ‹‰ๅผทใ™ใ‚‹ใ‹๏ผŸใ‚ใฎใ€‚ใ€‚ไฟ่‚ฒๅœ’ใจplaygroupใŠใชใ˜ใงใฏใชใ„ใ‹๏ผŸ

  10. Di Indonesia anak belum bisa semandiri itu karena antar jemput berhubungan faktor keamanan. Seperti baru-baru ini anak 9 tahun mandiri pulang kerumah sendiri, hilang dibunuh krn kekerasan seksual..sedihnya…

  11. Salam kenal mama nisa.. ^_^
    mba saya mau nanya, rencananya saya akan sekolah lagi di jepang (insyaallah), dan saya akan membawa anak saya yg berumur 4 tahun. Pas nanti dimasukin ke TK bagaimana caranya agar anak tidak bingung dan cepat beradaptasi dengan teman-temannya yang bahasanya berbeda? saya khawatir nanti anak malah jadi stress karena dia ga ngerti bahasa teman dan gurunya, dan sebaliknya gurunya juga kan ga mungkin kita minta belajar bhs indonesia. saya sudah kenalkan bhs inggris dari sekarang tapi ga masuk. mohon sharingnya. trims sebelumnya.

    1. Salam kenal juga mbak. Bagaimana ya caranya? Percaya saja dengan kemampuan anak. Karena anak anak punya bahasa sendiri, jangan khawatir. ^_^ Guru guru di sini juga kebanyakan sudah berpengalaman menangani anak asing, terutara di kota besar yang dekat lingkungan kampus atau industri. Dicoba aja dulu mbak. Lihat reaksi anaknya. ^^ Semoga lancar rencananya.

      1. oh begitu ya mba.. kekhawatiran saya terlalu besar kayaknya, hehehe. baiklah kalo begitu, terimakasih ya mba sharingnya.. mudah-mudahan saya bisa ketemu mba di Jepang, amin… ^_^

  12. Hallo mba…mohon info kalau penitipan bayi 6 bln d sn bGaimana? Saya in sy Allah oktober ini mulai kuliah di hiroshima…dan saya punya bayi yang bln oktober usianya sktr 6 bln. Kondisi suami g bs ikut ke jepang krn kerjaan di indonesia ga bs s tnggalkN…paling hanya bisa sesekali menengok. Keluarga besar sih minya bayi ditinggal di indonesia…tp saya pst sedih banget. Mhn info untuk penitipan bayi 6 bln. Trims๐Ÿ™‚

    1. Assalamu’alaikum mbak novi. semoga lancar rencananya ya. bayi usia 6 bulan bisa dititip di hoikuen (daycare). waktu penitipan biasanya mulai dari jam 7:30 ~ 18:00. dan bisa nambah di atas jam 18, tapi ada biaya tambahan per jam. kalau mau daftar hoikuen daftarnya di shiyakusho (kantor walikota) masing2, nanti dicarikan hoikuen yg paling dekat dengan rumah / tempat kerja. Ada juga universitas yang menyediakan fasilitas hoikuen bagi mahasiswinya. Nanti kalau mbak novi sudah di Jepang, saya sarankan segera cari informasi ke universitas apakah menyediakan fasilitas hoikuen, atau datang ke shiyakusho (kantor walikota) untuk mendaftar hoikuen. Atau bisa cari kenalan sesama orang indonesia yang kuliah di tempat yang sama buat minta nasihatnya. Sayang saya ga tinggal di hiroshima, jadi ga bisa banyak bantu.
      Semoga Allah lancarkan.

  13. Wah keren ya xD di Indonesia, saya dan adek2 saya terbiasa ditinggal orang tua sejak kecil dan emang ngasih efek yang besar banget. Dari mulai TK dan SD, orang tua dilarang keras nunggu anaknya, habis sampe di sekolah harus langsung ditinggal dan bakal ditanganin gurunya. Emang sih fasilitas kayak gini baru aa di sekolah-sekolah swasta, semoga nantinya sekolah negeri bisa mengadaptasi juga ya ๐Ÿ˜Š Kemandirian yang sederhana ini punya efek yang besar buat selanjutnya, soalnya waktu masuk asrama yang lain mah nangis saya cuma senyum-senyum aja ๐Ÿ˜‚ Adek saya kalau ditinggal orang tua bepergian juga gak ada yang rewel karena udah terbiasa sekolah sendiri ๐Ÿ˜‚

    Tapi masalah antar-jemput menurut saya salah satu faktor keamanan di Indonesia. Di Indonesia polisi belum setegas dan semenjamur di Jepang apalagi sampai perhatian sama anak-anak SD. Belum lagi banyak anak-anak yang sekolahnya jauh banget karena standar pendidikan di Indonesia belum merata. Untuk sekolah swasta memang menyediakan layanan jemputan, tapi untuk sekolah negeri jangan harap lah ya, haha. Di Indonesia biasanya anak pulang-pergi sendiri sejak SMP sih, kalau SD masih banyak orang tua yang takut sama kasus penculikan, kecuali kalau jarak SD-rumah kurang dari 10 meter kali ya haha xD semoga keamanan anak-anak unyu ini jadi perhatian khusus buat aparat-aparat yang bertugas di Indonesia xD

    Salam dari Indonesia ya mbak xD salam juga buat Nisa xD

  14. Dear Mama Nisa,
    Kenalkan saya Yola, inshaa Allah April tahun depan akan lanjut studi di Tokyo. Tulisan Mama Nisa ini buat saya yakin untuk lanjut studi di Jepang loh๐Ÿ™‚ ada beberapa pertanyaan, semoga Mama Nisa bisa bantu menjawab:

    1. Mencari apato dekat Ninka Hoikuen
    Saking sulitnya mencari Ninka Hoikuen (beasiswanya nda cukup klo buat Ninsho huhu) lebih baik saya mencari apato yg dekat dg Hoikuen yg dituju. Tapi ketika pertama kali mencari Hoikuen, harus ada alamat rumah. Kaya telor sama ayam, mana duluan. Mama Nisa ada sarankah?

    2. Dari mana dapat list Hoikuen?
    Apakah dapatnya hanya dari ward office saja?

    3. Saya baca di blog, untuk enroll April, harus apply sejak awal Desember, apakah dg kondisi saya belum jadi mahasiswa (terdaftarnya April) bisa apply untuk Hoikuen?

    Sebelumnya terima kasih sekali Mama Nisa ^^

    1. Salam kenal.
      1. Setahu saya memang harus ada alamat rumah dulu. Jadi, yg pertama ya memang harus pindah dulu ke jepang ya, baru cari hoikuen yg dekat rumah. Biasanya sih gitu.

      2. Daftar list hoikuen bisa dilihat di shiyakusho / kuyakusho bagian anak.

      3. Untuk kondisi tertentu, bisa masuk di tengah2 semester kok.

      Pengalaman teman2 saya, biasanya ibunya dulu yang pindah (ke jepang). Ngurus keperluan kuliah ibu, dll. Setelah kira2 udah settle, baru cari2 info soal hoikuen anak, dll. Terakhir ajak anaknya ke Jepang. Jadi ya memang satu satu diurus.

      Semangat yaa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s