Mengurus Surat Penting Anak di Jepang -Pasca Kelahiran-

Bisa melahirkan merupakan kebahagiaan yang tak terkira bagi seorang ibu. Rasanya utuh menjadi wanita sempurna. Alhamdulillah saya diberi kepercayaan oleh Allah untuk melahirkan seorang bayi perempuan dua tahun lalu.

Di sebuah Rumah Sakit yang jaraknya ribuan kilometer dari kampung halaman. Menyebrangi laut dan lintas negara. Saat negeri tercinta tengah merayakan hari kemerdekaannya, saya tengah berjuang melahirkan seorang generasi baru bagi Indonesia. Semoga kelak bisa berguna bagi nusa dan bangsa.

Oke, sudah cukup sedikit intro lebay dari saya. Langsung aja simak cerita saya pasca melahirkan di Jepang. Apa-apa saja surat yang harus diurus. Kali aja ada emak yang mau melahirkan di Jepang. Semoga bermanfaat ya!

 

Training Menjadi Ibu Baru

Karena proses persalinan saya melalui operasi caesar, jadi saya harus menginap minimal sepuluh hari di RS. Ini sudah ketentuan dari RS. Jika melahirkan normal, menginap lima hari, melahirkan caesar, sepuluh hari. Mungkin tiap RS beda-beda tergantung kebijakan masing-masing RS.

Saya menginap di ruangan kelas ekonomi. Satu ruangan berisi empat tempat tidur pasien. Semua bayi di sini room-in (satu ruangan sama ibunya). Tapi karena bayi saya masih di inkubator, jadi masih di ruang perawatan bayi. Baru bisa room-in setelah hari ke-5 setelah dinyatakan cukup kuat.

Untuk ruangan kelas ekonomi, keluarga dilarang menginap di kamar pasien. Jadilah saya menahan sakit sendirian pasca operasi. Tapi, syukurlah pemulihan saya termasuk cepat. Esok paginya setelah operasi, saya sudah bisa duduk dan makan. Lalu siangnya sudah belajar jalan sambil pegangan tiang infus. Dan nekad berjalan sendiri sampai ruang perawatan bayi. Susternya aja sampai kaget.

Saya datang ke ruang perawatan bayi tiap 2 jam sekali untuk menyusui dan perah ASI. Hasil perahan pertama hanya satu dua tetes saja. Tapi alhamdulillah lama-lama semakin banyak.

Selama sepuluh hari di RS saya mengikuti kelas training ibu baru. Bagaimana cara menyusui yang benar, cara mengganti popok dan membersihkan pup, bagaimana memandikan bayi baru lahir, dsb. Asli ini membantuuuu banget.

Suster-suster di sini baik, saya sampai di-training khusus cara memandikan bayi. Dan satu hari sebelum pulang ada tes praktek di depan suster. Mereka khawatir karena saya tidak ada yang bantu di rumah. Tenang suster! Saya sangat percaya diri. Hehe.

Sebenarnya ada sedikit masalah saat kepulangan kami. Saya baru tahu ternyata saat lahir, di kepala Nisa ada semacam pendarahan dan membeku. Ini tidak tahu disebabkan oleh apa. Waktu lahir Nisa ternyata terlilit tali pusar dan saat diambil sudah dalam keadaan tidak bernapas. Akhirnya dokter melakukan resusitasi dan alhamdulillah bisa bernapas lagi. Ya Allah, betapa saya telah menciptakan trauma pada Nisa kecil. Maaf, ya, Nak.

Nah, darah beku ini masih ada di kepalanya saat mau keluar. Saat dilakukan MRI terlihat jelas. Tapi untungnya diperbolehkan pulang dengan catatan satu bulan lagi harus cek MRI lagi. Sujud syukur.

 

Bantuan Pemerintah

Setiap ibu yang akan melahirkan di Jepang, Pemerintah Jepang akan memberikan tunjangan sebesar 420 ribu yen (kurang lebih 42 juta rupiah). Ini berlaku untuk semua warga yang tinggal di Jepang (tentunya yang sudah terdaftar dengan dibuktikan dengan KTP Jepang). Termasuk orang asing.

Uang tunjangan ini langsung disalurkan ke pihak RS, jadi kita tidak perlu repot-repot ngurus ke kantor pemerintah setempat. Biaya persalinannya tergantung RS tempat melahirkan. Jika biaya lebih dari 420 ribu yen, pasien tinggal membayar kekurangannya. Jika biaya kurang dari itu, pasien akan mendapat kembaliannya. Cool, huh?

Sebenarnya ini adalah salah satu program pemerintah dalam upaya membujuk para wanita Jepang agar mau melahirkan. Konon katanya penduduk Jepang sedang terancam musnah karena wanita Jepang menolak untuk menikah dan punya anak. Angka kelahiran sedikit sekali, sedangkan penduduk usia tua semakin banyak. Jadi, pemerintah berusaha memfasilitasi warganya dengan memberikan tunjangan melahirkan, tunjangan anak tiap bulan sampai anak dewasa, dan kemudahan lainnya.

 

Pendaftaran Kelahiran Anak di Kantor Pemerintah Jepang

Setelah anak lahir, jangan lupa untuk melaporkan kelahiran anak ke kantor pemerintah kota setempat (shiyakusho).

Pelaporan kelahiran anak (shussei-todoke):

  1. Harap lapor ke kantor pemerintah kota (shiyakusho) dalam waktu 14 hari setelah kelahiran.
  2. Membawa surat keterangan lahir dari RS dan cap / stempel (inkan) orangtua (ayah atau ibu).
  3. Bawa juga boshitecho (buku panduan ibu dan anak) dan kartu asuransi orangtua.
  4. Selesai! Hasilnya akan terlihat di buku boshitecho halaman pertama, akan terisi nama anak kita yang ditulis oleh petugas dalam hurus Katakana (penamaan orang asing) dan telah dibubuhi cap resmi dari Walikota setempat.
  5. Setelah shussei-todoke selesai, ada beberapa surat lain yang harus diurus:
    1. KTP anak. KTP anak tidak memerlukan foto tetapi sudah tercantum nomor KTP seperti orang dewasa.
    2. Β Asuransi kesehatan. Asuransi kesehatan anak otomatis ikut orangtua. Jadi silakan mengurus di tempat kerja orangtua. Atau jika orangtua tidak bekerja atau berstatus sebagai pelajar, bisa mendaftarkan asuransi di kantor pemerintah.
    3. Kartu Sehat Anak dan Tunjangan anak. Kartu Sehat Anak ini seperti kartu jaminan kesehatan untuk anak hingga usia 15 tahun. Dengan adanya kartu ini, bila anak sakit, ke dokter atau dirawat di RS, biayanya gratis. Penyakit apapun, habis berapapun, dan di rumah sakit mana pun. Untuk tunjangan anak, anak usia 0-3 tahun mendapat 15 ribu yen (1,5 juta rupiah) tiap bulan yang akan dibayarkan tiap empat bulan sekali. Tunjangan ini diberikan sampai anak dewasa (kalau tidak salah sampai 15 tahun) dengan besaran yang berbeda. Kartu Sehat dan tunjangan anak bisa diurus di kantor walikota masing-masing (shiyakusho).
    4. Visa Anak. Visa anak ini diurus di kantor imigrasi. Diurus dalam waktu 30 hari setelah kelahiran anak. Tadinya saya pikir visa baru bisa diurus setelah anak mengurus paspor terlebih dulu. Ternyata visa bisa diurus tanpa membuat paspor terlebih dulu. Visa ini ditempel sementara di KTP anak sampai anak dapat paspor baru nanti visanya dipindahkan ke paspor. Tapi, untuk ini silakan ditanyakan ke pihak imigrasi kota masing-masing takutnya peraturannya tidak sama.

Setelah semua selesai, jangan lupa laporkan juga kelahiran anak ke Dinas Kesehatan Kota (kenkou-senta), seperti posyandu kalau di Indonesia. Ini untuk memudahkan pemerintah memberikan informasi tentang jadwal imunisasi, jadwal periksa rutin, konsultasi, dll. Biasanya segala informasi akan dikirim melalui pos atau datang sendiri.

Satu bulan pertama akan ada ikkagetsu-kenshin (periksa rutin usia satu bulan). Ini dilakukan di RS masing-masing tempat melahirkan. Diperiksa BB-TB, pola menyusui (ASI atau tidak), dll. Kalau Nisa plus cek MRI karena sudah ada janji dengan dokter untuk melihat perkembangan. Alhamdulillaaaah hasilnya darah beku yang ada di kepala Nisa sudah hilang. Sujud syukur.

Oya, imunisasi di Jepang dimulai usia 3 bulan. Imunisasi pertamanya adalah BCG. Jadi, bayi usia 0-3 bulan, tidak perlu imunisasi. Saya pernah bertanya sama dokter, ini karena bayi baru lahir masih memiliki sistem imun alami yang dibawa dari perut ibunya (plasenta). Begitu katanya. Eh tapi ada imunisasi tidak wajib yang bisa dimulai saat usia 2 bulan yaitu imunisasi Hib dan PCV.

Saat usia 2 bulan, biasanya akan ada kunjungan bidan ke rumah. Jadi, kita akan ditelpon pihak posyandu memberitahukan kalau akan ada bidan yang berkunjung untuk pemeriksaan rutin. Mungkin juga untuk mengetahui secara langsung keadaan lingkungan bayi yang dibesarkan. Bulan berikutnya kunjungan bidan by request. Maksudnya pemeriksaan bisa datang sendiri ke posyandu atau kalau tidak sempat bisa minta bidan yang datang. Saya memilih datang sendiri ke posyandu biar sekalian jalan-jalan lah, daripada di rumah terus.

 

Pendaftaran Kelahiran Anak di Kantor Kedutaan Besar Indonesia

 

1. Paspor anak

Walaupun masih bayi, peraturan baru mewajibkan anak memiliki paspor sendiri, tidak bergabung dengan orangtua. Pembuatan paspor ini bisa dilakukan di Kedubes Indonesia di Tokyo atau Konjen Indonesia di Osaka. Syarat-syaratnya bisa dilihat di web Kedubes Tokyo atau Konjen Osaka. Sepertinya bisa juga mengurus visa pos. Jadi, berkas-berkas dikirim lewat pos, nanti hasilnya juga dikirim lewat pos. Tapi dengan resiko, paspor asli orangtua dan KTP asli orangtua juga ikut dikirim, dan kita akan berharap-harap cemas selama kurang lebih dua minggu tidak memegang dua kartu identitas penting itu di dompet. Huaa. Makanya, lebih amannya sih datang langsung sendiri menyampaikan berkas, nanti hasilnya baru dikirim lewat pos. Oya, setelah paspor jadi, jangan lupa kembali ke kantor imigrasi Jepang untuk memindahkan visa sementara

2. Surat Keterangan Lahir (SKL).

Ini semacam Akte Lahir gitu. Kenapa namanya beda? Karena katanya yang berhak mengeluarkan Akte Lahir itu hanya pemerintah Indonesia di Indonesia. Pihak perwakilan RI di luar negeri tidak berhak mengeluarkan Akte Lahir. Sebagai gantinya, diberikan Surat Keterangan Lahir (SKL). Saya tidak tahu apakah kedudukannya sama atau tidak dengan Akte Lahir. Yang jelas SKL ini harus diurus di Jepang. Bisa sekalian urus paspor biar enggak bolak balik ke Kedubes / Konjen.

Selesai! Fiuh, banyak juga ya surat-surat yang harus diurus. Tapi, proses pembuatannya tidak makan waktu lama kok. Cuma pas nyiapin berkas-berkasnya aja yang agak ribet. Hehe. Hari-hari saya pun disibukkan dengan mengurus bayi dan tugas-tugas rumah tangga. Maklum enggak ada pembantu.

Begitulah, lika-liku melahirkan di Jepang. Tidak sulit kan? Tidak usah terlalu banyak berpikir, just do it! Oya, waktu itu ibu saya sempat datang dari Indonesia selama dua minggu untuk menengok cucu dan membantu saya pasca melahirkan. Love you, Mom!

 

 

***

Catatan: Info di atas tentang pelaporan kelahiran anak di kantor pemerintah Jepang saya lakukan di shiyakusho kota Kariya, Prefektur Aichi tahun 2011. Jika melahirkan di kota lain di luar Prefektur Aichi, silakan menanyakan langsung ke shiyakusho masing-masing ya. Takutnya aturannya beda.πŸ™‚

 

 

5 thoughts on “Mengurus Surat Penting Anak di Jepang -Pasca Kelahiran-

  1. mbaaaa….saya jadi senyum-senyum sendiri waktu baca postingan ini…heboooh yaaa…dan saya mengalaminya sendiri di Jenewa…untung udah sempat ‘berguru’ dengan teman yang sudah melahirkan duluan di Swiss dan dengan perjuangan panjangπŸ˜€, akhirnya dapat juga akta lahir anak anak keduaku, Nadine…Btw, SKL tidak sama dengan akta mba…nanti setelah kembali ke Indonesia, bawa SKL yang diterbitkan KBRi atau KJRI, plus akta lahir dan terjemahannya, di tambah fotokopi KTP dan Kartu keluarga di Indonesia untuk membuat Akta Lahir Indonesia yang sekarang sudah bilingual :D….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s