Yuk, Jalan Kaki!

Arukou! Arukou! Watashi wa genki

Aruku no daisuki. Don don yukou!

Yuk, jalan kaki! Yuk, jalan kaki! Saya sedang bersemangat.

Saya suka sekali jalan kaki. Yuk, terus maju!

Itulah penggalan lagu anak-anak di atas. Makanya anak-anak Jepang suka banget jalan kaki. Sampai ada lagunya. Hmm… lagu anak-anak Indonesia tentang jalan kaki ada nggak, ya? *thinking time*

Eh tapi beneran loh. Orang Jepang seneng banget jalan kaki. Dari mulai anak kecil sampai nenek-nenek kakek-kakek. Dari mulai anak sekolah sampai pegawai kantoran berdasi. Semua jalan kaki.

Suka lihat drama Jepang kan? Di situ pasti ada adegan tokohnya jalan kaki ke sekolah, atau jalan kaki ke stasiun kereta, dll. Ya memang begitu kenyataannya.

Saya di sini juga jadi ketularan senang jalan kaki. Sebenarnya senang karena terpaksa sih, hahaha. Jarak apato saya ke stasiun kereta satu kiloan, kurang lebih 15-20 menit jalan kaki. Jarak apato ke supermarket buat belanja juga satu kilo, 15 menit jalan kaki. Jarak apato ke hoikuen (sekolah) Nisa kurang lebih 1,5 kilo, 25-30 menit jalan kaki. Gimana nggak senang jalan kaki coba? Hahaha.πŸ˜€

Kalau di Indonesia lebih enak, keluar depan jalan besar bisa langsung nyetop angkot yang tiap menit seliweran. Atau naik ojek yang lebih cepet. Kalau di daerah bisa manggil becak.πŸ˜€ Di Jepang? Saya pernah mengeluh, duh kenapa nggak ada tukang ojek siiih??πŸ˜› Sampai sampai saya berpikir Jepang kekurangan alat transportasi. *keplak*

Akhirnya setelah selama setahun saya jalan kaki ke sana kemari, saya dibelikan sepeda. Asyiik! Ini juga kendaraan favoritnya orang Jepang. Terutama mami-mami yang jemput anak-anaknya di TK pake boncengan depan belakang. Pernah lihat? Kereeen yaa!

Sakamichi toneru kusappara

Ipponbashi ni dekoboko jarimichi

Kumono sugugutte kudari-michi

Lereng, terowongan, jalan berumput

Jalan kerikil bergelombang ke jembatan

Merunduk melewati sarang laba-laba, di jalanan menurun

Budaya jalan kaki ini memang sudah biasa di Jepang. Sejak bayi, para orangtua biasa membawa bayi mereka jalan-jalan ke taman. Anak-anak balita di pre-school-nya juga setiap hari ada jadwal jalan kaki ke taman terdekat (kecuali musim dingin).

Menjelang SD, anak-anak tidak ada yang diantar orangtuanya naik sepeda atau mobil ke sekolah. Mereka jalan kaki bersama teman-teman satu komplek. Ini sudah terkoordinasi. Sampai nenek-nenek kakek-kakek juga rutin jalan kaki keliling kompleknya. Biasanya sambil bawa kereta dorong untuk membantunya berjalan. Ada juga yang sambil menuntun anjing peliharaannya. Pemandangan yang rutin saya lihat tiap sore.

page
kumpulan foto berbagai sumber*

Di Indonesia, dengan alasan panas, nggak ada trotoar, polusi udara, banyak orang malas jalan kaki. Ke warung yang jaraknya mungkin hanya 500 meter aja kadang naik motor atau naik ojek. Padahal musim panas di Jepang lebih panas loh, tapi orang Jepang tetap semangat tuh jalan kaki meski dengan perlengkapan sarung tangan dan payung anti UV. Hehe. Masalah trotoar, kalau cuma jalan di komplek aja mah nggak usah pake trotoar juga nggak pa-pa kali, orang Jepang aja jalannya melipir di pinggir kok. Kalau polusi udara, bukannya kalau kita naik motor itu malah ikutan nambahin polusi ya?

So, jalan kaki yuuuk! Paling nggak, naik sepeda deeeh. Buat yang muda-muda nih, daripada naik motor belum punya SIM malah membahayakan orang lain, mendingan jalan kaki.

Para orangtua jaman dulu sering cerita, kalo sekolah jauh, jalan kaki sampai 2 kilo atau 5 kilo lebih. Orang jaman sekarang menilainya “wah, kasihan!”. Tapi, coba deh tanya orangtua kita, jawab mereka pasti menikmati perjalanannya. Sama aja kayak bertualang. Di jalan bisa bertemu orang baru, saling menyapa, kadang ketemu serangga aneh yang bikin penasaran. Nambah ilmu juga tuh kan. Badan juga jadi lebih sehat. Bisa bangun lebih pagi karena harus jalan, nggak kayak anak sekarang bangun siang kadang telat dengan alasan, “kan nanti diantar ojek cepet”. Ups.πŸ˜›

Saya sendiri? Dari dulu termasuk yang sering jalan kaki. Karena rumah saya agak masuk ke dalam, jauh dari jalan besar, jadi kalau turun dari angkot harus jalan kaki kurang lebih 10 menit. Waktu SMP, saya pulang pergi sekolah bareng temen yang beda RT, harus jalan ke tempat janjian trus ke jalan besar sekitar 20 menit. Pas kuliah di Jogja, juga sering jalan ke kampus. Waktu itu kos-an saya di jalan Kaliurang km.5,5 dan kampus saya di Kampus Sastra UGM. Hmm… jalan kaki bisa sampai 30-45 menit. Ketauan deh saya ini mahasiswi kere yang motor aja nggak punya. Hahaha.πŸ˜€

Udah ah, jadi ngelantur ke mana-mana. Yuk, biasakan jalan kaki kayak orang Jepang. Jarak satu kilo aja nggak jauh, kan? Nggak usah banyak mikir, nggak usah banyak mengeluh, nggak usah takut betis gede, just keep going. Ajak juga anak-anak kita biar pada suka jalan. Go green gitu, mengurangi polusi. Kalau nggak mampu beli sepeda, jalan kaki doang mah sanggup doong!πŸ™‚

 

 

5 thoughts on “Yuk, Jalan Kaki!

  1. Iya ya, kalo orang indonesia lama kepanasen jadinya lebih item mba. Beda sama orang jepang yg kepanasen juga ga item-item. Hehehe, mungkin itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s