Ramadhan di Jepang

Ini adalah Ramadhan saya yang ke-tiga di Jepang. Yang pertama tahun 2011, bertepatan dengan hamil besar dan di pertengahan Ramadhan melahirkan. Kedua tahun 2012, saya berpuasa sambil menyusui. Dan sekarang di tahun ke-tiga, status saya berubah menjadi pelajar dan pekerja part-time, masih sambil menyusui. ^_^

Jadi, sudah tiga kali Ramadhan dan tiga kali Lebaran saya tidak pulang. Hihi. Terpaksa jadi Bang Toyib nih. ^_^

Ramadhan di Jepang, biasa saja tidak seperti di Indonesia. Di sini tidak ada yang berubah, semua beraktifitas seperti biasa. Orang Jepang pun tidak tahu kalau kita sedang puasa. Kalau tahu, mereka bisa terheran-heran. “Pasti berat, ya.”,Β  “Loh, kamu puasa juga, di sini kan bukan Indonesia?”, “Minum juga tidak boleh? Nanti bisa mati.”, begitulah tanggapan-tanggapan orang Jepang tentang puasa. Hihi, lucu ya kadang pernyataannya. Yah, sebisa mungkin saya jelaskan dengan bahasa sederhana. Kalau mau cari suasana Ramadhan, bisa mengunjungi masjid, atau pergi ikut pengajian perkumpulan muslim seperti KMI Jepang. Biasanya ada iftar (buka bersama), dan kajian-kajian Ramadhan.

Ramadhan pertama kali di negeri orang langsung ketemu musim panas. Musim panas di Jepang, suhu bisa mencapai 40 derajat jika sedang terik, ditambah kelembaban yang tinggi, dan waktu siang yang lebih lama (kira-kira 16 jam). Ramadhan pertama, saya tidak berpuasa karena saat itu kondisi tidak memungkinkan. Saya harus banyak makan untuk menambah berat si jabang bayi yang masih di rendah. Agak ribet juga karena harus pindahan apato, ngurus ini itu. Tapi di akhir dapet kado terindah seorang bayi mungil dan kedatangan Mama dari Indonesia. Saya resmi menjadi ibu.

Ramadhan kedua, lagi lucu-lucunya. Nisa satu tahun. Belajar jalan. Saya lagi seneng-senengnya masak buat Nisa, ditambah eksperimen bikin kue lebaran. Dengan kondisi sambil menyusui, dan musim panas yang menyengat, saya berhasil melewati rintangan selama berpuasa. Tapi setelahnya tagihan listrik membengkak karena AC nyala hampir 24 jam!! Hahaha.

Ramadhan ketiga, perubahan status dari ibu rumah tangga menjadi ibu rumah tangga sambil sekolah dan kerja part-time. Masih di musim panas, dan masih agak kewalahan sama jadwal pribadi. Huuft. Pagi jam 2 bangun untuk sahur. Jam 3 subuh, pengennya sih lanjut tilawah Al-Qur’an yang lama (karena disambung tilawah online di skype bersama teman-teman grup). Tapi tilawah online-nya cuma bertahan 2 hari karena ga kuat ngantuk banget, dan badan capek banget rasanya karena jam 6 harus bangun lagi untuk masak dan nyiapin bento buat Nisa dan papanya. Masak yang simple dan ga pake lama, usahakan masak masakan yang agak tahan lama, karena makanan di musim panas cepat basi, walaupun udah dimasukin ke termos makan, terutama untuk bentonya si papa karena akan dimakan jam 7 malam saat buka puasa di kantornya.

Jam 7 pagi, kalau tidak ada gangguan dari Nisa (misal rewel minta gendong, nenen, dll), semua persiapan bisa selesai. Jam 8 lewat sedikit, berangkat antar Nisa ke hoikuen, abis itu berangkat kuliah. Jam 12 pulang, 12.30 berangkat lagi kerja part-time. Jam 5.30 selesai, pulang dulu naroh motor ganti sepeda untuk jemput Nisa jam 6. Abis itu kadang mampir belanja. Sampai di rumah, masak kilat, nyuapin Nisa, sambil nunggu buka puasa. Kegiatan dilanjutkan dengan nemenin Nisa main sebagai konsekuensi seharian sekolah. Waktu-waktu gini, Nisa bisa sangat nempel, mau cuci piring aja nggak bisa. Jadi rumah bisa sangat berantakan! Huuft.

Jam 9-an, biasanya Nisa udah tidur. Baru deh bisa beres-beres rumah. Oya, masih harus masak lagi buat sahur. Karena waktunya agak banyak dan nggak ada gangguan, jadi masak yang ribet dikit bisa. Hehe. Jam 11-an papa pulang. Biasanya si papa makan lagi. Saya juga kadang ikutan makan. Hihi. Ngobrol sebentar, jam 12-an baru tidur untuk bangun lagi jam 2, dst.

Aaahh, sebenarnya agak ribet sama jadwal masak yang berkali-kali. Pengen masak sekali aja langsung banyak buat nanti-nanti gitu, tapi kadang saya masak banyak suka abis dalam satu waktu nggak ada sisa buat nanti, jadi harus masak lagi deh. (yaaa, dipisahin dooong!) Hehehe.

Yah, nggak sempat punya waktu banyak untuk perbanyak tilawah dan ibadah di bulan Ramadhan, semoga apa yang saya kerjakan sedikitnya bisa dicatat sebagai amalan saya. Aamiin.πŸ™‚

Photo-0034
Nisa udah gedeeee yaaaa! ^_^ *gambar ga nyambung sama tulisan*

***

Tulisan ini diikutsertakan untuk GA dalam rangka Ramadhan Giveaway dipersembahkan oleh Zaira Al ameera, Thamrin City blok E7 No. 23 Jakarta Pusat

blogger-image--950558779

20 thoughts on “Ramadhan di Jepang

  1. NISAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!

    *anggota Nisa fans Club*

    rata2 jadi lebih berat ya Mama Nisa kalo puasa di luar. Si Mpok Isti juga cerita, puasanya 16 jam di sana -___-“

    1. hahaha, ada penggemar berat Nisa. ^_^
      sebenernya ga mau dibilang berat sih, sama aja kok, namanya puasa godaannya pasti sama, cuma bedanya kalo di Indo puasanya rame2 karena banyak muslimnya, kalo di sini berasa puasa sendirian. jadi pas yang lain makan, kita mati gaya. hihihi. ^_^

  2. Waaaaw, maka aku akan bilang untuk diriku sendiri “Maka nikmat tuhan kamu manakah yang kamu dustakan” Hiks…aku di Indonesia tidak begitu panas, aku ada pembantu, tapi aku malah banyak tidurnya #ooopsss.

    Sukses Ramadhannya ya Mama nisaa
    astinastanti.blogspot.com

  3. Emak! Nisa nya udah gede sekarang ya, rambutnya udah bisa diikat, ih licu banget siiihh. Hihi. Wah sekarang part time juga? Nggak kebayang capeknyaaa. Salut deh! Kira-kira tahun depan ramadhan ada apalagi ya mak? Apa ada dedek buat nisa? :p makasih ya partisipasinyaπŸ™‚

  4. *hugs*
    Walaupun tilawah dan ibadahnya sesempat aja, insya Allah pengabdian kita sbg ibu dan istri juga tak kalah pahalanya. Aamiin!
    Udah lama gak main kesini, kangeeeen!πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s