Melihat Lebih Dekat

Dulu saya penumpang setia Bis Kariya. Kemana-mana naik bis. Sekarang udah agak jarang karena ada motor. Kadang kangen juga naik bis karena saya bisa memperhatikan orang-orang yang naik. Tingkah lakunya macam-macam, saya jadi bisa belajar juga.

Yang khas dari bis ini adalah penumpangnya sebagian besar para manula. Obaasan (nenek) dan ojiisan (kakek). Hehe, kenapa begitu ya? Rupanya karena sebagian penduduk di sini memiliki mobil pribadi, yang tua-tua mungkin karena sudah tidak awas lagi matanya jika mengemudi, jadi naik bis. Beda dengan di Tokyo atau kota-kota besar lainnya di Jepang yang transportasi umumnya banyak, di Kariya transportasi umumnya sedikit. Stasiun kereta tidak banyak menjangkau kelurahan-kelurahan kecil, jadwal bis satu jam sekali dan hanya sampai pukul 8 malam, jadi kalau tidak punya mobil pribadi, agak sulit kemana-mana dengan leluasa.

Kali ini saya ingin bercerita tentang pengalaman naik bis. Kalau saya pergi naik bis pagi pukul 9-an atau pulangnya pukul 4/5 sore, saya pasti bareng dengan anak-anak penderita down syndrome. Jumlahnya kadang banyak. Usianya sudah agak besar sih, saya taksir mungkin sekitar usia 12-17 tahun. Di dalam bis, mereka saling menyapa “selamat pagi” dengan teman-temannya, dan ngobrol dengan suara keras. Ada juga sih yang diam memperhatikan atau sibuk dengan gadgetnya, ada juga yang menutup kuping dan matanya (saya tidak tahu ini kenapa, mungkin semacam trauma sesuatu). Rupanya mereka ini setiap hari pergi ke sekolah khusus mungkin semacam care center atau apa saya tidak tahu pasti, soalnya saya selalu turun duluan, jadi tidak mengikuti sampai di mana mereka turun.

Di Jepang, penderita down syndrome termasuk banyak juga. Saya tidak tahu ini karena faktor apa, tapi saya kagum dengan mereka. Kenapa? Karena mereka bisa mandiri. Mereka pergi sekolah, naik bis, sendiri loh. Tidak diantar orangtua, dan tidak mengganggu atau merepotkan orang lain. Mereka tidak malu. Orang-orang di sekitar juga menganggap biasa, tidak memandang jijik atau sebal. Mereka adalah bagian dari masyarakat juga sama seperti yang lain.

down-syndrome-day-dancer-small-40140
credit

Di TV Jepang banyak yang menayangkan liputan tentang penderita down symdrome atau orang-orang berkebutuhan khusus yang berprestasi. Ada juga yang keluarga yang menceritakan punya anak berkebutuhan khusus. Bahkan ada dorama Jepang yang menceritakan tokoh utama down syndrome bisa menikah dan punya anak normal dan hidup seperti biasa dalam masyarakat walau tak mudah. Judul doramanya saya lupa. Dan lain sebagainya. Tayangan seperti ini saya pikir sangat penting untuk mengedukasi masyarakat bahwa ada orang-orang luar biasa yang diberi kelebihan lain di luar kebiasaan orang-orang biasa. Sehingga masyarakat akan terbiasa hidup dengan mereka, dan tidak lagi memandang aneh mereka.

Kalau di Indonesia, saya jarang atau bahkan tidak pernah melihat penderita down syndrome berjalan-jalan di tempat umum. Saya tidak tahu apakah di Indonesia jumlahnya lebih sedikit dibandingkan Jepang? Tapi saya rasa tidak juga. Apa mungkin mereka cenderung “disembunyikan” oleh keluarga mereka di rumah? Kasihan sekali. Tapi mungkin jika pergi sendiri pun, keluarga juga pasti khawatir. Faktor keamanan yang jadi alasan utama, belum lagi reaksi masyarakat kita jika melihat orang-orang berkebutuhan khusus. Semoga suatu hari pemerintah bisa memberikan perhatian lebih dan fasilitas untuk para penderita down syndrome dan berkebutuhan khusus lainnya, juga mengedukasi masyarakat supaya memiliki kesadaran dan simpati pada mereka.

Eniwei, ada lagi yang mandiri dari para penumpang bis ini. Yaitu para obaasan dan ojiisan juga tak mau kalah. Mereka, walau ada beberapa saya lihat usianya sudah sangat renta, masih kuat berjalan dan naik bis sendiri. Biasanya mereka berjalan dengan dibantu kereta dorong.

Suatu hari, saya duduk di samping obaasan (nenek) Jepang. Obaasan menyapa saya dan mengajak saya ngobrol. Karena saya bawa bayi (baca: nisa), biasanya ada yang ngajak ngobrol. Pembicaraannya standar seperti asal dari mana, tinggal di mana, sudah berapa lama di Jepang, dll, kayak wawancara kerja. Hehe. Tapi, kali ini ada yang beda. Obaasan kali ini juga bercerita tentang dirinya. Usianya sudah 67 tahun, suaminya sudah lama meninggal, dan ia tinggal sendiri. Ada rasa kesepian dari suaranya. Tiap hari, ia pergi ke shimin senta (citizen center), ada onsen gratis. Lumayan bisa jalan-jalan sekaligus sosialisasi. Saya tanya, anak-anaknya kemana? Anak-anaknya sudah berkeluarga dan tinggal masing2, tidak ada yang mau tinggal bersamanya, alasannya apartemennya sempit. Duh, Obaasan…

Para manula tinggal sendiri di Jepang, biasa. Mereka tidak mau merepotkan anaknya, ada juga yang memang tidak punya anak, atau bahkan ada yang belum menikah (sampai manula). Biasanya mereka hidup bergantung dari gaji pensiun yang dibayarkan pemerintah tiap bulannya. Jika mereka meninggal dan tidak ada sanak saudara, maka pemerintah yang akan mengurusnya. Mandiri sih mandiri tapi kasian juga kan ya.😦

Kembali lagi ke obaasan. Namanya Tanikawa. Tanikawa Obaasan tinggal di apartemen milik pemerintah. Harga sewanya lebih murah. Saat akan turun, ia sempat menyuruh saya ikut turun, ayo main ke rumah saya, katanya. Sayang, saat itu saya sedang ada urusan, jadi dengan berat hati saya menolak ajakan Obaasan. Akhirnya saya diberitahu alamat rumahnya, supaya saya bisa main kapan saja, dan saya juga diberi gantungan kunci. Baik sekali.

Nasihat Obaasan pada saya: “Sehat-sehat ya. Buat anak yang banyak, ya!”

Hahahaha. Bisa aja nih Obaasan. Siap laksanakan deh!πŸ˜€

Begitulah. Kalau saya naik bis, ada saja pengalaman baru yang saya dapat. Saya berkesempatan melihat berbagai macam karakter. Melihat dan menilai dari sudut pandang saya, tapi tidak sampai men-judge, ya. Hanya melihat lebih dekat. Oya, supirnya juga ramah, selalu menyapa tiap penumpang yang naik dan turun. Saya jadi betah, Nisa juga sepertinya.πŸ™‚

Sekian dulu cerita saya. Nanti saya sambung lagi.

 

 

9 thoughts on “Melihat Lebih Dekat

  1. Itulah seninya naik kendaraan umum, lebih banyak pengalaman! Kalo di Jakarta, anak penderita keterbelakangan mental biasanya di ‘sembunyikan’ kecuali orang tuanya sudah cukup terbuka dan mau berusaha memberikan pendidikan dan pelatihan agar anak mandiri. Di Jepang ada bantuan pemerintah ya buat sekolah/pelatihan anak2 ini?

    1. iya, mbak, tp kalo di naik kendaraan umum di jakarta harus lebih hati2 ya, waspada jangan sampai bengong, hehehe.
      Pemerintah Jepang sangat concern sama warganya mbak, tak terkecuali para penderita down syndrome dan anak berkebutuhan khusus. semoga pemerintah Indonesia jg bisa seperti ini ya, jadi mereka tidak merasa di-anak tiri-kan.

  2. wow… berbeda banget ya untuk anak2 down syndrome itu.
    di sini memang sepertinya adalah aib besar kalau sampai memiliki keturunan seperti itu.

  3. Senangnya. Semoga di Bali ada bis yang bagus dan bisa menfasilitasi masyarakat banyak deh. Keren ya.
    Ibu saya dulu pegawai SLB bagian B/D jadi yang anak down syndrome gitu udah biasa saya liat (ajak main). Sayang, mungkin di daerah lain belum bagus sosialisasinya, jadi anak-anak ini kurang diperhatikan.

    1. salam kenal mama obito. iya, semoga semakin banyak fasilitas umum yg ramah buat anak2 down syndrome dan kebutuhan khusus lainnya. ^_^ pengen main2 ke Bali….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s