“Nyuuin” di Jepang

Nyuuin itu istilah bahasa Jepangnya dirawat di Rumah Sakit. Sewaktu di Indonesia, saya tidak pernah sakit berat sampai dirawat di RS. Alhamdulillah. Fisik saya termasuk kuat. Kalau sakit, paling hanya batuk, pilek, sakit kepala, sakit perut, dll, yang cukup dengan istirahat di rumah saja.

Saat akan melahirkan, baru saya merasakan dirawat di RS. Di Jepang pula! FYI, umumnya semua orang Jepang yang akan melahirkan harus dilakukan di RS atau klinik bersalin. Karena surat keterangan melahirkan yang dikeluarkan pihak RS/ klinik sangat diperlukan untuk pengurusan akte kelahiran bayi. Makanya kalau ada yang melahirkan di rumah dengan bantuan bidan misalnya atau melahirkan sendiri, tentu akan kesulitan ke depannya.

Sekitar dua tahun lalu, saya merasakan kontraksi luar biasa di perut. Sampai Rumah Sakit, saya divonis gawat janin (denyut jantung bayi lemah) sehingga harus operasi caesar. Ini pengalaman pertama saya masuk Rumah Sakit dan operasi besar di negeri orang. Tidak ada orangtua dan teman yang datang. Sepuluh hari di RS pun hanya suami saja yang setia bolak balik ke RS. ^_^

Pengalaman kedua menginap di RS Jepang adalah saat menunggui Nisa, anak saya. Bulan April kemarin, Nisa panas tinggi dan ada infeksi bakteri sampai harus dirawat 5 hari. Ini kali kedua Nisa diinfus. Yang pertama waktu baru lahir, karena BBLR (bayi lahir berat rendah), dan ada masalah waktu lahir, jadi Nisa terpaksa dirawat di inkubator dengan infus selama kurang lebih 3 hari. Selama itu saya belum bisa menggendongnya. Hanya bisa menatapnya dari luar kotak kaca. ASI pun saya perah.😦

1f3pro00000trpqc
credit

Eniwey, tata cara nyuuin di Jepang (menurut pengalaman saya). Pertama saat saya diberitahu akan dirawat, suster menjelaskan beberapa prosedur dan saya diajak jalan-jalan mengenal lingkungan RS. Di mana letak kamar mandi, toilet, ruang perawatan bayi, ruang menyusui, tempat laundry (bisa cuci baju loh di RS), dll. Ada beberapa formulir yang harus diisi, salah satunya adalah surat jaminan. Surat jaminan ini berisi data pasien dan pihak keluarga yang akan menjamin segala kebutuhan pasien (termasuk dana), selain pihak keluarga diperlukan 2 orang lagi orang yang bisa menjamin. Bisa teman pasien, bos di tempat kerja, dll, pokoknya yang ada hubungannya dengan si pasien. Diperlukan cap dari orang tersebut, kalau di Indonesia tanda tangan orang yang bersangkutan.

Pihak keluarga dilarang menginap di ruang pasien. Jadi pasien tidur sendiri, huhu. Eh, enggak tahu ya kalau kamar VIPπŸ™‚. Kalau pasien anak-anak, ibu atau ayahnya boleh ikut menemani.

Sehari-hari di RS, kami sudah diberi jadwal, hari ini ada pemeriksaan apa, besok ada apa, dsb. Semua tertulis dan diberitahukan ke pasien.

Saat taiin (keluar RS), akan ada pemeriksaan terakhir oleh dokter untuk memastikan kondisi pasien. Setelah dapat lampu hijau dari dokter, pihak administrasi RS akan mengurus pengeluaran kita.

Pembayaran, karena di sini wajib memiliki asuransi, jadi lebih ringan. Khusus pada kasus melahirkan, pemerintah memberikan bantuan sekitar kurang lebih 420.000 yen (+/- 45 juta rupiah) pada setiap wanita yang akan melahirkan di RS Jepang. Tak terkecuali orang asing. Semua dapat. Dana ini digelontorkan melalui pihak RS. Jadi, jika biayanya lebih dari itu, pasien hanya membayar sisanya saja (besarnya biaya setelah dikurangi bantuan pemerintah). Kalau tidak salah dulu saya hanya bayar 68.000 yen saja (sekitar 7 jutaan). Padahal operasi caesar plus rawat inap 10 hari. Alhamdulillah. Kalau asuransi dapat potongan sekitar 30% kalau tidak salah. Ini berlaku di semua RS di Jepang (swasta maupun pemerintah)

Pada kasus anak-anak, karena Nisa dicover asuransi dan di kota saya ada fasilitas kartu sehat gratis untuk anak-anak dari pemerintah, jadi biaya Nisa zero yen. Biaya perawatan dan obat gratis, tapi biaya makan selama di RS tetap harus bayar. ^_^ Jadilah saya hanya bayar 2.500 yen saja untuk biaya makannya. Alhamdulillah. Kalau sistem kartu sehat Jakarta gimana ya?

 

Banyak kemudahan yang saya dapat di sini. Saya bersyukur sekali. Walaupun harus merasakan sakit sendiri, jauh dari sanak keluarga, semoga bisa menjadikan kami lebih kuat. Aamin. Tapi, ya, walaupun dapat kemudahan seperti ini, yang namanya sakit itu tetap tidak enak. Setuju kan?

Dakara, genki de ne...

Makanya, sehat selalu ya.πŸ™‚

 

 

Untuk lampu bohlam #14: Sakit

8 thoughts on ““Nyuuin” di Jepang

  1. wah… sepertinya dah jelas banget ya kalau sakit di sana (amit2 sih kalau sampai sakit) mulai masuk sampai pulang ada apa saja dan gimana prosedurnya dah diberitahukan ya.

    1. iya, di sini semua transparan. Sampai pemberian obat pun, kami diberitahu secara tertulis obat-obat apa saja yg diberikan, komposisinya, dsb.πŸ™‚

  2. sugoii ne, nisamama… kalau di Indonesia dokter vpaling cuma kasih tahu sekilas, pasien bahkan nggak dikasih tahu obat itu apa aja dan apa fungsinya kalau nggak ditanya. Tunjangannya bikin envy ih….😦

    1. Kalo di sini, yg tugasnya memberi tahu ttg keterangan obat itu apoteker sih mb, klo dokter cm meresepkan saja, selebihnya tugas apoteker yg menyampaikan informasi ke pasien.πŸ™‚
      iya, tunjangannya banyak yah, tp pajak di sini jg tinggi sih. *eh, kami bayar pajak loh*πŸ˜›

  3. Tergantung dokternya juga kali ya mbak. Saya kemarin ke dokter, dijelaskan satu-satu fungsi obat yang diresepkan ke sayaπŸ™‚
    Btw, dua tempat yang ga pengin banget saya datangin, itu RS dan Penjara. Tapi kita tidak tahu bagaimana takdirNya. Semoga jadi penggugur dosa-dosa kita ketika harus sakit dan dirawat ya mbakπŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s