[BeraniCerita #01] : Rumah Warisan

“Rumah ini akan dijual dan hasilnya akan dibagi bertiga,” Joko membuka diskusi pagi itu.

“Mas jangan seenaknya memutuskan begitu dong! Saya nggak setuju!” Mardhi menimpali.

“Loh, Bapak Ibu udah nggak ada. Cuma ini cara satu-satunya yang paling adil untuk membagi warisan.”

“Eleeh, Mas bisa ngomong begitu karena Mas nggak ikut membantu merawat Bapak waktu sakit. Saya yang merawat Bapak! Saya yang menemani Bapak sampai Bapak nggak ada. Ini rumah saya, Mas!”

“Kamu juga jangan seenaknya. Ini rumah kita bertiga. Kalau hanya kamu yang mewarisi rumah ini, nggak adil itu namanya!!”

“Terserah!! Toh Mas dan Dik Wati sudah punya rumah masing-masing kan? Kenapa masih mau rumah ini juga? Saya yang tinggal di sini, Mas, merawat Ibu Bapak. Mas kemana waktu Bapak sakit? Apa Mas ada datang menjenguk? Apa Dik Wati yang belikan obat? Saya Mas!!!” Mardhi menepuk dadanya.

Wati yang sedari tadi diam saja semakin menundukkan kepalanya. Sedangkan Joko mulai berang.

“Kenapa jadi mengungkit-ungkit hal itu? Kamu kan tau sendiri, kami ada urusan masing-masing. Masalah itu dan ini berbeda. Bagaimana pun juga warisan tetap harus dibagi!!”

“Coba saja jual rumah ini. Nggak akan ada yang mau beli rumah tua seperti ini. Dan saya juga nggak akan biarkan rumah ini terjual!!”

“KAMUU………. aa…. a.. a,” tiba-tiba suara Joko tercekat. Pandangannya semakin samar.

 

***

“Pa… Papa yakin mau beli rumah ini?” Tina menggamit tangan suaminya. Dipandangnya rumah tua di hadapannya. Pekarangan yang tak terawat, cat tembok yang sudah megelupas, teras yang kotor dan berdebu.

“Kalau dibersihkan bisa bagus lagi kok,” suaminya menjawab sambil tersenyum. Dilihatnya papan yang tergantung di depan pagar, sambil tangannya sibuk memencet angka di handphone-nya.

[RUMAH DIJUAL. HUBUNGI WATI 081378463xxx]

“Halo, selamat siang. Saya berminat membeli rumah anda…”

 

***

Joko merasakan panas di perutnya. Perlahan-lahan tubuhnya lemas tak bertenaga, dan ia pun kesulitan bernapas. Pandangannya semakin samar. Ia pun jatuh tergolek di lantai bersimbah darah.

Mardhi menatap tak percaya pemandangan di hadapannya. Ia pun kehilangan kata-kata dan menatap nanar ke arah Wati.

Wati menggenggam pisau yang telah berlumuran darah dengan gemetar. Ia pun perlahan melangkah ke arah Mardhi sambilΒ  mengacungkan pisau. Mardhi mundur dan merasa terpojok. Ia tak percaya adiknya akan melakukan hal senekad itu.

Wati tersenyum melihat dua jenazah kakaknya. Sudah lama ia muak dengan kelakuan kedua kakaknya. Kini ia lah yang menguasai seluruh harta warisan…

 

credit
credit

***

jumlah kata: 377

BeraniCerita #01 : setting rumah tua

12 thoughts on “[BeraniCerita #01] : Rumah Warisan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s