Pergi ke dokter gigi

credit
credit

Saya dari dulu sampai segede gini baru 3 kali ke dokter gigi. Alasannya apalagi kalo bukan takut? Yang pertama waktu saya SD, ada periksa gigi gratis dari sekolah trus akhirnya dirujuk ke klinik gigi karena gigi saya ada yang goyang dan harus dicabut, mak… Setelah itu saya kapok ke dokter gigi.

Sampai saya mahasiswa ada gigi geraham saya yang bolong. Beberapa kali sakit tapi saya bandel nggak mau tambal, sampai akhirnya gigi yang bolong itu berada pada tahap mengkhawatirkan karena nggak pernah diobati akhirnya harus cabut. Huaaa…. Waktu itu karena masih mahasiswa, saya pergi ke fakultas kedokteran gigi yang menyediakan fasilitas klinik gigi dengan maksud biaya lebih murah karena ada kartu mahasiswa, hehe… Karena kliniknya ada di dalam kampus, jadinya dokter-dokternya ya mahasiswa situ. Duh, kebayang kan saya jadi kelinci percobaan mereka.

Dan bener aja, karena gigi saya itu emang udah tahap kritis, cabutnya susah. Mungkin harusnya operasi kecil kali ya, tapi ini enggak, saya cuma dibius trus gigi saya didongkrak haha… (nggak tau ding diapain). Saking alotnya, saya sampai ditangani 4 dokter co-ass selama satu jam lebih (pegel dah disuruh mangap terus). Tapi akhirnya berhasil dicabut kok, cuma ya jadi meninggalkan trauma mendalam, halah… (makanya rajin gosok gigi dong!). eh,πŸ˜€ Sejak itu nggak pernah lagi periksa gigi. Padahal saya tau kayaknya ada yang bolong lagi deh, soalnya suka sakit gigi..huhu.

Pengalaman yang ketiga agak beda, karena dilakukan di Jepang. Waktu itu saya lagi hamil dan udah di Jepang. Kontrol hamil di sini mengharuskan bumil periksa gigi. Kontrol gigi pertama cuma periksa aja apa ada masalah ato nggak. Yang ini gratis karena ada voucher dari pemerintah sebagai fasilitas yang didapat ibu hamil. Nah, kalo ada masalah, maka dianjurkan datang lagi untuk pengobatan. Yang ini baru berbayar nggak gratis lagi, hehe…

Sempat deg-degan, tapi ya sudahlah dibulatkan tekad. Tata cara pergi ke dokter gigi di Jepang: Pertama harus buat janji dulu. Di sini nggak bisa datang ujug-ujug periksa, harus ada janji. Bisa melalui telepon atau datang langsung. Setelah ada janji (ditentukan hari dan jam), baru deh bisa periksa.

Datang di pertemuan pertama, saya hanya periksa aja. Daaaan ternyata hasil pemeriksaan ditemukan 5 gigi bermasalah sodara-sodara!! Mantap kan?😦 Setelah itu ditanya apa mau diobati? Ya iyalah ya… secara udah terlanjur datang. Ternyata nggak bisa langsung diobati saat itu, harus bikin janji lagi. Ya ya ya….

Karena saya sedang hamil waktu itu, cabut gigi dilarang, karena pemakaian obat bius dan segala macamnya dilarang, jadilah gigi saya hanya tambal aja.

Di sini entah karena teknologinya udah canggih ato emang dokternya yang pinter, tiap saya periksa gigi nggak sakit! Ajaib kan. Mulut saya diobok-obok, dimasukin bor segala macem nggak terasa apa-apa. Cuma ada satu gigi saya yang udah bolong dalam sekali, pas dibersihin agak nyeri dikit. Oya, pas diperiksa, mata saya ditutup selembar kain. Mungkin biar nggak takut kali ya liat alat2 gigi yang serem itu. Saya bahkan sempet tidur loh…Β πŸ˜›

Untuk periksa 5 gigi itu, saya harus bolak balik 11 kali! Total 2 bulanan saya periksa gigi. Untung disini ada asuransi. FYI, asuransi kesehatan di Jepang itu udah mencakup semua, termasuk kesehatan gigi juga. Jadi tiap periksa ke RS/klinik/klinik gigi, pokoknya yang berhubungan sama kesehatan, tinggal nunjukin kartu asuransi, semua udah ter-link, biaya udah dipotong. Berlaku di semua instansi kesehatan di Jepang, nggak cuma milik pemerintah. Walopun ke dokter cuma periksa flu pilek doang, tetep aja berlaku asuransinya. Makanya, asuransi di Jepang itu sifatnya wajib. Membantu banget, karena kalo nggak punya kartu asuransi, siap2 menguras dompet dalam2. Untuk anak2, di kota tempat saya tinggal ada fasilitas kartu sehat gratis dari pemerintah daerah khusus untuk anak2 usia 0-16 tahun. Jadi tiap periksa, tinggal tunjukkin kartu asuransi anak (yg wajib punya), sama kartu sehat gratis itu tadi. Biayanya 0 yen alias nggak bayar!πŸ™‚ Termasuk imunisasi. Hebat ya. Tapi ini tergantung kebijakan masing2 daerah ya.

Balik lagi ke dokter gigi. Jadi begitulah. Sistem janjian sama dokter gigi di sini adalah kita dikasih jadwal hari dan jam periksa. Jadi ga pake sistem nomor urut kayak Indonesia, tapi jam. Misalnya saya janjian sama dokter gigi periksa hari senin tanggal sekian jam 10:45. Jadi saya hanya perlu datang jam 10:40, 5 menit menunggu trus jam 10:45 teng dipanggil masuk. Usahakan jangan sampai terlambat, karena kalau datang terlambat misalnya jam 11.00, bisa mengganggu antrian pasien lain. Bisa2 saya disuruh buat janji baru lagi. Masing2 pasien dijatah waktu periksanya sekitar 15-30 menit. Mungkin pada kasus tertentu ada yang lebih sekitar 45 – 1 jam, tapi jarang yang sampai 1 jam lebih untuk 1 pasien. Begitu tertibnya orang Jepang ini. Tapi ini yang bikin periksa gigi di sini makan waktu lama, sampai berbulan2 kayak saya, hehe. Yah, untuk nambal gigi 1 aja bisa bolak balik ke dokter gigi 3-4 kali.πŸ˜€ Bayangkan saya 5 gigi 11 kali ke dokter gigi dalam 2 bulan. *sigh*

Jangan tiru mama, ya Nisa sayang. Harus rajin2 gosok gigi abis makan dan sebelum tidur, ok honey.πŸ˜‰

6 thoughts on “Pergi ke dokter gigi

  1. wah sp 11 kali mbak? kl anak2 sy perawatan gigi paling di suruh 2x bolak-balik berturut selebihnya tiap 3 bulan sekali. Gak kebayang kl sp 11 kali. 2x bolak-balik aja ngelus dada sy liat lembaran yg melayang.. Hahaha.. Kayaknya punya asuransi emang harus nih..

    Tp berarti wajar ya kalo anak takut ke dokter gigi. Yg dewasa aja suka takut (termasuk sy). Makanya dokter gigi harus di bekali ilmu psikologi juga kayaknya biar gak takut pasiennya..

    1. iya mba, soalnya periksa gigi disini sebentar2 sih, saya sekali periksa paling cuma 15 menit. sekali periksa keluar duit (udh dipotong asuransi) sekitar 3000 yen (300rb Rp)… coba kalikan 11 kali, jatohnya sama aja kah kayak di indo?

  2. saya jg pernah kedapatan pasien yg tertidur mbak, hehehe… dan pernah juga kedapatan pasien yg mengeluh nyeri… semua ada, komplit… hihih… mgkn nggak sakit jg karena kariesnya belum sampe jaringan saraf mgknπŸ˜‰

    tapi iya drg Jepang lebiih canggih ya?πŸ˜‰

    1. hehe, eh, ada dokter gigi. salam kenal dok. ^_^ mungkin karena di jepang saya nggak sampe ngalamin cabut gigi ya, jadi nggak sakit sakit banget. kalo sampe dicabut mungkin sakitnya sama aja, hahaha.πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s