Cerita Hamil

Awal tahun baru ini saya mendapat kabar duka. Saudara ipar saya baru saja keguguran di usia kehamilan 7 minggu. Tanda-tandanya ia mengalami pendarahan yang tak kunjung berhenti sampai akhirnya keluar lah bakal janin itu.😦 Saya nggak bisa bayangin gimana sakitnya. Belum lagi sakit di hati karena sedih kehilangan calon bayi.😦

Saya nggak berani tanya lebih lanjut tentang apa penyebab kegugurannya. Tapi saya coba cari info soal pendarahan pada kehamilan, khususnya pada trimester pertama. Dari hasil pencarian saya, inilah yang bisa saya simpulkan:

Pendarahan bisa jadi normal, tapi bisa jadi tidak normal pada kehamilan trimester pertama. Pendarahan yang normal umumnya terjadi hanya berupa bercak-bercak sedikit. Hal ini terjadi karena implantasi embrio pada dinding rahim yang menyebabkan dinding rahim melepaskan sejumlah kecil darah, biasanya terjadi sekitar 7-9 minggu kehamilan dan berlangsung satu atau dua hari.

Ada juga yang terjadi pendarahan setelah melakukan aktivitas berlebihan, atau mengangkat beban berat, atau setelah melakukan hubungan seksual. Jika ini terjadi, disarankan ibu hamil mengurangi aktivitas, sampai pendarahan berhenti.

Tapi pada pendarahan yang tidak normal bisa menjadi indikasi keguguran. Pada indikasi keguguran ini biasanya pendarahan yang terjadi sangat banyak disertai rasa sakit seperti kram perut. Ada juga pendarahan yang terjadi akibat kehamilan ektopik (hamil di luar kandungan).

Pada intinya sih, kalo udah pendarahan baik yang normal atau tidak normal, lebih baik segera periksakan ke dokter kandungan, supaya hati tenang dan masalah bisa segera diobati.

Tahun lalu seorang teman saya juga mengalami keguguran. Tapi teman saya ini didiagnosa mengalami blighted ovum atau kehamilan kosong. Blighted ovum adalah suatu kehamilan tanpa dijumpai adanya pertumbuhan embrio. Jadi waktu di test pack hasilnya positif, di USG juga terlihat kantung kehamilan, hanya sayangnya janin tidak berkembang. Menurut mbah google, kehamilan kosong terjadi karena sel telur yang dibuahi tidak berhasil berkembang secara sempurna. Meski kantung kehamilan terus membesar, namun perkembangan janinnya sama sekali tidak terjadi. Sedih ya. Akhirnya teman saya terpaksa harus dikuret.😦

Ada lagi cerita teman saya yang keguguran. Waktu itu kami sama-sama lagi hamil. Tapi tiba-tiba saya dengar berita kalau teman saya ini keguguran. Penyebabnya saya nggak tau pasti, tapi katanya sih janin nggak berkembang atau apa ya saya lupa.

Meski mungkin penyebab keguguran kedua teman saya dan saudara saya di atas berbeda, tapi saya menyimpulkan ada satu persamaan mereka. Mereka bertiga sama-sama sibuk. Sibuk dalam arti sebenarnya. Saudara ipar saya adalah mahasiswa S2 yang sedang menyelesaikan tesisnya di luar negeri. Teman saya yang pertama baru saja diterima kerja. Teman saya yang satu lagi waktu itu masih menyelesaikan skripsi S1 nya yang udah lama tertunda.

Saya nggak tau apakah faktor banyak pikiran dan stres bisa menjadi faktor pemicu keguguran. Tapi dari cerita ketiganya, saya pikir mereka memang sedang banyak yang dipikirkan.Β  Entahlah.

image from here
image from here

Pengalaman saya dulu hamil Nisa. Saat test pack saya positif, saya langsung memberi tau suami yang waktu itu udah di Jepang, saya masih di tanah air. Apa reaksi pak suami? Kaget! Pastinya. Dan saya lebih kaget lagi waktu tau alasannya ternyata suami nggak merencanakan akan punya bayi dalam waktu dekat. Ia sebenarnya ingin menunda dulu karena ada banyak rencana lain yang ingin dilakukan. Reaksi orangtua dan mertua juga sama kagetnya karena mereka nggak menyangka akan secepat ini. Yah, dimaklumi sih. Tapi jauuuuhh di dalam hati, saya sedih sekali. Kenapa, seolah-olah janin ini nggak diharapkan kehadirannya.

Mungkin kalau saya terus sedih dan stres waktu itu entah apa yang terjadi pada janin saya. Tapi waktu itu saya berusaha menguatkan diri, makanya tiap hari saya usap-usap perut sambil bilang, “nggak papa nak, yang kuat ya, Mama seneng kok kamu datang, Mama bahagia, tenang aja sayang, Mama yang akan menyambutmu dengan gembira, makanya baik2 ya di perut Mama,” Itu saya ucapkan setiap hari. Padahal waktu itu saya masih naik motor bolak-balik imigrasi buat ngurus paspor sendiri. Kontrol hamil juga saya pergi sendiri naik motor. Saya berhenti naik motor waktu usia kandungan sekitar 9-10 minggu, karena saya udah mulai mual waktu itu.

Dua bulan saya mual muntah sampai berat badan saya turun 2 kilo. Waktu itu saya pasrah kalo sampai visa saya belum juga selesai dan usia kehamilan saya semakin besar dan saya nggak diperbolehkan naik pesawat untuk nyusul suami ke Jepang. Saya pasrah jika memang harus melahirkan di Indonesia tanpa didampingi suami, dan pasrah tinggal pisah dengan suami sampai menunggu bayi saya nanti siap diajak naik pesawat untuk nyusul ke Jepang. Waktu itu saya benar-benar pasrah dengan segala kemungkinan. Yang penting janin saya sehat.

Alhamdulillah Allah memudahkan dan melancarkan semuanya. Urusan visa selesai lebih cepat, dan usia kehamilan sudah memasuki trimester kedua yang menurut dokter sudah aman untuk terbang.

Belajar dari kehamilan saya yang pertama dan cerita-cerita keguguran teman saya, saya pikir hamil memang harus dipersiapkan, nggak boleh stres dan pusing pikiran nanti gimana-gimana.Β  Mungkin secara nggak sadar kita cemas memikirkan pekerjaan-pekerjaan yang belum selesai, rencana-rencana yang tertunda dan harus segera diselesaikan, dll sehingga secara nggak sadar kita lelah lahir batin. Yang tau kondisi kita ya kita sendiri. Ingat bahwa di dalam diri ada satu kehidupan kecil yang mungkin ikut merasakan dan menanggung beban lelah kita. Maka dari itu bahagiakanlah diri kita, otomatis kita juga ikut membahagiakan janin kecil di perut kita.

MaafΒ  jika ada kata-kata saya yang kurang berkenan, itu asli cuma menurut pendapat saya aja. Takdir Allah kadang memang sulit ditebak. Selalu bersyukur dan mengambil hikmah dari setiap kejadian, insyaAllah akan menjadikan kita pribadi yang lebih baik. Tetap semangat di tahun yang baru!πŸ™‚

5 thoughts on “Cerita Hamil

  1. Aku juga ngalamin keguguran di kehamilan kedua, mbak. Anehnya justru waktu udah gak kerja kantoran lagi, gak stres, cuma di rumah doang. Beda ama hamil Little Bee, yang kerja kantoran juga ngurus rumah (aku dan suami tinggal berdua), malah gak kenapa-napa. Kata dokter, memang dari ‘sononya’ krn embrio kurang bagus. Doakan kehamilan berikutnya sehat dan baik ya mbak!πŸ™‚

  2. Aku juga sempet keguguran tahun lalu pada saat usia kandunganku 8 1/2 bulan. Waktu itu aku sedang liburan ke pegunungan di malang hanya bersama suamikutetapi karena jalan yang berguncang – guncang tiba-tiba aku pendarahan hebat dengan si ikuti oleh kram perut yang sangat kuat. Suamiku langsung saja mencari klinik terdekat. Dan terpaksa janinku harus dikeluarkan dengan keadaan sdh meninggal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s