Surga di bawah telapak kaki ibu

Ungkapan judul di atas nggak berlebihan menurut saya. Saya yakin semua orang pasti menjunjung tinggi ibunya. Dan itu memang benar. Pengorbanan seorang ibu nggak akan bisa dibandingkan dengan apapun. Tapi bagaimana dengan seorang ibu yang membuang bayinya setelah dilahirkan? Masih pantaskah ungkapan itu diberikan untuk seorang ibu yang seperti itu? Itulah pertanyaan yang suatu hari diajukan salah seorang teman saya.

Hmm.. menurut saya, seperti apapun keadaan seorang ibu, baik ataupun jahat, tetap saja ibu sudah banyak berkorban. Sebagai seorang anak, kewajibannya adalah menghormatinya dan tidak menyakitinya. Pengorbanan seorang ibu tidak hanya terbatas pada saat melahirkan dan membesarkan saja, tapi juga selama mengandung 9 bulan loh.

image from here
image from here

Hei, siapa bilang hamil itu gampang? Tiga bulan pertama calon ibu akan mengalami perubahan yang luar biasa. Sistem mekanisme tubuh akan menyesuaikan dengan calon kehidupan baru dalam tubuhnya. Biasanya ini ditandai dengan mual-muntah. Ternyata istilah morning sickness itu hanya mitos, yang benar adalah all-day-long sickness. Itu yang saya alami dulu, saya mual setiap hari, dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Berkali-kali memuntahkan isi perut, isi lagi, muntahkan lagi, isi lagi, gitu seterusnya selama kurang lebih tiga bulan. Tiga bulan berikutnya saya sudah mulai bisa bernapas lega, tubuh saya sudah berdamai dan bisa berbagi kehidupan dengan si janin. Kemudian tiga bulan terakhir dengan perut yang semakin besar, bumil jadi gampang lelah, napas pendek, tidur nggak nyaman, dsb. Puncaknya adalah sakit luar biasa saat melahirkan. Ternyata nggak cukup sampai di situ, perjuangan menyusui setelah melahirkan juga terbilang berat.  Dan itu berlangsung sampai kurang lebih 2 tahun sampai anak disapih. Sungguh luar biasa kan pengorbanan seorang ibu?

Oke, kembali lagi ke ungkapan “surga di bawah telapak kaki ibu”. Seorang ibu yang membuang bayinya menurut saya masih layak mendapatkan penghargaan dari seorang anak. Karena paling nggak ia sudah berkorban selama 9 bulan dan berjuang melewati hidup dan matinya sendiri demi melahirkan anaknya. Masalah setelah itu ia enggan untuk merawat dan membesarkan bayinya, biarlah itu menjadi urusannya dengan Tuhan. Biar bagaimanapun ia sudah cukup menderita. Dan saya yakin keputusannya meninggalkan bayinya juga merupakan hal paling berat dan menyedihkan bagi seorang ibu. Saya tidak mau menjadi seorang yang terlalu sibuk men-judge orang lain jahat atau tidak padahal saya nggak berada di posisi orang tersebut. Masalah ada surga atau nggak di bawah telapak kakinya, itu urusan Tuhan. Kalau mau berbuat baik, ya berbuat baik aja, nggak perlu memusingkan ia orang yang seperti apa, dan mengharapkan imbalan surga. That’s my opinion…🙂

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun . Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Qs. Luqman : 14)

Happy Mother’s day!🙂

*repost

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s