Ini adalah prestasi terbesar saya

Dari awal saya berangkat ke negeri ini pun sebenarnya saya sudah mempersiapkan mental. Nggak punya bayangan akan seperti apa hidup di sini. Untungnya saya terbiasa nggak terlalu bergantung pada orang lain. Selama saya bisa mengerjakannya sendiri ya saya kerjakan. Enam tahun hidup merantau waktu kuliah, saya pikir akan sama aja keadaannya. Tapi, mungkin yang ini agak berbeda. Misinya lain. Sekarang hidup saya bukan untuk saya sendiri lagi, tapi untuk suami dan anak saya.

Awal kehidupan saya di sini, saya hamil besar. Saya banyak menangis karena rindu mama. Saya juga menangis karena cemas akan keadaan janin saya. Dan saya menangis karena sepi nggak ada teman berbagi.😦 Tapi tentu saja saya menangis saat siang hari, saat nggak ada siapa-siapa di rumah. Saya benar-benar merasa sendirian. Saya berjalan di dalam apato (sebutan untuk apartemen di jepang) dengan sangat hati-hati supaya nggak menimbulkan suara berisik yang bisa mengganggu penghuni bawah. Saya juga masih belum berani membuka pintu jika ada suara bel ato pintu diketuk. Apalagi keluar rumah sendirian, takut nyasar. Tetangga kanan kiri nggak tau dan nggak kenal. Bisa ditebak, saya sangat bergantung pada suami. Kami belanja bahan makanan pas weekend, untuk stok satu minggu, tapi kadang belum seminggu udah habis, entah itu sayurnya, ikan, ato minyak. Akhirnya suami kadang bela-belain pergi belanja malam-malam pulang kerja. Kontrol hamil dilakukan di RS saat weekdays, dan saat office hours. Sabtu minggu nggak bisa, RS libur kecuali UGD. Otomatis suami harus ijin nggak masuk kerja setengah hari. Sesekali mungkin nggak papa, tapi kalau harus ijin terus ya nggak enak juga.

Saya mikir nggak bisa terus-terusan gini. This is not me. Ibu hamil harus banyak aktivitas, ibu hamil harus banyak jalan, ibu hamil nggak boleh sedih. Akhirnya saya beranikan diri keluar rumah, belanja sendiri di supermarket terdekat. Dibilang dekat nggak juga sih, harus jalan kaki sekitar 15-20 menit. Lumayan lah buat olahraga bumil. Untung saya bisa bahasa Jepang walau nggak lancar. Kontrol hamil saya berusaha pergi sendiri tanpa suami, naik bis sekitar 20 menit, ato naik kereta 5 menit plus jalan kaki 10 menit. Yang mana aja bisa. Sampai di RS juga saya lumayan paham apa yang dikatakan dokter. Ternyata saya bisa kok melakukannya sendiri.

Akhirnya di akhir usia kehamilan saya, dengan segala perubahan hormon yang terjadi pada ibu hamil pada umumnya, saya berusaha menekan perasaan itu sebisa mungkin. Supaya kelihatan kuat dan nggak cengeng. Demi anak saya yang masih di perut, demi orangtua saya yang tinggal jauuuuuhh, dan yang terpenting demi suami. Saat saya akan melahirkan dan divonis caesar pun saya berusaha kuat, nggak ada orangtua ato teman yang menemani dan memberi semangat. Nggak ada yang bisa diandalkan selain mengandalkan diri sendiri dan Sang Pemilik Hidup. Sepuluh hari di RS, belajar bagaimana mengurus bayi, dll.

Soal masak. Sadar bahwa kami tinggal di negeri yang cukup sulit mendapatkan makanan halal, mau nggak mau ya harus masak sendiri. Saya yang waktu gadis dulu nggak pernah masak, bahkan waktu jadi anak kos sekalipun, terpaksa harus bisa masak di sini. Segala bahan makanan dan bumbu dapur yang terbatas harus bisa diolah jadi makanan yang bisa dimakan. Beruntung suami mau ikut membantu.

my little family (April 2012)

Mengurus bayi tanpa tutorial, semua otodidak. Menyusui dengan komitmen ASI eksklusif 6 bulan dan lanjut hingga 2 tahun. Semuanya bukan tanpa hambatan. Nisa seperti layaknya bayi-bayi lain, juga sering menangis, pernah beberapa kali nursing strike (nggak mau menyusu) dan bingung puting (karena terbiasa dot). Tetapi Alhamdulillah komitmen saya tetap teguh, Nisa lulus ASI eksklusif 6 bulan. Perjuangan nggak berhenti sampai di situ, Nisa mulai makan. Tugas saya bertambah, memasak makanan buat Nisa. Setiap pagi saya memasak untuk Nisa (menu untuk 1 hari), bekal makan siang buat suami, dan untuk saya sendiri, kadang membuat cemilan kue-kue untuk Nisa ato papanya. Saya pergi hanya berdua Nisa untuk imunisasi, kontrol rutin per bulan, ato pergi belanja bahan makanan. It was fun.πŸ™‚

Soal sosialisasi. Nisa kecil selalu takut ketemu orang baru, selalu nangis. Yah, maklum sejak dari lahir cuma nguplek sama emaknya, gimana nggak nempel? Kadang ada yang menyalahkan karena terlalu sering digendong jadi manja, karena masih nenen nggak dikasih susu formula jadi nempel terus sama mamanya nggak mau lepas. Lelah, jika harus menanggapi komentar-komentar kayak gitu. Sadar di sini bukan seperti Indonesia, yang kalo keluar rumah bisa langsung ketemu tetangga, ato orang-orang yang nongkrong di luar, di sini Jepang mak… Nggak ada orang-orang berkumpul kecuali memang pada tempatnya seperti taman, ato tempat bermain. Dan kami orang asing di sini, kebanyakan orang Jepang enggan menyapa orang asing mungkin karena mereka nggak bisa bahasa Inggris ato memang nggak ingin berurusan dengan kami (entahlah). Tapi, jika kita yang nyapa duluan dengan bahasa Jepang, mereka bisa ramah (mungkin karena lega mengetahui kita bisa bahasa mereka). :p Akhirnya sebulan sekali ato dua kali saya usahakan bawa Nisa ke tempat bermain para bayi (akachan hiroba dan haitachi hiroba). Di sini berkumpul para bayi dan orangtuanya, bermain dan bersosialisasi. Dan tiap weekend kami selalu main ke taman. Alhamdulillah sekarang Nisa sudah lebih ramah kalo ketemu orang baru, minimal nggak nangis, hehe.πŸ˜€

Saya yang awalnya nggak bisa masak dan nggak pernah masak, sekarang Alhamdulillah bisa jadi koki keluarga dan bisa menyumbangkan masakan kalo ada acara kumpul orang-orang Indonesia. Saya yang dulu takut kemana-mana sendiri, sekarang Alhamdulillah selama saya bisa pergi sendiri, saya nggak takut lagi. Saya nggak punya adik dan nggak pernah urus bayi, tapi ternyata saya bisa mengurus Nisa dari mulai lahir sampai sekarang, tanpa bantuan orangtua ato asisten rumah tangga.Β  Mungkin terdengar biasa, tapi ini sudah merupakan prestasi luar biasa bagi saya. Memang saat nggak ada siapapun yang bisa diandalkan, maka saya hanya bisa mengandalkan diri sendiri. And I did it!

Saya sadar sepenuhnya, masih banyak para mama yang lebih hebat dari saya. Ada yang hidup di luar negeri sambil mengurus bayi dan bekerja, ada juga yang sambil sekolah. Jika dibandingkan dengan mereka, saya bukan apa-apa. Tapi, saya yakin setiap Ibu punya perjuangannya masing-masing. Every mother has her own battle. Saya nggak mau mengecilkan apapun pekerjaan Ibu, karena menjadi seorang Ibu saja sudah luar biasa. Saya hanya ingin menjadi yang terbaik untuk keluarga dan anak-anak saya. Saya ingin Nisa mengenal saya kelak sebagai ibu yang hebat di matanya. This is it…πŸ˜€

Tulisan ini diikutsertakan padaΒ Lovely Little Garden’s First Give Away

18 thoughts on “Ini adalah prestasi terbesar saya

  1. Mama Nisa… Pengalaman di tempat baru yg asing dan jauh dr keluarga dengan kondisi kehamilan, tentu saja tidak mudah. Tapi berhasil menaklukkan diri sendiri, itulah hero yang muncul dalam diri.

    Terimakasih atas tulisan yang inspiratif. Tercatat sebagai peserta Lovely Little Garden’s First Give Away.

    1. makasih kembali bunda lahfy… saat kita menang melawan ketakukan yang ada dalam diri rasanya memang luar biasa… semoga saya bisa jadi Mama Nisa yang hebat di mata Nisa… ^^

  2. Salut mbak! Kebayang deh gimana sulitnya disana, hamil besar, melahirkan, sendirian lagi.

    “Yes, every mother has her own battle.
    Menjadi ibu saja sudah luar biasa.”

    Aku suka kata-kata ini! ^___^

    I wish u luck for the contest!

  3. Semangatt Mama NisaπŸ™‚

    Salam Kenal Ya,
    Wah kebayang yah rasanya tinggal di negeri orang, jauh dari keluarga. Bisa ngerasain juga apa yang Mb rasain, maklumlah sesama jauh dari keluarga, sama2 ikut suami, sama2 ngurus anak sendirian, sama2 baru ngerasain gimana susahnya beradaptasi di lingkungan yang baru, sama2 dulunya ga bisa masak..heheh. Bedanya aku masih di seputar Indonesia juga kok Mb, cuman pindahnya ke pelosok desa, jauh dari kota, mungkin kalau di Jepang sana masih ramai yah Mbak, kalau ditempet aku sepiiiii. Awalnya dulu juga musti beradaptasi dengan keras, sekarang malah udh jatuh cinta, ga pengen kemana2 lagiπŸ˜€

    1. salam kenal juga bunda Arien…. senangnya bisa berbagi cerita yg sama ya mba.. jd berasa ada temennya nggak sendirian lagi deh…πŸ˜€ semangat buat bunda Arien! Salam kenal buat Arien cantik, cup cup muah dari Nisa chan… :-*

  4. saya punya temen yang kisahnya hampir sama.. selesai kuliah, menikah dan diboyong ke Tokyo selama 10 th (sekarang dia sudah kembali ke Ina)
    saya tau dulu dia ga bisa masak.. tapi waktu ketemu dan bawain saya bento.. ternyata bento-nya oishi desu.. hehehe *apa karena saya udh lama ga makan masakan Ina ya? hehe*

    saya kagum dengan perjuangan para ibu yg tinggal jauh dr rumah tercinta.. bagaimanapun perjuangannya lebih berat, semua serba sendiri ..tapi tetap saja bisa diatasi dan kita kembali ke tanah air dengan individu yg lebih kuat

    gambatte ya..

  5. Nisa pasti akan sangat bangga akan perjuangan dan kegigihan mamanya….
    setiap kita pasti punya nilai prima, you are the hero mba, Nisa dan papanya pasti bangga having you with them. sukses untuk kontesnya ya mba… salam kenal.

  6. Saya sangat paham dengan kerepotan seorang ibu untuk mengurus rumah tangga, saya bisa merasakan sendiri ketika 3 hari ditinggal keluar kota, sementara saya dengan si kecil berdua dirumah, sungguh luar biasa seorang wanita, seperti punya energi yang lebih dibanding suami, berangkat dari pengalaman itu, rasanya tersadar betapa beratnya mejalankan tugas sebagai istri.

    ceritanya bagus, inspiratif semoga sukses dengan GA-nya..
    kunjungan perdana… salam kenal…

    1. makasih kunjungannya, Pak Insan… salam kenal.. ^^ suami atau istri punya tanggung jawab masing2, semua sama2 berat tapi insyaAllah jika dijalani dengan ikhlas semua terasa ringan… semoga nggak saling iri ya antara suami ato istri, sama2 saling menghargai aja…πŸ˜€

  7. huaaaaaaaaaaaaa…!!! Mak, dirimu keren!!!

    “Every mother has her own battle.” ~indeed huh? T___T peluk cium buat Nisa.. juga buat mamanyaπŸ˜€

  8. huaaaaa ga kebayang pindahan negara pas lagi hamil!
    aku ga pede bikin tulisan2 kayak gini, mak. yang tentang anak, atau curhat. kecuali untuk ikutan GA. BhahahhahahπŸ˜€

    1. hehe. iya, naik pesawat pas hamil 4 bulan! 8 jam pula!! tp dengan seijin dokter kandungan pastinya. kenapa ga pede, Emak? Ayoo tulis! kalo gitu aku ngadain GA. hihihi.πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s